Kamis, 01 Februari 2018

Balek Kampung

                Selama hampir delapan tahun tinggal di Jogja, baru kali ini pulang kampung bukan pada saat bulan puasa/lebaran. Bukan tanpa sebab, beberapa waktu lalu aku baru kehilangan dompet. Barang penting seperti KTP dan ATM enyah, walhasil harus pulang untuk ngurus ulang. Kalau ngurus ATM mah tinggal datang ke bank bersankutan dan dalam waktu kurang dari 30 menit sudah jadi, lah kalau KTP bisa berbulan-bulan. Sebenarnya kalau sudah pernah rekaman e-KTP kita tidak perlu repot-repot pulang karena data kita sudah tersimpan di database, tapi aku pikir sekalian buat SIM juga + liburan akhir tahun.

Aku jadi ingat perkataan kakakku, kenapa ngurus ATM cuma 30 menit dan ngurus KTP bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Ada yang bisa jawab? Hehe, birokrasi disini ruwet dan pelayanan (service) juga buruk (rating: bintang satu). Kok malah curhat
                Pesawat yang aku tumpangi baru saja landing di Bandara Internasional SSK II, Pekanbaru. Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Suasana terminal kedatangan belum begitu ramai, dan kabar baiknya cuaca hari ini cerah, langit biru.
Biasanya kalau sudah di bandara, aku minta jemput, tapi kali ini sengaja tidak mengabari kakak  untuk njemput langsung ke bandara, alasannya karena aku ingin mencoba hal lain yaitu dengan naik Trans Metro Pekanbaru (TMP) untuk pertama kalinya. Agak bingung pas pertama kali naik busnya, karena tak ada shelter di sekitar bandara, sempat pesan Go-car tapi ternyata abangnya gak bisa kalau ngebid di area bandara, akhirnya aku hanya mengikuti orang yang mau naik trans.
Suasana di dalam Trans Metro Pekanbaru
FYI:
“TMP akan berhenti di depan pintu kedatangan. Sabar aja, nanti pas datang langsung deh naik. Nanya-nanya rute nanti sama kondektur di dalam bus, dan biaya naik TMP sangat terjangkau yaitu Rp. 4000, sangat hemat sekali dibanding taksi,  ya iyalah....”
Tujuan saya adalah Jl. Harapan Raya (TMP Bandara, Turun di RS awal bross, ganti bus no 001). Dari Jl. Harapan Raya, aku masih harus menempuh perjalanan sekitar empat Jam lagi untuk sampai rumah dengan menggunakan travel, biaya sekitar 50.000 (berhenti di Pasar Ukui).
Ditengah perjalanan menggunakan TMP, tiba-tiba kakak ku telfon bahwa beliau bersama keluarganya sudah berada di Bandara, menunggu, weleh... akhirnya aku putuskan turun di RS. Awal bross dan nunggu dijemput. Setelah sekitar 15 menit menunggu, tampak mobil hitam dari kejauhan datang menghampiri. Alhamdulillah, meski jam belum menunjukkan pukul 10.00 WIB tapi masya Allah panasnya sudah kerasa.
Karena tidak berencana mampir, akhirnya aku dibawa muter-muter dulu sambil cari makan siang. Rencananya sih mau makan di Pondok Ikan Asin, tapi belum beruntung dan akhirnya berakhir di RM. Padang.
“perut kenyang hati pun senang”
Tepat pukul 11.00 WIB saya meluncur dari Pekanbaru menuju kampung halaman.
Dulu, aku ini tipe orang yang mabokan (mabok darat), paling gak suka kalau naik mobil, apalagi kalau ada wangi-wangiannya, jadi kalau mau naik mobil harus wangi natural.  Waktu pun berlalu, akhirnya aku sembuh total. Hahaha
Selama perjalanan, aku amati banyak sekali yang berubah. Wajah Kabupaten yang beberapa waktu lalu baru merayakan ulang tahun yang ke 17 ini semakin meningkat. Suasana kota semakin ramai pun dalam hal infrastruktur semakin baik, tapi masalah listrik masih byar pet...
Perkebunan sawit mendominasi view selama perjalanan, hijau, tapi tidak menyegarkan. Suasana mobil travel alhamdulillah longgar, tapi tidak nyaman, karena ada bapak-bapak merokok. Akhirnya aku buka jendela dan membiarkan rambut ini berkibar diterpa angin, tidak menyegarkan juga, karena kendaraan-kendaraan besar bersliweran dan menimbulkan aftertaste yang gak enak.
Setelah berkendara hampir empat jam, mobil yang aku tumpangi sampai di Pasar Ukui, dulu aku sering sekali pergi ke pasar bersama Ibu. Mobil berhenti tepat di depan Toko H. Iskandar, toko langganan bapak.
Dari kejauhan tampak ponakanku melambai-lambai, ya mereka sedang menunggu Om nya pulang.