Tampilkan postingan dengan label TRAVELLING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRAVELLING. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juni 2018

Menikmati Taman Wisata Air Cimalati Sukabumi

     Saat ini saya sedang melakukan kegiatan on the job training pada sebuah perusahaan multinasional. Training pertama dilakukan di Sukabumi Jawa Barat. Saya tidak pernah mengunjungi Sukabumi sebelumnya,  jadi untuk referensi tempat wisata yang dekat lokasi training harus tanya sana-sini dan mencari review via google maps. Tempat training pertama berlokasi di Kecamatan Parungkuda, nah salah satu tempat yang sering dikunjungi oleh masyarakat lokal disini adalah Taman Wisata Air Cimalati.

Suasana di kolam renang utama
Akses menuju tempat ini cukup mudah, jika dari arah Parungkuda menggunakan angkot berwarna ungu dan berhenti di pertigaan setelah pasar Cicurug. Nah, untuk perjalanan selanjutnya bisa menggunakan ojek langsung ke lokasi.
Kebetulan, kalau saya naik angkot ndase mumet jadi saya memutuskan untuk pesan Grab car meskipun agak susah. Tapi alhamdulillah ada yang nyangkut hiji.
Namanya juga tempat wisata di akhir pekan ya rame banget, plus harga tiket melonjak cukup tinggi. Tapi tenang saja, masih terjangkau kok.  Untuk ukuran wisata air, Cimalati tergolong kecil hanya ada kolam besar dan kolam untuk anak-anak.
Wisata air Cimalati ini sudah ada sejak zaman baheula. Jadi kolam ini sudah menjadi legenda bagi masyarakat sekitar.
Menikmati suasana di pinggir kolam
Yang paling saya suka adalah air disini sangat segar dan tidak terlalu bau kaporit. Meskipun udara panas tetap airnya menyejukkan. Saya sangat betah berenang lama-lama.
Selain berenang, kulineran adalah hal yang wajib dilakukan. selama di Cimalati saya mencoba menikmati makanan yang ada di sekitar kolam salah satunya Siomay Bandung, rasanya mantap dan harganya murmer.
Fasilitas disini juga terbilang cukup lengkap seperti lapangan untuk area kumpul keluarga, gazebo, toilet dan mushola meskipun kondisinya tidak terlalu luas tetapi sesuailah dengan harga tiket.
Tempat ini sangat cocok dikunjungi kapanpun jika ingin lebih menikmati suasana datanglah saat weekdays karena suasana lebih sepi, atau jika ingin suasana ramai bisa saat weekend seperti yang saya lakukan. Kita bisa bawa bekal dan berkumpul bersama keluarga di bawah pohon-pohon besar sambil menikmati makanan dengan alunan musik dari pihak pengelola.

Note:
Angkot : Rp.4000
Tiket masuk : Rp. 25.000
Harga Siomay Bandung : Rp.15.000
Toilet : Rp.2000


Kamis, 01 Februari 2018

Balek Kampung

                Selama hampir delapan tahun tinggal di Jogja, baru kali ini pulang kampung bukan pada saat bulan puasa/lebaran. Bukan tanpa sebab, beberapa waktu lalu aku baru kehilangan dompet. Barang penting seperti KTP dan ATM enyah, walhasil harus pulang untuk ngurus ulang. Kalau ngurus ATM mah tinggal datang ke bank bersankutan dan dalam waktu kurang dari 30 menit sudah jadi, lah kalau KTP bisa berbulan-bulan. Sebenarnya kalau sudah pernah rekaman e-KTP kita tidak perlu repot-repot pulang karena data kita sudah tersimpan di database, tapi aku pikir sekalian buat SIM juga + liburan akhir tahun.

            Pesawat yang aku tumpangi baru saja landing di Bandara Internasional SSK II, Pekanbaru. Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Suasana terminal kedatangan belum begitu ramai, dan kabar baiknya cuaca hari ini cerah, langit biru.
Biasanya kalau sudah di bandara, aku minta jemput, tapi kali ini sengaja tidak mengabari kakak  untuk njemput langsung ke bandara, alasannya karena aku ingin mencoba hal lain yaitu dengan naik Trans Metro Pekanbaru (TMP) untuk pertama kalinya. Agak bingung pas pertama kali naik busnya, karena tak ada shelter di sekitar bandara, sempat pesan Go-car tapi ternyata abangnya gak bisa kalau ngebid di area bandara, akhirnya aku hanya mengikuti orang yang mau naik trans.
Suasana di dalam Trans Metro Pekanbaru
FYI:
“TMP akan berhenti di depan pintu kedatangan. Sabar aja, nanti pas datang langsung deh naik. Nanya-nanya rute nanti sama kondektur di dalam bus, dan biaya naik TMP sangat terjangkau yaitu Rp. 4000, sangat hemat sekali dibanding taksi,  ya iyalah....”
Tujuan saya adalah Jl. Harapan Raya (TMP Bandara, Turun di RS awal bross, ganti bus no 001). Dari Jl. Harapan Raya, aku masih harus menempuh perjalanan sekitar empat Jam lagi untuk sampai rumah dengan menggunakan travel, biaya sekitar 50.000 (berhenti di Pasar Ukui).
Ditengah perjalanan menggunakan TMP, tiba-tiba kakak ku telfon bahwa beliau bersama keluarganya sudah berada di Bandara, menunggu, weleh... akhirnya aku putuskan turun di RS. Awal bross dan nunggu dijemput. Setelah sekitar 15 menit menunggu, tampak mobil hitam dari kejauhan datang menghampiri. Alhamdulillah, meski jam belum menunjukkan pukul 10.00 WIB tapi masya Allah panasnya sudah kerasa.
Karena tidak berencana mampir, akhirnya aku dibawa muter-muter dulu sambil cari makan siang. Rencananya sih mau makan di Pondok Ikan Asin, tapi belum beruntung dan akhirnya berakhir di RM. Padang.
“perut kenyang hati pun senang”
Tepat pukul 11.00 WIB saya meluncur dari Pekanbaru menuju kampung halaman.
Dulu, aku ini tipe orang yang mabokan (mabok darat), paling gak suka kalau naik mobil, apalagi kalau ada wangi-wangiannya, jadi kalau mau naik mobil harus wangi natural.  Waktu pun berlalu, akhirnya aku sembuh total. Hahaha
Selama perjalanan, aku amati banyak sekali yang berubah. Wajah Kabupaten yang beberapa waktu lalu baru merayakan ulang tahun yang ke 17 ini semakin meningkat. Suasana kota semakin ramai pun dalam hal infrastruktur semakin baik, tapi masalah listrik masih byar pet...
Perkebunan sawit mendominasi view selama perjalanan, hijau, tapi tidak menyegarkan. Suasana mobil travel alhamdulillah longgar, tapi tidak nyaman, karena ada bapak-bapak merokok. Akhirnya aku buka jendela dan membiarkan rambut ini berkibar diterpa angin, tidak menyegarkan juga, karena kendaraan-kendaraan besar bersliweran dan menimbulkan aftertaste yang gak enak.
Setelah berkendara hampir empat jam, mobil yang aku tumpangi sampai di Pasar Ukui, dulu aku sering sekali pergi ke pasar bersama Ibu. Mobil berhenti tepat di depan Toko H. Iskandar, toko langganan bapak.
Dari kejauhan tampak ponakanku melambai-lambai, ya mereka sedang menunggu Om nya pulang.


Sabtu, 18 November 2017

Menyusuri Goa Pindul dan Kali Oyo Gunung Kidul Yogyakarta

     Melancong kali ini ditemani oleh sahabat saya, Fauzi. Beliau ini adalah teman ngampus, ngontel, dan juga teman nglantur. Sudah setahun lebih kami tidak bertemu, karena beliau bekerja di Palembang. Setelah kontak-kontakan menentukan tempat wisata, akhirnya nama Goa Pindul terpilih dari beberapa macam opsi. Ini kali kedua aku ke Goa Pindul, setelah sebelumnya diajak mendampingi siswa outbond di Tahun 2016. Meski ini perjalanan yang kedua tapi tetap saja belum hafal jalan, karena dulu pakai bus dan keasyikan tidur. Alhasil kita sangat mengandalkan google map untuk sampai ke tempat tujuan.
      Selama perjalanan menuju Goa Pindul akan banyak sekali jasa yang menawarkan susur goa pindul, terutama setelah gerbang Gunung Kidul/Bukit Bintang. Saran saya adalah anda langsung ke lokasi saja, karena disana ada beberapa jasa yang menawarkan wisata caving dan lebih jelas. Jangan takut tersesat karena google map sudah sesuai. 
Setelah berkendara hampir 2 jam, dimana bokong rasanya sudah panas. Sampailah kita di Goa Pindul. Goa ini tergolong unik karena dibawahnya mengalir sungai yang jernih dengan kedalaman bervariasi.

Bersiap masuk ke Goa Pindul

Main ke Goa Pindul emang gak ada bosennya, selama masuk goa pengunjung akan dipandu oleh guide yang berpengalaman, para guide ini juga menjelaskan kondisi dan sejarah goa, selama di dalam goa pengunjung dimanjakan dengan stalaktit yang menggantung indah. Goa terbagi atas zona gelap dan zona terang, pada zona gelap suasana memang benar-benar gelap sehingga harus menggunakan senter. Oh iya sempatkan juga untuk menyentuh batu keperkasaan konon katanya bagi laki-laki yang menyentuh batu tersebut akan jadi lebih perkasa, tapi itu hanya mitos ya.
Nah ketika sudah sampai zona terang, dimana ada cahaya surga yang langsung memancar ke bawah, indah sekali. Di zona ini pengunjung bisa berenang dan bebas dan bisa jumping dari atas batu., karena terlalu asyik gambar di dalam goa blur semua, di zona ini pengunjung diberi waktu sekitar 15 menit untuk berenang.
Susur goa pindul berlangsung 45-60 menit.

Mobil Pajero : Panas Njobo Njero
Petualangan pun berlanjut ke Kali Oyo. Ini pengalaman pertamaku. Perjalanan dari Goa Pindul menuju Kali Oyo memakan waktu sekitar 10 menit dengan menggunakan mobil Pajero. Suasana semakin seru karena saat itu hujan mengguyur begitu deras, dan ternyata kalau hujan lebih seru dan puas.

Suasana di atas mobil Pajero. Kami bersama salah satu rombongan dari Tangerang a.k.a ibu-ibu hits
Ternyata mobil yang kami tumpangi tidak langsung berhenti di bibir sungai, aku dan rombongan harus berjalan sekitar 200 meter lagi dengan trek bebatuan dan jalan setapak yang cukup licin, harus berhati-hati agar tidak terpeleset.

Baru turun dari mobil

Perjalanan menuju Kali Oyo
Kondisi hujan membuat trek yang kami lalui cukup berbahaya, akibatnya ada seorang ibu-ibu yang terpeleset di bebatuan, tapi alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Setelah berjalan sekitar 10 menit sampai juga di garis start, susur sungai  menempuh jarak sepanjang 1.3 Km dengan pemandangan bebatuan yang sangat indah. Kedalaman sungai juga cukup bervariasi dari mulai dangkal hingga sangat dalam. Meskipun terlihat asyik tapi harus tetap nurut sama pemandu ya, demi keselamatan. 

I am so excited


Berasa lagi gak punya beban

Kali Oyo yang tenang

Enjoy


Yang lebih kerennya lagi ada air terjunnya juga
Keterangan:
- Total Biaya Rp. 130k include susur Goa Pindul, Kali Oyo, dan Makan.

Sensasi berenang di kolam renang tertinggi se Jogja

     Indoluxe hotel Yogyakarta menawarkan sensasi berenang yang tak biasa. Berenang diatas ketinggian Lt.19 menyuguhkan pemandangan Kota Jogja yang istimewa, selain itu, kegagahan Merapi dan Merbabu sangat jelas terlihat dan tentunya semakin memanjakan mata pengunjung. Hotel yang berdiri di Jl. Palagan ini  terlihat sangat mencolok karena bangunan hotel yang cukup tinggi untuk ukuran Kota Jogja. Pernah ada rencana datang ke hotel tersebut hanya sekedar untuk berenang namun belum kesampean juga, karena jarak yang lumayan jauh. Nah, beberapa hari lalu saya dapat tawaran untuk mengikuti kegiatan dari Kemenpora sebagai delegasi organisasi kepemudaan yang kebetulan bertempat di Indoluxe. Tanpa berpikir panjang langsung saya sambut tawaran tersebut, selain memang untuk menambah wawasan dan jejaring, kolam renang indoluxe sudah ada di pikiran saya. Hehe. 
      
Pemandangan dari jendela kamar
     Saya menginap selama 2 hari 2 malam. Kegiatan di hari pertama sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk berenang, ketika ada waktu luang saya gunakan untuk istirahat. Akhirnya di hari terakhir kegiatan ada kesempatan untuk berenang, tepatnya 5 jam sebelum check out dari hotel. Saya keluar kamar pukul 06.00 dan langsung menuju lantai 19. Bagi tamu hotel dan umum, pelayanan renang dimulai pada pukul 06.00 sampai pukul 21.00 dengan melakukan konfirmasi terlebih dahulu di meja layanan. Meskipun layanan dibuka pukul 06.00 kita tidak bisa langsung berenang karena petugas masih harus membersihkan kolam, sekitar 40 menit menunggu baru pengunjung diperbolehkan untuk mulai berenang. Alhasil saya mulai berenang pukul 06.45.


      
Santai Sejenak. FYI, sebelum renang harus melakukan pemanasan terlebih dahulu ya, agar tidak terjadi cedera otot/kram.
Ukuran kolam renang cukup besar, lumayan capek buat renang dari ujung ke ujung. Kedalaman kolam juga tidak terlalu dalam hanya 1.3 m sehingga bagi yang gak bisa berenang nggak usah khawatir, karena tidak akan tenggelam. Yang mau gaya-gayaan juga bisa, hehe. Selain kolam untuk orang dewasa disediakan juga kolam untuk anak-anak, jadi recomended kalau bawa anak-anak untuk liburan. 
Pemandangan langsung menghadap Gunung Merbabu

Rooftop situation
Jadi, yakin ga tertarik untuk berenang di kolam renang tertinggi se-Jogja?



Ziarah ke Gunungpring Magelang

     Ketika berbicara wisata di Kabupaten Magelang, bisa dipastikan langsung tertuju pada keagungan candi Borobudur. Tidak dipungkiri bangunan yang termasuk world seven wonder tersebut merupakan magnet bagi wisatawan domestik maupun internasional untuk datang ke Magelang. Aku sendiri sudah beberapa kali mengunjunginya. Postingan kali ini akan membawa pembaca semua pada-sisi lain dari Kabupaten Magelang yang bisa dikunjungi yaitu wisata religi ke Gunungpring.
    Nama Gunungpring sendiri sudah tak asing lagi bagiku, karena ada teman satu asrama yang hampir setiap Jum'at menyempatkan untuk ziarah ke tempat tersebut. Pada beberapa kesempatan, aku pernah ditawari untuk untuk ziarah tapi tidak bisa karena waktunya malam.
Siang itu sekitar pertengahan Oktober, aku, kakak perumpuanku, dan suami kakak ku berniat mengantarkan adik ku untuk mondok di sebuah Pesantren Tahfidz di Magelang. Perjalanan dimulai dari Bantul, Yogyakarta. Setelah berkendara kurang lebih 90 menit kami sampai disebuah tempat yang cukup ramai, aku kira kita sudah sampai di Pondok Pesantren yang dituju, namun ternyata mobil berhenti di sebuah area makam di bukit Gunungpring Kecamatan Muntilan. 

Area parkir

Karena ini baru pertama kesini, bayanganku adalah komplek makam di bukit Gunungpring tidak sebesar dan seramai ini. Di hari-hari biasa saja sudah ramai apalagi ketika tanggal 1 Muharram, dimana diperingati haul Kyai Raden Santri, akan sangat ramai sekali suasananya. Sekilas tentang beliau, Kyai Raden Santri merupakan bangsawan dari Kraton Yogyakarta, beliau memilih untuk meninggalkan kraton dan mengabdikan dirinya untuk menyebarkan agama Islam. Nama Kyai Raden Santri sendiri merupakan nama samaran, nama asli beliau adalah Pangeran Singosari.


Tangga menuju area makam
Sebelum sampai di lokasi makam, pengunjung harus melewati ratusan anak tangga terlebih dahulu. Sepanjang tangga menuju ke makam berjejer pedagang yang menjajakan berbagai macam barang dagangan mulai dari makanan, buah-buahan, hingga souvenir. 
Menaiki anak tangga ini mengingatkan saya akan komplek makam raja Mataram di Imogiri Yogyakarta, sebelum mencapai lokasi makam utama pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga. Setelah ditelusuri ternyata komplek makam Kyai Raden Santri yang terletak di Bukit Gunungpring merupakan komplek makam keluarga Kraton Yogyakarta Hadiningrat.

Salah satu sudut yang menawarkan kerajinan tas jinjing dan batik. Keberadaan tempat ini menjadi sumber ekonomi dan berkah bagi masyarakat dan pedagang.
Di depan toko buah


Setelah menaiki tangga sekitar 15 menit, akhirnya kami sampai di area utama makam. selanjutnya pengunjung harus menaiki tangga menuju ruang utama yang dibagi atas masjid, area istirahat, dan makam utama. 

Lokasi makam utama, pada saat aku kesini belum terlalu ramai.

Sorosilah Kyai Raden Santri

Para peziarah

Ziarah sendiri memiliki fungsi agar kita selalu ingat mati, maknanya adalah tidak ada sesuatu yang kekal di dunia. Harapannya setelah mengingat mati kita lebih bisa memanfaatkan waktu yang sebentar ini untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Setelah dirasa cukup akhirnya perjalanan pun dilanjutkan. Semoga ada kesempatan untuk bisa kembali berziarah.

Kamis, 14 September 2017

Makan siang di Kampung Mataraman Jogja

      Setelah sukses dengan Kampung Dolanan, kini pemerintah Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul sedang mengembangkan Kampung Mataraman. Tema yang diusung adalah kebudayaan Jawa tempo dulu, atmosfer kebudayaan Jawa sangat terasa kala kendaraan yang saya naiki masuk ke area ini. Angin semilir dan musik langgam Jawa adalah harmoni terbaik di siang yang cukup terik ini. 

Setelah berkendara hampir sepuluh menit, Gojek yang saya tumpangi sampai di mulut gerbang Kampung Mataraman. Berlokasi di Jalan Ringroad selatan (Perempatan Ringroad  dan Jalan Paris, dari arah utara ambil kanan sekitar 100 m, setelah dealer daihatsu baliho selamat datang terpampang nyata) menjadikan area wisata ini sangat mudah dijangkau.

Tujuan saya ke Kampung Mataraman adalah untuk makan siang. Saya penasaran dengan menu yang dihidangkan karena menawarkan makanan tradisional seperti garang asem, mangut lele, sego wiwit dsb, tak lupa juga minuman tradisionalnya ada wedang jakencruk, wedang uwuh, dan bir mataraman. Siang ini saya makan nasi sayur oseng tempe, oseng genjer, sambal, bandeng presto, dan minumnya wedang jakencruk alias perpaduan jahe, kencur, dan jeruk, untuk makanan-makanan tersebut saya hanya dikenai Rp. 19.500, murah bukan?
Selamat Datang di Kampung Mataraman
Menu makanan yang dihidangkan

Tempat makananannya juga unik. Nasi dihidangkan hangat diatas kukusan yang masih ngebul, sedangkan lauk pauk dalam wadah daun. Nah tidak kalah unik juga, para pramusaji disini mengenakan pakaian peranakan Jawa lengkap dengan blangkonnya.

Setelah mengambil makanan, saya memilih tempat di teras joglo yang menghadap langsung ke persawahan. Banyak pilihannya, bisa dibawah pohon atau dibawah lampu-lampu hias.

Menikmati makan siang dibawah pohon, menghadap sawah, diiringi musik dan angin semilir.

Setelah puas makan, saya memutuskan untuk keliling-keliling. Area ini masih dalam tahap pengembangan, sehingga belum begitu luas yang bisa dijangkau. Mungkin kalau fasilitas-fasilitas sudah dibangun, tidak menutup kemungkinan area ini akan menjadi populer sebagai tempat untuk belajar dan kegiatan kebudayaan. 
Minuman Tradisional
Rumah tradisional khas Jawa

Joglo kembar, difungsikan sebagai tempat pertemuan/jamuan dalam jumlah besar

Sudut toilet di Kampung Mataraman, toiletnya bersih.
Sembari menunggu makanan bisa disambi main egrang

Art corner
Joglo

Oh ya, tempat ini juga sangat cocok untuk liburan bersama keluarga. Ada dolanan tradisional, belajar menanam padi, sepeda kuno, dan fasilitas lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk keluarga.

Thank you for stopping by





       

Rabu, 23 Agustus 2017

Explore Bantul: Air Terjun Lepo, Hutan Pinus Pengger, dan Mangut Lele Mbah Manto

   Akhir pekan yang lalu, aku dan teman-teman dari Asrama Sakan Thullab (Ig:@sakanthullab.krapyak) pergi ke sebuah desa wisata yang sudah lama ngehits dalam dunia per-air terjunan. Air Terjun Lepo yang berlokasi di Dusun Pokoh 1, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, adalah tujuan utama liburan akhir pekan kami, yang terkemas dalam acara JJP (Jalan-Jalan Pembimbing). Sebenarnya, musim kemarau seperti saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengunjungi air terjun, mengingat air terjun yang tersebar di Bantul tergolong air terjun kecil dalam jumlah debit air, dan bergantung pada aliran sungai. Pengalaman sebelumnya, aku mengunjungi Kedung Pengilon dan air nya surut, tapi untunglah untuk Air Terjun Lepo ini meskikupn musim kemarau masih tetap nyaman untuk berenang.
          Perjalanan dimulai dari Asrama Sakan Thullab, Pondok Pesantren Krapyak. Perjalanan menempuh waktu 60 menit dengan rute melewati Jalan Wonosari. Sebelum sampai di lokasi utama, ada beberapa spot yang instagramable yang sempat dikunjungi. Kami berhenti sekitar 15 menit di Watu Amben, 60 Menit di Hutan Pinus Pengger, sebelum akhirnya ke Air Terjun Lepo.

Spot Watu Amben menawarkan pemandangan bentang alam Jogja dari ketinggian, lokasinya persis dipinggir jalan dan gratis.



     Sekitar 15 menit dari Watu Amben, tepatnya di sebelah kanan jalan, ada lokasi yang cukup menarik. Hutan Pinus Pengger, hutan ini dilengkapi dengan rumah-rumah akar yang indah, yang dapat menyala di malam hari. Menariknya area hutan pinus pengger ini bisa dikunjungi pada malam hari, dan tentunya view Jogja terlihat sangat menawan.

Untuk masuk ke are Hutan Pinus Pengger ini cukup membayar Rp. 4000, sudah termasuk parkir

Tim yang terlibat JJP (Hehe) : Left to Right (Wahyu, Hadi, Me, Zifa, Albab (behind))

The world belongs to those who read -Anonim

Rumah akar, salah satu spot andalan untuk foto. Selain rumah akar pengunjuang juga bisa sewa hammock dengan biaya Rp. 10.000


 Lepo Waterfalls

      Perjalanan dari Hutan Pinus menuju Air Terjun Lepo membutuhkan waktu sekitar 20 menit, untuk penanda jalan sudah tersedia sehingga mudah dijangkau, tapi kami tetap mengandalkan google maps since this is the first time. Biaya parkir di lokasi sebesar Rp. 3000 (motor), sedangkan untuk masuk ke area air terjun hanya dikenai biaya pemeliharaan lingkungan, mungkin karena musim kemarau (bukan waktu yang tepat untuk berkunjung) jadi tidak dipungut biaya.

Air terjun ini terdiri dari tiga tingkat, ini tingkat yang paling tinggi, kedalamannya pas.

Kalau lagi musim hujam, aliran air dipinggir saya deras.

Ini dibagian bawah, berasa private pool

Berasa private pool
Chillax
Sewa ban aslinya Rp. 5000, kalau ini mah gratis.

Cullinary

       Beruntungya, ketika kita mengunjungi desa disekitaran air terjun, ternyata sedang ada gawe. Pasar Trukan 2017, event tahunan yang menyediakan berbagai barang dagangan mulai dari makanan hingga barang-barang kesenian.

Branding

Sumpah ini enak banget ! Nasi jagung + ikan asin, tempe bacem, sambel, sayur rebus + sayur garang asem (nggak ke foto). Hanya Rp. 10.000

Pecel templek, dibungkus pakai daun jati, hanya RP. 1000 sudah termasuk gorengan

Memesan makanan, pas berangkat pasarnya rame banget, sekarang sepi dan tinggal sisa-sisa.

Mangut Lele Mbah Marto, lokasi dibelakang Kampus ISI Yogyakarta. Ini enak juga. Untuk satu porsi Rp. 22.500 (Nasi gudeg + krecek + mangut lele + es teh) kalau cuma beli mangut lele hanya Rp. 10.000

Masaknya masih tradisional, nah uniknya dari warung makan ini adalah kita langsung ambil makanannya di dapur, banyak asap, tapi itulah sensasinya. Meskipun lokasinya mencil di tengah kampung, warung ini tidak pernah sepi dari pejabat sampai artis pun pernah singgah disini.
Bersama Mbah Marto, sehat terus nggeh mbah