Minggu, 01 Desember 2013

Sering kali kita kagum terhadap prestasi orang yang sukses dengan jabatan, kekayaan, dan popularitas yang cukup menonjol dan mengundang decak kagum orang lain. Namun, banyak dari kita yang tidak mau mempelajari dan menghargai proses perjuangan hidup ke arah sana. ( Hidayat, 2013)
Saya yakin orang tua atau orang-orang yang menurut bayangan kita sebagai orang sukses, mereka pernah menjalani pertarungan berat untuk mengalahkan berbagai impitan dan tantangan, tidak hanya tentang finansial. Mereka yang telah sukses saat ini telah berhasil menjalani proses dengan terstruktur dan baik sehingga semesta pun mendukung. Namun, saat ini tidak dipungkiri banyak orangtua yang justru memasung anak-anaknya untuk tumbuh kuat dengan cara memanjakan mereka, tentunya hanya dengan pengalaman dan kerja keras dan mampu mengatasi kesulitan seseorang akan tumbuh menjadi lebih kuat.
Budaya instan memang sudah menyebar ke berbagai golongan masyarakat, budaya dapat diartikan sebagai suatu kebiasaan dan instan dapat diartikan sebagai sesuatu yang cepat. Bolehlah kita membiasakan untuk melakukan sesuatu dengan instan untuk hal – hal seperti mencuci atau hal yang dapat memudahkan mobilitas seseorang. Namun yang harus digaris bawahi adalah tidak ada ke-instan-an dalam kehidupan begitu juga dalam menempuh pedidikan ada proses yang harus dijalani dan diselesaikan dengan baik dan penuh kejujuran, dan proses panjang inilah yang mulai hilang dalam proses pendidikan kita.
Manusia adalah penentu nasib dirinya sendiri, bukan orang lain. Dari ungkapan tersebut jelas bahwa manusia sendirilah penentu masa depan mereka, tentunya kita memiliki cita-cita. Terkait terwujudnya cita- cita tergantung seberapa keras usaha yang kita lakukan dan seberapa besar kita menghargai proses. Tidak mungkin seorang pengusaha sukses ditempa dalam waktu yang singkat, tentunya para pengusaha sukses telah mengalami kebangkrutan atau kerugian dan cobaan lainnya. Apabila kita menghargai proses tentunya kita akan memahaminya sebagai sebuah siklus yang biasa terjadi ada saat dimana kita diatas dan dibawah, tanpa disadari kita telah membangun fondasi yang kuat. Semakin tinggi sebuah pohon maka angin yang menerpanya akan semakin kuat, begitu juga manusia apabila tidak memiliki fondasi yang kuat meski sukses tetapi tidak akan bertahan lama. Fondasi yang kuat dibangun dari pengalaman kita berproses menuju sesuatu yang kita sebut sebagai sukses.
Mari lihat diri kita saat ini, keadaan kita saat ini adalah cerminan kita dimasa lalu dan tentunya usaha dan kerja keras kita saat ini akan menentukan siapa diri kita di masa yang akan datang.
Sekali lagi bukan maksud menggurui pembaca semua, Asal kita sabar dan terus mengupayakan apa yang kita inginkan, serta selalu libatkan Tuhan dalam sendi-sendi kehidupan. Insyaallah hasil maksud.


Senin, 14 Oktober 2013

ada yang harus ditahan agar tidak tercecer di sembarang tempat,
ada yang harus dilawan agar tidak terus diperbudak (nafsu)..
begitulah proses yang harus kau jalani, sebagaimana telah digariskan tuhan.
untuk mengabdikan ilmu yang tak seberapa..
untuk terus belajar melihat kehidupan lebih awal,
karena sejatinya hidup untuk mengabdi, mengabdi pada tuhan.

kehidupan adalah tentang proses tidak suka menjadi suka, proses suka menjadi tidak suka.
hingga kau cukup dewasa untuk memahami dan menerima setiap prosesnya.
pernah berfikir bahwa ini akan menghambat mimpi dunia,
tapi sejatinya, tuhan memberimu lebih : kau masih bisa menggapai impian duniamu dan juga memupuk bekal akhiratmu.
sekali lagi, butuh kedewasaan untuk menerima.

masa muda mu adalah masa pengabdian,
masa tua  mu adalah pengabdian.
karena sejatinya pengabdian tidak mengenal usia dan dimensi waktu, kecuali maut.
bukankah pemimpin hebat ditempa dengan tempaan yang kuat dan proses yang panjang.
bukan dengan proses yang singkat dan mudah.

bersabar, sekali lagi bersabar.
tuhan telah menjadi director kehidupan yang sempurna.






Minggu, 25 Agustus 2013

Guruku orang-orang dari pesantren.


          
Buku bagus ini merupakan salah satu koleksi ayah, beliau membelinya sepuluh tahun lalu. dan ironisnya saya baru membacanya sekarang, it's a good book and really recomended. buku yang akan saya review merupakan buku yang diterbitkan pertamakali pada tahun 1974 dan dicetak kembali pada tahun 2001. buku yang yang sangat bagus yang merupakan otobiografi dari KH. Saifuddin Zuhri. tebalnya hanya 383 halaman.

Buku ini merupakan kisah perjalanan hidup dari KH. Saifuddin Zuhri, dimulai saat beliau menjalani  pendidikan masa kecilnya disebuah madrasah pada tahun 1922 hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia hingga tahun 1955. beliau merupakan salah satu tokoh NU yang memiliki peranan besar dalam perkembangan NU dan perjuangan kemerdekaan. beliau juga pernah menjabat sebagai menteri agama RI. cerita kehidupan beliau dikisahkan secara apik dalam bentuk novel sehingga materi yang beliau sampaikan tersampaikan dengan baik.
Pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia, perannya dalam membangun kehidupan bangsa sudah memberikan sumbangsih yang besar bagi perkembangan pendidikan dan sebagai pendidik moral bangsa. banyak sekali tokoh-tokoh yang dilahirkan oleh dunia pesantren di Indonesia yang ikut berjuang dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, sebut saja KH. Hasyim Asyaari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wahab Chasbullah, KH. Wahid Hasyim dan masih banyak lagi yang lainnya.
KH. Saifuddin Zuhri hidup didaerah Banyumas Jawa Tengah, masa kecil beliau dihabiskan untuk belajar dan membantu orang tuanya. beliau bersekolah dua kali dalam sehari yaitu pada pagi hingga siang hari/ sekolah umum dilanjutkan dengan sekolah madrasah pada sore hari, selain itu juga beliau harus mengaji di langgar pada malam harinya. pendidikan agama begitu kuat ditanamkan oleh keluarga beliau. kehidupan beliau begitu dekat dengan dunia pesantren, para kyai dan syeh terkenal pada masanya. selain pendidikan umum dan agama beliau juga tidak lupa untuk bersosialisai dengan para teman dan membantu pekerjaan orang tuanya.
dalam buku ini akan banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan beliau yang sangat luar biasa,  bagaimana interaksi beliau dengan orang-orang yang beliau temui. membaca buku ini seperti membaca sejarah tentang peran dunia pesantren dan nahdiyin dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. buku yang berisi sepuluh bab meliputi : madrasahku cuma langgar, tokoh-tokoh pengabdi tanpa pamrih, apresiasi terhadap rasa seni, memasuki persiapan pengabdian, masih belajar lagi sebelum terjun ke medan pengabdian, menjadi guru, tamatnya zaman penjajahan, dibawah penjajahan seumur jagung, merdeka berarti 1000 perjuangan. 
buku ini begitu dahsyat, inspiratif dan memiliki gaya bahasa yang mudah dipahami. sangat direkomendasikan !


Cerita acak.

"orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat bagi sesamamanya"

Lelah.
Hampir 72 jam berlalu. masih pada suasana dinihari, fuihh.. yeahhh. akhirnya sampai juga di jogja. liburan kali ini berlalu sangat cepat, lebih spesial dari tahun-tahun sebelumnya. spesial karena rasa rindu ini masih terbawa sampai ke tanah rantau. belum cukup waktu rasanya menikmati waktu pagi bersama keluarga, mendalami hobi memasak, ya.. ingin rasanya berlama-lama di kampung halaman. 
perjalanan dari Riau ke Jogja dengan pesawat terbang 1 jam 55 menit sedangkan dengan bus 2 malam 3 hari. pada kali ini untuk kesekian kalinya saya menggunkan bus lagi, mungkin bisa dibayangkan betapa lelahnya, dan betapa membosankannya perjalanan. it seem like "long journey". ya rasanya sosialisasi dengan rekan sebangku hanya sekedar senyum dan terkadang hanya pembicaraan sangat simpel, buku yang rencana jadi teman perjalanan jadi kurang menarik. untunglah kakak ipar saya membuatkan makanan bekal favorit apalagi kalau sambel kentang dan teri, jadi lebih irit di jalan meminimalisir pengeluaran biaya makan yang tinggi di wilayah sumatera.
badan masih terasa sakit, ini perjalanan yang sangat melelahkan. aku lelah aku ingin tidur dan aku ingin istirahata (saat itu pukul 2.30 am).

Kaget.
setelah sampai di asrama, TV kamar masih menyala saat itu judul filmnya "once upon a time in china" . orang- orang sudah tidur, jajanan lebaran bertumpuk di kamar. makmur !. 
betapa terkejutnya saya ketika salah seorang teman kamar mengucapkan : eh pak guru sudah pulang. saya : maksudnya ? ohh, ternyata saya diamanahi untuk mengajar di kelas persiapan. wowww.. masih terus berfikir dan kaget = can't sleep !. mengapa saya ? I just feel if I still need to learn more and more. tak ada waktu dan kesempatan untuk menolak.
saya mulai mengajar ketika umur 17 tahun, waktu itu masih di kelas kecil dan beberapakali memberikan les privat. namun seiring bertambahnya umur tantangan yang diberikan semakin besar. sekarang saya mengajar di satu kelas besar and of course I don't have free time even it weekend.. dan sabtu minggu jadwalnya belajar dan mengajar.

Like a Teacher, Like a Student.
menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah, ia harus mempersiapkan materi sebelum disampaikan pada para santri/siswa menjadikan materi yang terlihat dan terasa berat menjadi hal yang ringan dan mudah diserap. ia juga harus selalu belajar untuk menambah wawasan agar setiap ucapan yang dikeluarkan bukan sebuah kebohongan melainkan sebuah kecerdasan intelektual yang dapat dipertanggung jawabkan.
sejatinya menjadi seorang guru adalah seorang murid, ia harus selalu terus belajar dan belajar. semoga bisa istiqomah.


Sabtu, 17 Agustus 2013

Silaturahim sambung nyowo


Assalamualaikum para pembaca setia blog saya, baik yang secara diam-diam mengagumi  dan menunggu postingan atau yang kebetulan lewat dan kesasar di blog ini.
Lebaran adalah momen dimana kita kembali kepada fitri setelah berjuang melawan hawa nafsu dan puasa selama tiga puluh hari. Ketika lebaran kemaren saya sempat bertemu dengan pak  Anas Urbaningrum di pondok, beliau meyampaikan bahwa proses kita menjadi fitri ibarat proses kepompong menjadi kupu. Akan menjadi indah di akhirnya, dan semoga proses penempaan diri selama satu bulan memang sejatinya harus membekas dengan ditandai meningkatnya amal kebaikan.
Solat ied kali ini saya tidak bersama keluarga di  kampung halaman, saya menjalankannya di pondok saja dengan beberapa penghuni terakhir yang tersisa, penghuni terakhir yang makmur. Saat – saat yang paling mengharukan adalah ketika malam takbiran kita jauh dari keluarga dan hanya bisa mendengarkan dan melantunkan takbir secara lirih di kamar dan itu yang saya alami. Air mata kerinduan dan ingatan kebersamaan datang silih berganti.
Setelah solat ied saya langsung ke bandara untuk pulang ke kampung halaman. Bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat umur dan nikmat sehat sehingga masih bisa mudik. Yang paling dirindukan adalah bertemu dengan ayah, ziarah ke makam ibu, bertemu saudara serta para tetangga. Ngerasa nggak sih. Ketika kita satu tahun nggak pulang kampung dan tetanggamu bilang. “ wah udah besar saja, tambah tinggi, tambah ganteng”  dan itu selalu terjadi pada saya.

Closing statement dari saya Never forget the people around you. who had scraped your life be it black, white or colorful, they had become history in your life. Keep in touch with them where you are and how far you are with them.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Best moment in every year.


perjalanan mudik pas lebaran.

Alhamdulillah, bisa nulis di blog lagi setelah perjuangan menemukan inspirasi tentang apa yang harus dibagi pada post #156 ini. dimulai dari sebuah pertanyaan. apa sih moment terbaikmu setiap tahun ? moment yang sulit didapat bagi anak rantau seperti saya. dan tentunya moment ini terjadi setahun sekali.

waktu berjalan begitu cepat dan semakin cepat, itulah yang saya rasakan. rasanya baru kemaren di jogja tapi sekarang sudah hampir lima tahun, rasanya baru kemaren masuk kuliah tapi sekarang sudah semester lima dan beberapa semester lagi lulus (Insya Allah). moment yang saya maksud adalah bertemu dengan keluarga dan berkumpul bersama, berbagi kisah dan cerita. sebagai anak rantau moment pulang ke kampung halaman memang selalu dinanti, jauhnya jarak tidak menjadi penghalang untuk memuaskan rasa rindu dan pengharapan.
keluarga saya adalah keluarga perantau, sehingga tidak setiap tahun bisa berkumpul. rasanya sulit untuk mengumpulkan mereka, jika momen lebaran saja dari beberapa saudara ada saja yang tidak pulang. ada yang memilih lebaran ditempat nenek atau mengahbiskan masa puasa dan lebaran di pesantren. tapi beberapa tahun ini kita selalu berkumpul, alhamdulillah.
tahun ini ada yang berbeda, dan mungkin menjadi pengalaman pertama bagi saya. ya, mudik pada waktu lebaran. kalo biasanya mudik H-10 atau H-15 tapi sekarang pas hari H.saya ingin menikmati lebaran di pondok sowan dengan kiyai dan setelah itu pulang ke rumah (Riau). 
Best moment in every year. pulang ke kampung halaman tidak hanya bertemu raga dan melepas kerinduan, lebih dari itu bertemu dengan keluarga, teman dan saudara merupakan charge yang ampuh untuk menstabilkan semangat dan energi untuk setahun yang akan datang. saya jadi ingat tentang buku yang saya baca beberapa minggu lalu, sejauh-jauh engkau pergi pada saatnya engkau akan kembali pada titik dimana anda dilahirkan, pada titik nol. kampung halaman.

- selamat mudik.

Jumat, 12 Juli 2013

The Girl is Malala Yousafzai.


I saw Trending Topics in twitter land is about birthday of Malala, at the first sight I don't too curious with that girl, yet I see the UN news if Malala had speech in front of UN Assembly. then, I just feel curious with her, who actually she is. what has been done by her so she can delivering speech in precious stage. I try too looking for her and searching through google, what is her role as the activist women. 
Gotcha.. ! after I read all writen about her. I told you, If She is a woman activist in Pakistan whom striving for education of children and other social problem in her country. cause her big eager to develop children education the Taliban shut her and the bullet got her head. and the world known the tragedy. Time goes really fast and now she is heal. and at her bornday she is speech in UN and has becaming inspiration for all woman, children and activist all over the world. think you should know. she's still 16 YO.
and here is her speech.

In the name of God, The Most Beneficent, The Most Merciful.
Honourable UN Secretary General Mr Ban Ki-moon,
Respected President General Assembly Vuk Jeremic
Honourable UN envoy for Global education Mr Gordon Brown,
Respected elders and my dear brothers and sisters;
Today, it is an honour for me to be speaking again after a long time. Being here with such honourable people is a great moment in my life.
I don't know where to begin my speech. I don't know what people would be expecting me to say. But first of all, thank you to God for whom we all are equal and thank you to every person who has prayed for my fast recovery and a new life. I cannot believe how much love people have shown me. I have received thousands of good wish cards and gifts from all over the world. Thank you to all of them. Thank you to the children whose innocent words encouraged me. Thank you to my elders whose prayers strengthened me.
I would like to thank my nurses, doctors and all of the staff of the hospitals in Pakistan and the UK and the UAE government who have helped me get better and recover my strength. I fully support Mr Ban Ki-moon the Secretary-General in his Global Education First Initiative and the work of the UN Special Envoy Mr Gordon Brown.  And I thank them both for the leadership they continue to give. They continue to inspire all of us to action.
Dear brothers and sisters, do remember one thing. Malala day is not my day. Today is the day of every woman, every boy and every girl who have raised their voice for their rights. There are hundreds of Human rights activists and social workers who are not only speaking for human rights, but who are struggling to achieve their goals of education, peace and equality. Thousands of people have been killed by the terrorists and millions have been injured. I am just one of them.
So here I stand...    one girl among many.
I speak – not for myself, but for all girls and boys.
I raise up my voice – not so that I can shout, but so that those without a voice can be heard.
Those who have fought for their rights:
Their right to live in peace.
Their right to be treated with dignity.
Their right to equality of opportunity.
Their right to be educated.
Dear Friends, on the 9th of October 2012, the Taliban shot me on the left side of my forehead. They shot my friends too. They thought that the bullets would silence us. But they failed. And then, out of that silence came, thousands of voices. The terrorists thought that they would change our aims and stop our ambitions but nothing changed in my life except this: Weakness, fear and hopelessness died. Strength, power and courage was born.  I am the same Malala. My ambitions are the same. My hopes are the same. My dreams are the same.
Dear sisters and brothers, I am not against anyone. Neither am I here to speak in terms of personal revenge against the Taliban or any other terrorists group. I am here to speak up for the right of education of every child. I want education for the sons and the daughters of all the extremists especially the Taliban.
I do not even hate the Talib who shot me. Even if there is a gun in my hand and he stands in front of me. I would not shoot him. This is the compassion that I have learnt from Muhammad-the prophet of mercy, Jesus christ and Lord Buddha. This is the legacy of change that I have inherited from Martin Luther King, Nelson Mandela and Muhammad Ali Jinnah. This is the philosophy of non-violence that I have learnt from Gandhi Jee, Bacha Khan and Mother Teresa. And this is the forgiveness that I have learnt from my mother and father. This is what my soul is telling me, be peaceful and love everyone.
Dear sisters and brothers, we realise the importance of light when we see darkness. We realise the importance of our voice when we are silenced. In the same way, when we were in Swat, the north of Pakistan, we realised the importance of pens and books when we saw the guns.
The wise saying, “The pen is mightier than sword” was true. The extremists are afraid of books and pens. The power of education frightens them. They are afraid of women. The power of the voice of women frightens them. And that is why they killed 14 innocent medical students in the recent attack in Quetta. And that is why they killed many female teachers and polio workers in Khyber Pukhtoon Khwa and FATA. That is why they are blasting schools every day.  Because they were and they are afraid of change, afraid of the equality that we will bring into our society.
I remember that there was a boy in our school who was asked by a journalist, “Why are the Taliban against education?” He answered very simply. By pointing to his book he said, “A Talib doesn't know what is written inside this book.” They think that God is a tiny, little conservative being who would send girls to the hell just because of going to school. The terrorists are misusing the name of Islam and Pashtun society for their own personal benefits. Pakistan is peace-loving democratic country. Pashtuns want education for their daughters and sons. And Islam is a religion of peace, humanity and brotherhood. Islam says that it is not only each child's right to get education, rather it is their duty and responsibility.
Honourable Secretary General, peace is necessary for education. In many parts of the world especially Pakistan and Afghanistan; terrorism, wars and conflicts stop children to go to their schools. We are really tired of these wars. Women and children are suffering in many parts of the world in many ways. In India, innocent and poor children are victims of child labour. Many schools have been destroyed in Nigeria. People in Afghanistan have been affected by the hurdles of extremism for decades. Young girls have to do domestic child labour and are forced to get married at early age. Poverty, ignorance, injustice, racism and the deprivation of basic rights are the main problems faced by both men and women.
Dear fellows, today I am focusing on women's rights and girls' education because they are suffering the most. There was a time when women social activists asked men to stand up for their rights. But, this time, we will do it by ourselves. I am not telling men to step away from speaking for women's rights rather I am focusing on women to be independent to fight for themselves.
Dear sisters and brothers, now it's time to speak up.
So today, we call upon the world leaders to change their strategic policies in favour of peace and prosperity.
We call upon the world leaders that all the peace deals must protect women and children's rights. A deal that goes against the dignity of women and their rights is unacceptable.
We call upon all governments to ensure free compulsory education for every child all over the world.
We call upon all governments to fight against terrorism and violence, to protect children from brutality and harm.
We call upon the developed nations to support the expansion of educational opportunities for girls in the developing world.
We call upon all communities to be tolerant – to reject prejudice based on cast, creed, sect, religion or gender. To ensure freedom and equality for women so that they can flourish. We cannot all succeed when half of us are held back.
We call upon our sisters around the world to be brave – to embrace the strength within themselves and realise their full potential.
Dear brothers and sisters, we want schools and education for every child's bright future. We will continue our journey to our destination of peace and education for everyone. No one can stop us. We will speak for our rights and we will bring change through our voice. We must believe in the power and the strength of our words. Our words can change the world.
Because we are all together, united for the cause of education. And if we want to achieve our goal, then let us empower ourselves with the weapon of knowledge and let us shield ourselves with unity and togetherness.
Dear brothers and sisters, we must not forget that millions of people are suffering from poverty, injustice and ignorance. We must not forget that millions of children are out of schools. We must not forget that our sisters and brothers are waiting for a bright peaceful future.
So let us wage a global struggle against illiteracy, poverty and terrorism and let us pick up our books and pens. They are our most powerful weapons.
One child, one teacher, one pen and one book can change the world. 
Education is the only solution. Education First.

Jumat, 28 Juni 2013

AIESEC LC UGM #1

Guess ! where I'm. ?

Berawal dari International Cultural Camp Bandung 2012.
Jika harus bercerita semua berawal di Bandung, sebuah acara yang telah mempertemukanku dengan AIESEC. I don't really know this strange organisation at the first time. but I always feel curious in that time. konsep acara camp yang dikemas dengan sangat berbeda membuat saya bertanya-tanya. ada chair, role dance, sugar cube's etc.
- Tina Hwang.
Salah satu alasan mengapa saya begitu berminat untuk join AIESEC adalah Tina Hwang, She's really inspiring me in the and of the camp session. she told us how her journey as long as an AIESECer. really inspiring indeed. gila.. ini AIESEC organisasi apaan sampe buat orang kayak gini. di awal- awal camp para OC bercerita tentang AIESEC but I didn't interest so much. I just curious to AIESEC in the last day of camp. at that time, There are chance for delegates to mentions their feeling during camp. dan gak nyangka I pointed my hand dan menjadi delegate pertama yang menyampaikan pesan dan kesan. I try to break the wall in front of me. dan kalimat yang paling saya ingat adalah : I will Join AIESEC in Jogja.
- Pencarian.
Setelah kembali ke Jogja, I try to looking for, where I've to apply for AIESEC member. saya hanya dapat info AIESEC in Jogja are consist of AISEC LC UGM and AIESEC OE UPN Veteran. saya memutuskun untuk apply member of AIESEC UGM. sebelumnya saya merasa gabut dengan organisasi ini karena harus menunggu 3 bulan lagi untuk oprec newie.
saya masih ingat ada beberapa temen camp saya mereka apply buat AIESEC member dan mereka tidak diterima. proses menjadi anggota melalui proses yang panjang mulai seleksi berkas, FGD dan interview. dan akhirnya proses pencarian dan menunggu membuahkan hasil I'm selected as an new AIESECer from 700 aplicants. huuhh.. fell so excited though !
- New family.
well, akhirnya saya keterima di keluarga baru. Talent Management department. thank you for being my inspiration my LCP Mba ruri, My VP : Mas Aziz, My super manajer : Mba Nina dan Hani dan untuk keseluruhan TM Member : Acintya, Patrick, Whinda, Damar, Ivo, Sysil, Ivy, Tika, Raras, Bobob, Aldio. jujur awal -awal jadi member masih bingung banget dengan istilah-istilah : FGS, GCDP, GIP and friends but as time goes by I understood all about it.
- My first Conference.
Conference pertama sebagai newie adalah IYLC, yuhuuu.. Indonesia Youth Leadership Conference JAKARTA !. saran saya adalah ikutlah conference selagi sempet.dan hal itulah yang biasa disaranin para senior di AIESEC. selain bisa bertemu para newie AIESEC LC se Indonesia juga bakal banyak pengalaman yang tentunya tak bisa dibayar oleh uang. don't you know : experience is best teacher. kira-kira seperti itu.
-My days as an AIESECer.
Proud to be an AIESECer. and it's good to be an AIESECer. I got really stress on my college schedule terutama masalah praktikum, banyak kesempatan menjadi OC dan OCP project dan saya tidak bisa aplly bentrok dengan praktikum, kegiatan asrama, other organisation, have no motorcycle, long distance to get college. semua problem dan keterbatasan hampir membuatku menyerah tapi nyatanya alhamdulillah masih bisa bertahan selama setahun. " terkadang kita harus membuat skala pada prioritas terhadap apa yang kita lakukan".

.... and time goes really fast, dan kita berada di akhir term of 12/13. saya berharap di term yang akan datang akan lebih banyak hal yang bisa saya lakukan to develop my self and develop other. semoga term yang lalu menjadi pelajaran untuk term kedepan yang lebih baik.


Senin, 10 Juni 2013

Me within the dusk.

I've never realized if someone had took this picture, three years ago after passing the national poetry reading competition.

Rabu, 22 Mei 2013

Keep Walking : You are the hero of your life






pict source : all-wallpapers.net

Good Lecture = Good Student.


Memang selalu beda setiap kali beliau mengisi perkuliahan, pembawaan ceria dan selalu memancarkan aura positif. materi yang rasanaya berat dibuat menjadi ringan dan mudah diserap. beruntung sekali memang punya dosen yang juga seorang coach bisnis. selain mendapat materi perkuliahan juga wejangan yang selalu menginspirasi dan menjadikan hidup lebih hidup. tidak berlebihan jika saya katakan demikian. beliau bernama Edwin Indarto saya juga beberapa kali mengikuti training beliau.
hari ini adalah jadwal mata kuliah Animal feed nutrition dimana mata kuliah tersebut seharusnya saya ambil di semester enam, karena ada kesempatan akhirnya saya ambil mata kuliah tersebut. alhamdulillah everything goes well as good as today.

good lecture = good student adalah postingan yang ke 152 di blog saya, nggak sadar ternyata udah segitu banyak post mulai dari penting hingga hal yang remeh temeh.

pada perkuliahan- perkuliahan sebelumnya, baik dengan dosen tamu asing maupun dengan para dosen lainnya semuanya teory. meski tak ada kesulitan dalam mencerna mata kuliah ini, namun untuk dosen yang ini berbeda sekali cara beliau membawakan sebuah perkuliahan. jika saya hitung hari ini beliau hanya mengisi materi tidak kurang dari 30 menit sisanya tentang wejangan kehidupan dan bagaimana me-reduce our negative emotions, saya menyebutnya kelas motivasi.

dengan beberapa kejadian sebelumnya, beliau meminta semua mahasiswa untuk mengeluarkan satu sobekan kertas. ini adalah cara untuk menghilangkan negative emotions yang ada dalam diri kita. kemudian beliau bertanya dengan sebeles pertanyaan super. setelah dijawab kemudian di share pada tiga teman yang sangat tidak akrab dan setelah itu dibakar.
sontak, suasana kelas berubah menjadi riuh dan penuh semangat. energi positif mulai menyebar.
in the end. ada satu formula rumus kehidupan yang saya ingat :

Y = f ( X1, X2, X3, X4.... Xn )
keterangan : X1 = faktor internal (bagaimana mengendalikan emosi pikiran)
                   X2 = faktor eksternal (bagaimana memandang kehidupan )
                   X3 = attitude (ilmu kepantasan)
                   X4 = teknis/ strategi.

pict source : janetsymonssa.ca

Selasa, 14 Mei 2013

Bahkan pada diri sendiri aku malu, malu untuk menyerah pada keadaan. meski naluri alamiah manusia terkadang berbeda, tapi entahlah dorongan jiwa selalu memberi alasan bahwa keadaan bukanlah sebuah penghalang. keep moving and shining.... (Abdul Hamid).


Senin, 08 April 2013

#1




Untuk kesekian kalinya aku tertunduk lesu,
dibawah langit-langit senja yang kian memudar.
baru saja kurasakan nikmatnya kesembuhan derita
sudah kau tambah lagi pilu nestapa, bukan aku tak bersyukur.
harus berapakali kusampaikan berita kegagalan,
padanya yang jauh disana.
hati dan raga sudah aku tumbalkan untuk mengail sebuah senyuman,
tapi tuhan belum menghendaki untuk yang kesekian kalinya. aku tahu aku harus sabar.
***
yang kulihat hanya cahaya yang temaram,
terlapis air jiwa yang jarang kukeluarkan.
ah, betapa rapuhnya aku pada sebuah kegagalan.
... bukankan ini sebuah proses, bukankah ini sebuah pelajaran kehidupan yang membuatmu      
 semakin mengerti arti sebuah kemenangan.
sekali lagi, kupejamkan mataku dan kutarik nafas yang sudah tak beraturan ini.
aku belum menyerah sampai seratus kali percobaaan pada sebuah impian.
aku pun mengerti bahwa suatu saat akan tiba masanya.
***
untuk waktu yang akan datang sebaiknya hanya aku dan tuhan yang tahu,
dengan begitu tak kan ada lagi yang bosan menerima keluh kesahku.

Yogyakarta, 07/04/2013





Jumat, 15 Maret 2013

Intermezo #1

Masa-masa narsis. :p

Hal pertama yang kuinginkan adalah sebuah sepeda yang bisa menjadi teman untuk pergi ke kampus, jarak ke kampus cukup menguras banyak waktu totalnya 45 menit, itulah sebabnya aku selalu berangkat lebih pagi dan lebih cepat dari teman seasrama. keinginan menggunakan sepeda karena peraturan kampus yang melarang penggunaan motor di wilayah kampus, dimulai angkatanku tahun 2011. yang menjadi pikiranku saat itu adalah suasana bakal menjadi nyaman dan indah dipandang, dimana-mana para mahasiswa menggunkana sepeda. nyatanya tidak ada perubahan. setiap kendaraan bebas masuk. kebijakan yang perlu dikaji ulang. lalu apa tujuannya penandatangan diatas materai ? ah,, lupakan.
aku bertahan menggunakan sepeda hampir selama tiga semester, dan selama itu banyak kejadian-kejadian yang unik. selama dua kali ganti sepeda aku sudah ditabrak dua kali oleh pengguna motor. kejadian pertam  paling tragis adalah ketika aku pulang malam, tepatnya diperempatan daerah dekat asramaku. ketika itu aku tidak sadar bahwa ada kendaraan yang melaju sangat cepat dari arah timur. ketika menyadari hal tersebut aku berteriak aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... brak semua seperti di sinetron, dan penabrak yang ternyata seorang wanita itu langsung kabur. biarlah. kejadian kedua sama terjadi dimalam hari, ketika baru pulang  dari kampus sambil nyanyi gak jelas tiba-tiba seorang bapak-bapak berumur 45 an sedang menerima telfon+naik motor. aku panik ketika motor itu mulai mendekat dan akhirnya brakkk... ! suara benturan motor vs sepeda, itulah sebabnya jangan menerima/melakukan panggilan/sms saat berkedara. ternyata bapak itu bertanggung jawab, dia merasa bersalah ketika melihat kondisiku yang memprihatinkan. tapi dengan cepat aku meninggalkan TKP dan wajah memelas bapak tersebut. jangan tanya mengapa aku tidak meminta pertanggungjawaban. 
sepeda sudah jadi bagian dalam kehidupanku, mulai dari ke kampus, satu bis bareng. sampai menjadi teman refreshing saat galau ini melumpuhkanku, biasanya aku tiap minggu pagi jalan-jalan ke Bantul kota sekedar untuk menikmati persawahan yang masih terhampar luas dan menyicipi makanan di pasar tradisional. 
bersepeda di kota jogja begitu tersiksa kalo pagi/siang/sore. diawal semester aku harus bertarung dengan motor + mobil, serta bis kota yang kadang-kadang supirnya labil. maksud hati mau sehat tapi eh udah kena polusi duluan. ya begitulah kondisinya. membayangkan suatu saat bisa main sepeda sepuasnya di Copenhagen. 


Minggu, 10 Maret 2013

Campus Life.


And the flows has brought me into my world nowdays, being  "such a journalist".

1.

Gathering with Bulaksumur pos Crews. Bulaksumur is a student jurnalist organization  in UGM. and finnaly I could be part of this super cool org.  full of joy and happiness there.


2.

These are Gallusia's Crews. This is my home and my family in my faculty. this picture was taken in the moment we're gather before enjoying field trip. you should know that Gallusia is student journalist org. which has base on faculty of Animal Science UGM.


Note : as we are young, let's cherish our self by doing what we love. explore the world we want, develop ourselve by following org. never came back this sweet moment (youth). then, we could tell to our children everything which has done in our young ages.




Judul Buku          : 10 Rahasia Pembelajar Kreatif
Pengarang          : Khrisna Pabichara
Jumlah Halaman : 192 hal.
Tahun Terbit      : 2013
Penerbit              : Zaman
Peresensi            : Abdul Hamid

Pada mulanya “Berfikir merupakan pekerjaan paling berat, mungkin itulah mengapa hanya sedikit orang yang menyenanginya.” – Henry Ford, sama halnya dengan belajar, belajar merupakan suatu proses identifikasi dan alur berfikir dari tidak tahu menjadi tahu. banyak orang yang mengalami permasalahan-permasalahan dalam belajar, celakanya banyak dari mereka  enggan untuk mendalami apa yang menjadi permasalahan yang dihadapi, mengapa saya tidak menyukai belajar ? mengapa saya cepat bosan dalam belajar ? mengapa saya menjadi pelupa ? akhirnya proses belajar hanya dijadikan ritual pada saat-saat menjelang ujian, kita menyiksa tubuh dengan tidak tidur hingga pagi hari.
Seorang filsuf besar bernama Linus mengatakan, “Tak ada masalah terlalu berat yang tidak dapat diatasi” termasuk masalah yang kita hadapi saat belajar. selama kita mau dan mengetahui caranya, selalu ada kemudahan yang menyertai setiap kesulitan. oleh karena itu, perlu dipahami bahwa kemudahan itu datang bukan setelah kesulitan, melainkan kesulitan selalu disertai dengan kemudahan. setiap orang bisa mengatasi setiap masalahnya seperti yang dikatakan oleh Khrisna Pabichara dalam salah satu bab didalam bukunya yang berjudul 10 Rahasia Pembelajar kreatif. Anda lebih cerdas daripada yang anda pikirkan. dan tentunya kita hanya perlu mengubah kebiasaan belajar menjadi lebih baik dari pada sebelumnya dan buku karangan Khrisna dapat dijadikan panduannya.
Membaca buku ini fikiran kita akan terbuka dengan penjelasan yang sangat baik dan terstruktur. buku ini disusn dengan bahasa yang mudah dimengerti semua kalangan selain itu, yang unik adalah buku ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis ketika menjadi motivator pengembangan minat dan kecakapan belajar selama lebih dari delapan tahun. Selain itu akan banyak dijumpai pesan-pesan utama berupa fatwa-fatwa religius dan kata-kata bijak dari beberapa pembelajar sukses dan ternama, sehingga pesan-pesan tersebut dapat menjadi pemantik semangat dan menjadi inspirasi untuk melakukan perubahan signifikan menuju prestasi yang gemilang. hal yang menarik dari buku ini dibandingkan buku yang bergenre sama kita akan diajak menyelami permasalahan dalam belajar dan dapat mengidentifikasinya dengan kuisioner yang ada didalam buku, hingga akhirnya kita dapat mengetahui permasalahan yang kita hadapi dan bagaimana cara menyelesaikannya.
Rahasia pertama kesuksesan belajar adalah menentukan karakter belajar, hal ini menjadi penting karena bayak orang yang belum memahami karkter belajar mereka selama ini, banyak juga yang mengatakan bahwa saya sudah memahami karakter belajar saya namun pada kenyataannya tidak. karakter belajar seseorang berbeda-beda apakah kita termasuk tipe orang yang belajar dalam suasana ramai, hening, sambil mendengarkan musik lembut, cadas, ngemil, bermain. setelah menemukan karakter belajar hal selanjutnya adalah bagaimana kita selalu menumbuhkan sikap mental yang positif dan memiliki kemauan keras.
membuat susunan rencana belajar menjadi hal penting selanjutnya dalam buku ini, bukankah semua harus direncanakan agar hasilnya lebih baik ? begitupula dalam proses pembelajaran kita sebaiknya menyusun rencana tentang (1) tujuan yang hendak dicapai, (2) strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan, (3) sarana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. membuat rencana belajar merupakan bukti keseriusan, bukan sebuah proyek asal-asalan melainkan sebuah proyek masa depan yang direncanakan secara matang. contoh analoginya seperti saat kita membangun sebuah rumah sudah tentu kita akan merencanakan desain rumah yang diinginkan, apa saja dan berapa jumlah bahan bangunan yang dibutuhkan, siapa yang akan mengerjakannya serta berapa dan darimana biaya pembangunannya. begitupula dalam belajar.
 Akan ada banyak rahasia yang akan diungkap dalam buku ini. sehingga kita dapat menemukan potensi diri dan bagaimana memanfaatkannya. memahami cara-cara kreatif dalam belajar serta mampu memecahkan persoalan yang menghambat kegiatan belajar. pada akhirnya belajar yang kita lakukan menjadi lebih efisien, efektif, dan menyenangkan. dan bukan hal yang mustahil setelah mengetahui rahasia belajar  keinginan untuk mendapatkan hasil maksimal di bangku sekolah atau perkuliahan dapat terwujud.
 Membaca buku ini akan mengubah perspektif para pembacanya  mengenai belajar, kegiatan belajar bukanlah sebuah beban melainkan sebuah kebutuhan. belajar merupakan aktivitas yang menyenangkan bukan hal yang membosankan. belajar merupakan kewajiban bagi seorang pembelajar sejati, tentunya hal yang terpenting dari semuanya adalah attitude kita. bagaimana kita memeprlakukan guru-dosen, memperalukan ilmu dan menghargai teman dan sahabat, menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kedisiplinan dalam belajar ingat konsep SMART dalam buku ini S (Spirit) M (Modesty) A (Adventurous) R (Resourceful) T (Tenacious). niscaya hasil belajar yang didapat akan lebih bermanfaat bukan hanya bagi diri kita melainkan bagi setiap orang yang berada disekitar kita. buku ini cocok bagi manusia pembelajar manapun (siswa-mahasiswa, guru-dosen, pria-wanita, tua-muda). Selamat membaca.

Minggu, 03 Maret 2013

Belajar Kehidupan



         Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah buku tentang perjuangan pengajar muda di pelosok Indonesia, yang masih saya ingat adalah tentang semangat mereka. intinya semangat, meski akhirnya saya tidak menyelesaikan buku tersebut karena sebuah alasan yaitu hampir semua ceritanya monoton.  the point is how big effort of young generation to experience something which will going make them more rich. semua kisah tersebut kembali saya korelasikan dengan kehidupan yang sedang saya jalani saat ini.
                Saya bisa melihat potret Indonesia dari sebuah gedung berlantai lima yang sekarang saya tinggali, sebuah potret kehidupan yang unik. disini tinggal hampir dua ratus orang dari berbagai latar belakang dan dari berbagai daerah di negeri yang luar biasa ini. sebuah potret kehidupan yang akan ditemui bila kau hidup di sebuah pesantren. yes, I live in Pesantren. banyak momen yang  membuat saya lebih menyadari arti kehidupan, kesetiaan, kesabaraan, pengorbanan dan tentunya menikmati kebahagiaan dan kesederhanaan. meski saya sadari masih ada beberapa hal yang membuat saya menjadi seperti labil.
                Semua berawal ketika saya menjadi santri di almamater saya saat ini, ketika untuk pertamakalinya harus meninggalkan rumah untuk belajar di pesantren. Everythings looks strange at the first sight. then, who knows ? if the first sight has made me in love.          saya sudah mulai terbiasa dengan sepuluh orang dalam kamar, makan sepiring berdua bahkan bertiga serta momen kesulitan diakhir bulan. semua terasa begitu indah dan selalu saja ada kemudahan. tiga tahun adalah waktu yang singkat, masa-masa menjadi santri dengan kenakalan dan berbagai godaan. saya berfikir betapa ruet nya para pembimbing yang selalu mendampingi saya dan teman-teman dulu. bagaimana mereka harus bangun lebih awal di pagi hari, mengajar, menjadi tempat curhat. mereka layaknya sebagai kakak bagi saya saat itu. mereka adalah pengajar muda yang merelakan masa muda mereka untuk mendidik, meluangkan waktu mereka ditengah urusan mereka yang saya yakin pasti sibuk.
                Setelah saya lulus dari Madrasah Aliyah saya diterima di universitas negeri favorit, karena masih berada di satu kota akhirnya saya diminta untuk tetap tinggal di pesantren. meski sejujurnya saya bersikeras untuk menolak, tapi tak ada alasan yang kuat. hal yang tidak pernah saya inginkan pada saat pertama kali menjadi santri yaitu menjadi pembimbing. menjadi pembimbing adalah hal yang berat. saya menyadari bahwa saya akan jadi pembimbing, oleh sebab itu setelah lulus saya ingin pergi ke luar kota. tetapi Tuhan punya rencana lain yang lebih indah dengan menjadikan saya sebagai pembimbing.
                Saya merasa menjadi orang yang lebih tua dari seumuran saya jika berada di pesantren. kehidupan menjadi pembimbingpun saya jalani. pekerjaan akan terasa berat jika kita berfikir bahwa itu berat dan begitu juga sebaliknya. bagaiamana mungkin hal yang tidak pernah saya inginkan malahan menjadi bagian terbesar dalam kehidupan saya saat ini. saya sekarang dapat merasakan perasaan seorang guru ketika para muridnya sulit diatur, merasakan untuk bekerja secara profesional itu bukanlah hal yang mudah. dan banyak hal lain yang tidak mungkin saya ceritakan dalam tulisan singkat ini.
                Sebagai manusia normal, kelelahan itu pasti ada. saat-saat tugas kampus menumpuk dan masalah pribadi. rasa galau yang mendalam selalu menyelimuti, bahkan saya berfikir untuk menyerah dengan semua ini, rasanya saya tidak sanggup dengan hal yang saya lakukan. saya ingin menikmati masa muda saya dengan mengikuti organisasi di kampus dan fokus pada perkuliahan. buat apa saya tetap bertahan, dan harus mengurusi para santri. ternyata saya terlalu egois. saya seperti ini juga berkat mereka.para pengasuh pondok selalu menguatkan kami para pembimbing dengan nasehat beliau yang sangat luar biasa. they’re our father and our teacher.
                Sebuah pertanyaan selalu membayangi, pertanyaan yang membuat saya lebih semangat. bila suatu saat nanti anak saya bertanya kepada saya. Dad, can you tell me about your young experince when you’re in nineten age ? salah satu jawaban yang sudah saya persiapkan adalah masa muda saya sangat bahagia dengan mengurus para santri dan tentunya jawaban-jawaban yang akan memberikan pelajaran dan motivasi kepada anak saya kelak. saya sudah dan sedang akan mempersiapkan itu semua. dan satu hal yang menjadi motto hidup adalah : sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberi manfaat kepada orang lain. so, what are you waitng for ? chalenge your self to do an extraordinary or unusual act in terms of positive. dari semua yang saya jalani saat ini mungkin tidak akan ada efek yang saya rasakan saat ini. tetapi saya selalu percaya bahwa segala sesuatu yang saya lakukan akan memberi dampak positif bagi kehidupan saya saat ini dan untuk kehidupan masa depan.
               
               


Kamis, 28 Februari 2013

Daya tahan adalah sekumpulan "kesabaran aktif" tanpa kemarahan dan kebencian. - Anas Urbaningrum.

Saya selalu diceritakan kisah perjuangan oleh orang tua ketika masih SD, bahkan sampai sekarangpun masih. beliau selalu mengaitkan setiap masalah yang saya alami dengan masalah yang lebih tragis menimpanya saat beliau menuntut ilmu. kesimpulannya, apa yang saya lakukan saat ini belum ada apa-apa dengan perjuangan beliau. ya, selalu ada pembanding untuk setiap yang kita lakukan di dunia. mungkin ini cara beliau mengajarkan arti beryukur secara tidak langsung. meski dimensi zaman sekarang berbeda 180 derajat dengan era 60 an. 
saya mungkin tipe perantau, mengingat keluarga saya perantau. jika berkesempatan untuk pergi lebih jauh lagi dari rumah saya akan pergi. somehow, saya sangat menikmati kesendirian dan ingin selalu meng-explore sesuatu yang baru. meski kerinduan adalah hal yang sangat menyiksa namun pada akhirnya akan ada obat dari sekedar perjuangan dan air mata di perantauan. tentang orang yang selalu menganalogikan kehidupan sebagai sebuah roda, hidup itu seperti roda kadang dibawah dan kadang diatas. saya ingin selalu pergi lebih jauh lagi agar tak ada kabar yang akan menyakitkan, tak ada komunikasi untuk ribuan hari. perasaan bingung diperantauan biarlah menjadi masalah yang akan hilang dengan sendirinya. inilah aku dan kehidupanku. saat-saat susah hanya bisa kunikmati sendiri diperantauan. namun, selalu ada pembanding, ada yang lebih menderita dari sekedar luka batin, kerinduan akut tentang hal ghaib dan kegalauan.
pergi jauh adalah pilihan, pilihan untuk selalu siap bukan saja kesiapan tentang hal-hal yang membahagiakan namun lebih kepada hal-hal yang buruk. hal-hal yang buruk akan menjadikan orang lebih bersyukur saat ia mendapatkan hal-hal baik. mungkin inilah saat-saat dimana Tuhan sedang menguji ketahanan banting saya. keep positive thingking dan yakin badai segera berlalu. I'm a survivor. 

Sabtu, 16 Februari 2013

Menghidupi Organisasi



Organisasi adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mahasiswa, bagi beberapa orang memang demikian. Termasuk saya, bagi saya organisasi merupakan tempat untuk mengembangkan diri how to manage anything, how to lead ourselves in term of leadership. Saya baru merasakan feel nya mengikuti organisasi saat-saat sekarang ini. Tidak ingin di cap sebagai kupu-kupu akhirnya saya tergabung dalam tiga organisasi di tingkat fakultas maupun universitas. Terkadang kita harus memaksakan diri kita untuk hal yang akan menjadikan kita lebih kaya dalam hal pengalaman, keluar dari comfort zone. Hingga pada akhirnya itulah yang akan menjadikan kita berbeda dengan mereka yang tidak pernah berorganisasi.
                Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, feel berorganisasi yang mendalam baru saya rasakan saat ini. Bukan berarti selama ini saya tidak mempunyai feel dengan organisasi yang saya ikuti, dalam berorganisasipun saya sesuaikan dengan passion saya. There will never be regreted to involve in organisation. Jujur saya pernah keluar dari organisasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Itu hak kita untuk involve or not. So, you’ll give the best to your organisation if you love live inside.
                Ceritanya seperti ini, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi sosial kepemudaan. Hal tersebut didasarkan pada kesamaan visi dan mimpi dari beberapa sahabat yang sangat luar biasa. Saya begitu menikmati alur dan ritme organisasi begitu juga sahabat saya yang lainnya, tak disangka bahwa minat para pemuda dengan organisasi sosial sangat luar biasa. I really Impressed. Saya masih ingat betapa harus mengorbankan waktu dan pemikiran untuk mengkonsep sebuah organisasi yang memiliki visi dan misi yang dapat diterima oleh banyak orang. Hingga akhirnya kita dapat melalui tahap tersebut dengan indeks yang sangat baik, organisasi yang kita bentuk telah memiliki visi dan misi serta goal utama. Bukankah seperti itu seharusnya sebuah organisasi.
                Konsistensi adalah salah satu hal penting dalam menghidupi organisasi, namun saya akui itu adalah hal yang sulit apalgi harus meng konsistensikan semua anggota organisasi. Layaknya sebuah organisasi badai itu pasti ada baik yang sifatnya eksternal maupun internal. Hingga suatu ketika kita berhenti mengayuh untuk beberapa saat.
“Layang-layang tidak akan terbang tinggi bila tak ada angin” . itulah yang selalu saya yakini. Setelah organisasi istirahat untuk beberapa saat, saya tidak menafikkan bahwa timbul masalah-masalah baru, rasa pesimis dan keraguan mulai muncul dan untuk beberapa saat kita lost contact. Hal ini kita sadari bersama bahwa selalu ada skala prioritas dalam hidup. Kegiatan akademik adalah hal yang tidak bisa tergantikan.
                “Mimpi yang menguatkan kita”. Saya jadi ingat sebuah pertanyaan pada sesi wawancara, singkatnya seperti ini. Apa yang akan anda lakukan jika ada masalah dalam organisasi/team yang anda ikuti ? dan jawaban itu coba kita cover untuk menyelesaikan semuanya. Kita bermusyawarah apa yang akan kita lakukan kedepan. Masa-masa seperti inilah yang akan menentukan arah semuanya. Jujur rasa pesimis selalu membayangi namu akhirnya sirna, karena sekali lagi mimpi yang menguatkan kita.
                Tiba waktunya, semua masalah sudah sangat clear. Saya sangat bangga memiliki teman dan sahabat yang luar biasa, saat kita terjatuh kita bisa bangkit tiga kali lebih kuat, rasa optimislah yang tersisa dalam diri. Mungkin inilah saat yang akan dirindukan 30 tahun yang akan datang. So proud of you.
                                

Minggu, 10 Februari 2013

#Merenung


Kebon danas, Pusakanagara. Subang.

Salah satu tujuan saya pulang ke subang adalah untuk bertemu dengan nenek, sekaligus menenangkan fikiran. Sepertinya saya terlihat begitu banyak fikiran, hingga harus memerlukan waktu khusus untuk menenangkan diri. Tapi itulah nyatanya, saya terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting dan menghawatirkan sesuatu yang belum pasti.  Tempat favorit saya adalah sawah, jangan tanya mengapa. Beberapa jam lalu saya menyusuri jalan setapak yang membelah persawahan dibelakang rumah bibi, tahu apa yang terlihat ? sejauh mata memandang hanya ada hamparan sawah yang sangat luas, ya, sejauh mata memandang.
Hampir setiap minggu saya bersepeda ke Bantul untuk menemukan sawah yang cukup luas,  tapi disini saya menemukan dengan sangat mudah, hanya dibelakang rumah. Saya puaskan berjalan di pematang sawah, kontur persawahan memang sedikit berbeda disini. Menyusuri jalan setapak dan seolah-olah masuk dalam hembusan angin sore yang menyejukan. Saya terlihat seperti anak kecil, bermain lumpur di sawah dan menanyakan beberapa orang yang sedang memancing. Memang hujan beberapa hari lalu membuat sungai kecil meluap, dan beberapa dari mereka bisa memperoleh ikan seperti betik, kincling. Entah apa didaerahmu jenis ikan ini disebut.
Syukurlah, hari ini tidak ada yang menelfon masalah keasramaan. Tidak harus menahan emosi. Saya merasa sangat nyaman disini meski hanya beberapa hari. Setidaknya itu dapat menjadi energi untuk satu tahun kedepan, luar biasa bukan ? tapi itulah adanya. Bertemu dengan kerabat membuat saya termotivasi, termotivasi untuk belajar lebih giat dan serius dalam melakukan sesuatu. Saya merasa punya tanggung jawab moral atas apa yang terjadi disini. Mungkin inilah yang membuat uban dirambut saya bertambah, saya terlalu terobsesi untuk menjadikan semuanya lebih baik. Baiklah, saya percaya saya pasti bisa. Doakan saya. 
Dongkal, selalu terhidang setiap pagi setelah memejamkan mata.  Oh iya dongkal adalah makanan tradisional campuran semacam singkong, gula dan parutan kelapa. Bisa menjadi pengganti nasi, enaknya dinikmati di pagi hari. Mengandung cukup karbohidrat dan mengenyangkan yang pasti harganya murah. Setiap pagi pasti saya sempatkan jalan-jalan ke sawah bersama keponakan yang masih duduk di bangku TK, ya sesekali dia menjelaskan apa yang dia lakukan disini. Terdengar begitu menyenangkan.
Merenung adalah hal yang sering saya lakukan untuk memulihkan semangat, karena semangat itu naik turun itulah sebabnya sempatkan untuk merenung beberapa saat, agar semuanya menjadi lebih baik. Dari beberapa orang yang kukunjungi telah banyak menyadarkan saya akan nilai-nilai kehidupan yang selama ini kurang saya perhatikan, menyadarkan kepada saya tentang tanggung jawab besar yang selama ini tak pernah sadar. Seolah ada pisau yang tertancap seketika, terimakasih telah menyadarkan.

Sabtu, 02 Februari 2013

Hari Pertama.


 Subang #1
Baiklah, kerinduan yang mendalam yang membawaku kembali ke tempat ini. Aku menyebutnya kampung halaman kedua. Aku sudah merencanakan untuk datang ke tempat ini setahun lalu dan sudah masuk dalam list tempat yang akan kukunjungi pada waktu itu, akhirnya setelah menunggu momen yang tepat aku bisa kembali ke tempat ini. Kerinduan akan suasana pedesaan yang kuinginkan beserta orang-orang didalamnya. Dua belas jam kutempuh dengan menggunkan bus dari jogja, cukup melelahkan dan cukup membuat kaki ku bengkak. I missed my grandma so bad. Karena pada akhirnya aku tersiksa jika harus kutahan terus kerinduanku.
Liburanku kali ini bertemakan “silaturahim”, aku tidak berniat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Aku hanya ingin melepas kerinduanku disini. Aku sudah mengatur jadwal kemana harus kukunjungi tempat saudara, ayah telah mengatur semua. Ya,, karena aku pun tak ingat rumah siapa saja yang harus kukunjungi, makam siapa yang harus kudatangi. Tiga hari harus kumanfaatkan untuk mengunjungi saudara. Silaturahmi itu memperpanjang umur.
Aku bangun lebih segar pagi ini, dan setelah selesai beres-beres kusempatkan duduk di bangku belakang rumah, dulu masih ada ratusan bebek di kandang, sekarang tinggal beberapa itik jenis Alabiyo dan beberapa pohon pisang gepok. Tiba-tiba bibi datang dari balik pintu, “ini kopinya, dan kulihat segelas kopi hitam pekat. Oh my God, aku hanya suka kopi pada saat ujian saja. Apalagi ini kopi hitam, ku coba hirup aromanya dan ternyata tak begitu spesial. Karena memang aku bukan penikmat kopi. Dan nyatanya aku menghabiskan setengahnya.
Beberapa saat kemudian, aku menelfon ayah untuk mempertanyakan ulang tentang ke tempat siapa aku harus berkunjung. Setelah merasa siap aku berkunjung ke rumah nenek, biasanya aku memanggilnya Ma Tua. Aku sudah menyiapkan oleh-oleh khas jogja seperti Bakpia, wingko dan peyek tumpuk. Dengan penuh semangat aku pergi ke rumah Ma Tua yang jaraknya hanya beberpa rumah dari rumah yang kutempati saat ini.  
Saat kutemui beliau, ia sedang berjalan-jalan disekitar rumahnya dan beliau kini memakai tongkat. Aku datang dihadapannya dengan senyum terbaik dan penuh kerinduan. Beliau bertanya kepadaku “ ari kien sapa ? dan kujawab iki hamid ma, hamid sapa ? hamid anake... ? ia ma, kie hamid. Beliau sudah tua dan mungkin beliau pangling denganku. Sejak pertama bertemu, I wanna cry but I may hod it for few minutes. I see my mother still alive in her soul, that’s why I really wanna cry. Kemudian aku masuk kedalam rumah beliau dan bertemu dengan beberapa saudara lainnya, mereka pangling dengan kondisiku saat ini. Aku masih mengatur nafas, menghirup dan mengeluarkannya lagi. you should keep your tears. Aku berbicara sedikit pada beliau dan beliau yang lebih sering bertanya padaku dan menceritakan kondisinya saat ini. Mataku sudah merah, hidung sudah berair. It’s appear naturally, I just said  to my self : hamid you can hold your tears. Untuk beberapa saat ia, sudah dua gelas teh yang kuhabiskan sejak tadi. Beliau terus bercerita dan kadang kita hanya saling berdiam-diaman untuk beberpa menit. Oh my God, aku  nangis dan air mata itu keluar dengan sendirinya.
I miss to you grandma because I can see my mom still alive on you. Love you.
Kebondanas, 02 Februari 2013
Abdul Hamid

Senin, 28 Januari 2013

I’m dreaming and universe conspire to make it happen.



            Akhir-akhir ini sering sekali mendapat pertanyaan seputar pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Pertanyaan yang diajukan mereka pun beragam, baru saja aku mendapat telfon dari seorang ibu yang menginginkan ankanya masuk ke kampus biru (UGM). Perbincangan lewat telfon berlangsung cukup lama, aku menjelaskan tentang kebijakan baru kampus serta hal yang terkait dengan seleksi penerimaan. Aku sangat bersyukur sekali tergabung dalam pers mahasiswa Universitas yang membuatku lebih peka tentang kebijakan kampus. Hal itu memudahkanku dalam menjawab pertanyaan beberapa orang tua dan teman tentang kampusku.
            Baiklah, sekarang aku sudah menjadi mahasiswa semester tiga di universitas yang pernah kuimpikan empat tahun lalu. Pertanyaan dari beberapa orang dan harapan yang besar dari beberapa teman yang ingin masuk ke UGM termasuk adikku yang selalu ku motivasi untuk eliminating the limits dan percaya pada impian. Ingat sebuah ungkapan You can if you think you can dan tentunya usaha dan doa adalah hal terpenting untuk menjadikan itu nyata. Momen-momen seperti ini mengingatkanku tentang perjuangan sebuah impian dan harapan beberapa tahun lalu. I believe in dreams and I believe in miracles.
Tentang sebuah kata yang kutempel di loker asrama.
            Tulislah apa yang menjadi keinginanmu, agar apa yang kau impikan tidak lewat begitu saja, agar ia menjadi cahaya yang akan selalu menghidupi semangatmu untuk meraih mimpi-mimpimu. Setidaknya itulah kata-kata yang pernah kudengar dari seorang motivator. Tulisanku yang ke 140 ini memang bercerita tentang impianku masuk ke perguruan tinggi favoritku, salah satu universitas yang dimimpikan oleh ribuan anak bangsa di negeri ini. I’m an inspirator freak itulah julukan yang kusematkan padaku. Aku selalu iri pada temanku yang berhasil mewujudkan impiannya. Secara tidak sadar mereka adalah invisible energizer for me.
            Kehidupan asrama yang kujalani selama menjadi seorang santri, memberi warna tersendiri bagi hidupku. Terpisah jarak yang sangat jauh dengan orang tua, kerinduan memang menjadi masalah besar ketika awal-awal menjadi santri. As time goes by semua masalah bisa ter cover dengan baik. Bersyukur aku ditempatkan disebuah asrama yang selalu membuatku untuk terus belajar dan menjadi lebih baik, tinggal satu kamar dengan teman-teman yang luar biasa. Kita selalu berbicara tentang masa depan, sebuah masa dimana semuanya akan menjadi lebih baik.
            Aku masih ingat detail kisah kehidupanku selama menjadi santri, detail kisah tentang sebuah kata yang kutempel di loker asrama. Aku sudah mempunyai rencana kemana aku harus melanjutkan perkuliahanku sejak awal menjadi santri. Keinginanku saat itu adalah aku akan melanjutkan study ke Universitas Gadjah Mada. Dan ku buat rangkaian kata tersebut dengan serius, aku buat tulisan universitas dengan busa, tujuannya agar tahan lama. Dan akhirnya jadilah sebuah tulisan yang menjadi penyemangatku “UGM” setiap kali membuka lemari. Aku masih ingat teman sekamarku sangat mendukungku dan mereka juga ikut mendoaakan. Thanks God.
            I have failed and regreted for many times, my tears are can’t be stopped sometimes. And so mony accountable strugle in reaching my dreams. When happiness, Sadness, worriness, fearness are melt together into a good collaboratian and be a harmoni in my life. I enjoy every single step that I took. I’m loving throughout my life and I have dealt with my self to sacrifice for the dreams that I have made.
            Saat ini everythings becomes real, aku menjadi Mahasiswa di sebuah universitas yang dulu pernah kuinginkan. I realize when we believe in dream, the universe will conspire to make it happen. Live your dream. !
           
            Abdul Hamid
Santri pondok pesantren Krapyak Yogyakarta.

Sabtu, 26 Januari 2013

To reflect and to act

       
  Ini bukan bagian dari materi perkuliahan Pembangunan Masyarakat, dosen saya bilang materi  ini sebagai suplemen tambahan agar kita menjadi lebih sadar, agar kita lebih merenung untuk kehidupan bangsa indonesia yang lebih baik. baiklah, semua pesan berantai yang diberikan oleh dosen saya semuanya menggunakan power point. sehingga sangat tidak memungkinkan bagi saya untuk meng-attach pada tulisan saya yang ke 139 imi. namun jangan khawatir pesan tidak akan tersampaikan. inilah rangkuman yang dapat saya share kepada para pembaca semua.
          Perbedaan antara negara kaya dan miskin tidak bergantung pada umur suatu negara, contohnya adalah mesir dan india yang umurnya lebih dari 2000 tahun namun saat ini mereka tetap tidak dikatakan sebagai negara maju, disisi lain Kanada, New zealand dan Singapura negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun saat ini merupakan negara yang maju dan penduduknya tidak miskin lagi. mereka menjadi negara yang dikagumi oleh setiap orang sebagai tempat belajar maupun berwisata. saya katakan bahwa "kekayaan sumber daya alam tidak menjamin suatu negara akan menjadi kaya atau miskin". mari bercermin pada Jepang. jepang merupakan negara yang luas daratannya sangat terbatas, hampir 80 % luas wilayahnya berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan. namun saat ini jepang merupakan salah satu raksasa ekonomi dunia, Jepang laksana negara Industri terapung yang besar mereka banyak mengimpor barang mentah yang selnjutnya mengekspor kembali menjadi barang jadi (siap digunakan). Contoh lainnya adalah Swiss, Swiss merupakan negara penghasil coklat terbaik di dunia, padahal hanya 11 % dari luas wilayahnya (daratan) yang bisa ditanami dan negara ini merupakan negara penghasil susu terbaik di dunia.  negara ini juga tidak memiliki reputasi keamanan dan integritas yang baik namun bank-bank di negara ini sangat disukai oleh orang di dunia. 
         Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan rekannya yang berada di negara berkembang dan negara miskin, mereka sependapat bahwa tidak ada perbedaan mencolok dalam hal kecerdasan, warna kulit dan ras juga tidak menjadi jaminan bahwa suatu negara dikatakan miskin ataupun kaya. para imigran yang dikatakan malas di negara asalnya namun mampu menjadi pekerja yang produktif di negara-negara maju seperti di eropa, then the big question arise. so, what the difference ? perbedaanya adalah pada sikap dan pola hidup masyarakatnya yang terbentuk selama bertahun-tahun oleh pendidikan dan kebudayaan. 
        Berdasarkan analisis perilaku masyarakat di negara majau, ternyata para masyarakatnya mematuhi/mengikuti prinsip-prinsip dasar kehidupan. yaitu :
1. Etika, sebagai prinsip dasar kehidupan sehari-hari.
2. Kejujuran dan integritas
3. Bertanggung jawab
4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
5. Hormat kepada orang/hak orang
6. Cinta pada pekerjaan
7. Mau bekerja keras
8. Berusaha kerja keras untuk menabung dan investasi
9. Tepat waktu
di negara miskin/terbelakang/berkembang hanya sedikit yang melakukan prinsip-prinsip dasar kehidupan tersebut. 
            kita bukan miskin (terbelakang) karena sumber daya alam kita, atau alam yang kejam pada kita. negri ini dikaruniai kekayaan alam yang sangat luar biasa, batu bara, hutan, minyak dan gas. dll. kita miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik. kita kekurangan kemauan untuk mengerjakan dan mengajarkan prinsip kehidupan yang memungkinkan masyarakat kita membangun ekonomi, bangsa dan negara. mari bertindak dimulai dari hal-hal kecil. semoga menyadarkan.

Rabu, 23 Januari 2013

Be Proud of who you are. !

 I'm Hamid, I'm 19th years old. currently I'm as a student of Gadjah Mada University. as many other student in my college, I'm following some organizations and active in some discusions, seminar and conference. but, the most I fond of my life is being a Santri. The tradition of my big family has created me to be I'm now, currently I'm a Santri of Ali Maksum Krapyak. I started to be Santri since I became Senior High School student. at the first time, everything felt so flat and I do not found my world. I've to honest, I'm strugle to survive in my new world. being a Santri. I learnt a lot during the process of my studying in Islamic Boarding School, or familiar with Pesantren. here the place where everything balance, I learn religion also general science. I'm becaming an open minded person. it cuts the history if pesantren give restriction to the student, in term of focus to learn in one subject. pesantren has transform to be better without leave its roots. I'm proud to be santri.

some friends are ask to me, why you are still live in pesantren ? meanwhile you've graduted and you are busy of college bussiness and your organization. I try to explain them, eventhough. I've a lot of bussiness and the assigment both are filling my head, somehow. I can relax when I back to pesantren. meet up with friends and my junior are invisible energizer for me.
I can't reject, if stress sometimes emerge my self. I've to say : The magnet is too strong for me. I've melted with the daily life in here.

-Be proud of who you are, proud of your self is better than pretend to be who you are. I'm Hamid and I'm proud of my self, I'm proud to be Santri. Cherish your self.

Minggu, 20 Januari 2013

Jalur Dua Inside !

Bus jalur 2 melewati jalan Abu Bakar Ali. 

wajah transportasi negeri ini begitu memprihatinkan, dari sisi pengelolaan sampai dengan kondisi yang tidak layak jalan, emisi carbon berlebihan serta setumpuk masalah lainnya. sebagai mahasiswa yang setiap hari menggunakan angkutan umum merasa kurang nyaman. di kota yogya sendiri ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan seperti bus kobutri, trans jogja, delman, becak, motor serta sepeda. hampir setiap hari saya menggunakan bus untuk pergi ke kampus. perbedaan mencolok sangat terasa, saya hanya membayar sebanyak Rp. 3000 untuk bisa keliling jogja dan ke kampus dengan Bus Trans jogja yang full Ac dan penunjuk rute. dan saya membayar Rp. 2500 untuk setiap jali jalan ke kampus dengan menggunakan bus kobutri. bau rokok orang yang belum sadar, polusi, pelayanan kernet bus yang kadang kurang mengenakkan, banyak pengamen namun saya merasa telah klik dengan kondisi tersebut. saya hanya butuh menjauhi perokok, menggunakan masker dan sedikit lebih sabar. saya sudah mengetahui bagaimana mengatasinya. itulah mengapa saya menulis postingan ini yang bercerita kehidupan 1 jam berada di bus, setiap kali pergi dan pulang dari kampus.

Ini akan menjadi kisah yang tak terlupakan, menjadi goresan yang indah dan menempati ruang hati terdalam. never forget every single moment on the bus, when my happiness and anger are melting inside. -Abdul hamid

All About the Bus.
hampir setiap hari saya menggunakan bus untuk pergi ke kampus, saya menggunakan bus jalur dua yang melayani trayek dari terminal hingga kampus. kondisi bus ada yang baik namun tidak sedikit yang sangat memprihatinkan,. kalo lagi untung dapet  bus yang agak enakan tapi kalo belum beruntung harus rela dapet bus yang mogokkan. hampir satu setengah tahun menjadi pelanggan setia moda transportasi ini. jadi sudah tahu busuknya dan tentunya kebaikannya juga, disini saya banyak belajar tentang kehidupan. belajar tentang kesabaran, arti berbagi, ketulusan. 

jika difikir itu hanya sebuah bus, namun akan ada banyak pelajaran bagi ia yang peka.

pengguna transportasi ini adalah mereka para pelajar SD, SMP, SMA serta Mahasiswa. namun yang lebih dominan adalah para ibu-ibu yang akan pergi ke pasar, yang  sering  saya lihat adalah wanita-wanita tua jogja yang kuat. saya hampir setiap hari menyaksikan lansia berumur lebih dari 70 tahun masih kuat membawa barang dagangan atau belanjaan. kebanyakan dari mereka berasal dari pedesaan di Bantul yang terkadang harus berganti bus dua kali untuk mencapai pasar terbesar di yogyakarta. pasar Beringharjo. di wajahnya menggoreskan pengalaman hidup yang luar biasa, lewat setiap relief di wajahnya. selain itu tak jarang saya jumpai turis mancanegara naik bus ini juga.

Jogja berhati nyaman !

memang betul kalo dibilang "jogja berhati nyaman", setiap kali naik bus jalur dua. selalu ada senyum dari wajah-wajah orang jogja. biasanya yang nggak senyum bukan orang jogja. selain itu, yang saya amati adalah kedekatan emosional antara penumpang dan supir busnya. mungkin karena sudah menjadi langganan atau apalah itu, ketika ada seorang ibu membawa anaknya untuk ke rumah sakit si supir malah memberi uang pada anak ibu tersebut, kalo sudah bisa menggaet hati supir malah-malah bisa digratisin.selain itu bagi para pengamen biasanya gratis. what a wonderful life inilah yang disebut harmoni.
saya ingat ketika habis pulang dari kampus, saat itu kondisi bis lumayan ramai. ketika itu bis berhenti di daerah malioboro. tiga orang pria dengan tampang semacam kalem keluar. setelah mereka menjauh dari bus, sang supir bilang "adakah barang yang hilang ? ketiga orang tadi adalah copet". oh my gosh ! saa't itu saya sangat terkejut. hal yang menurut saya luar biasa adalah, biasanya para penumpang yang lebih muda akan membayar ongkos para lansia. 

Tentang seorang pengamen.

setidaknya hampir setiap hari saya menemukan dua orang pengamen yang sama. dengan suara yang lumayan enak mereka bernyanyi. kebanyakan dari mereka bernyanyi lagu galau atau kisah percintaan yang kandas. that's the fact. ada juga pengamen yang mengumpat jika tidak diberi uang. saya sangat jarang sekali memberi mereka uang. saya akan memberi uang pada mereka jika lagu yang mereka nyanyikan menurut saya bagus, kedua. dua pengamen yang saya jumpai menurut fisik yang terlihat memang terlihat baik. mobile phone mereka bagus, memiliki motor, sandal mereka juga bagus. jadi buat apa saya beri uang kepada mereka. mereka sudah terlihat lebih baik.
para pengamen dan para supir serta kernet mereka juga sudah saling mengenal. dan terkadang para pengamen memberikan info kepada supir dan kernet. intinya berbicara masalah bus.

Harus punya kesabaran lebih.

seperti yang saya katakan sebelumnya, kondisi bus jalur dua tidak semuanya bagus. ada kondisinya yang menurut saya kurang layak, hal yang paling saya tidak suka adalah. biasanya bus ini ngetem nya lama hinga 10 menit lebih. belum lagi kondisi kota jogja kalo musim panas. oh my gosh ! tidak jarang saya mendengar umpatan-umpatan para penumpang. menurut saya itu wajar kalo udah keterlaluan.

andai saja kondisi busnya lebih baik, mungkin ceritanya akan berbeda. saya menikmati setiap hal yang dilewati dalam hidup saya. I love my life.