Rabu, 31 Mei 2017

Ngontel Sebelum Puasa: Pagi- Pagi Ke Pantai Parangtitis

I don't ride a bike to add days to my life. I ride a bike to add life to my days

      Rencana ngontel ke Paris (akronim dari kata Parangtritis, salah satu pantai di Kabupaten Bantul) sudah lama diwacanakan, namun baru terealisasi beberapa hari lalu. Pantai Parangtritis menjadi destinasi kegiatan akhir ngontelku terjauh dengan sepeda yang sekarang, yang sebelumnya telah menyusuri perbukitan Kulon progo, pedesaan di Sleman bagian atas, hingga eksotisme Borobudur. Pemilihan lokasi Parangtritis dikarenakan, ironisnya hampir delapan tahun mukim di Jogja baru kali ini kesana. Biasanya kalau mlipir ke daerah selatan selalu pergi ke Pantai Depok yang juga sejalur dengan Pantai Parangtritis, nah mumpung ada waktu dan tenaga akhirnya kegiatan ngontel dapat diselesaikan. Mission accomplished.

Suasana pagi di Pantai Parangtritis. 
Perjalanan dimulai puku 05.15 WIB, agak molor dari yang direncanakan, karena harus menuntaskan krosing (kroso ngising) dulu. Mwehehe. Setelah selesai urusan, langsung tancap pedal. Aku mengambil rute Jalan Parangtritis, karena lebih mudah, meski tempatku lebih dekat dengan Jalan Bantul.

Hal yang paling aku suka dari bersepeda di pagi hari adalah udara pagi yang masih segar dan suasana jalanan yang masih sepi, jadi bisa tancap pedal lebih keras lagi. Jarak dari tempatku ke pantai Paris kurang lebih 40 km bolak-balik. Lumayan jauh juga. Perjalanan berangkat ditempuh sekitar 90 menit sedangkan perjalanan pulang lebih lama, karena energi yang sudah terkuras.

Sering sekali dapat pertanyaan begini, siapa sih yang motoin? kan perginya sendiri. Biasanya aku minta orang-orang yang lewat untuk motoin, tapi sebelumnya di brief dulu, biar hasilnya memuaskan. Foto ini diambil oleh anak SD yang kebetulan sedang lewat di atas jembatan Kretek. Hehe

Selama perjalanan menuju selatan Jogja, disuguhi pemandangan persawahan yang menghijau, dan bukit-bukit yang tertutup kabut. Juga masih banyak masyarakat yang berolahraga pagi, joging. Ternyata nikmat sekali, tak perlu mengeluarkan kocek banyak untuk suatu ketenangan batin, kalau kata John F. Kennedy "Nothing compares to the simple pleasure of a bike ride".

Golden hours dipinggir kali Opak, di pagi hari sungai ini biasa dijadikan sebagai tempat latihan kano oleh para atlet.
This is my gym
Kali Opak menjadi tanda bahwa lokasi Pantai Parangtritis sudah dekat. Tinggal beberapa kilometer saja, dan akhirnya sampai juga di tempat tujuan.

Suasana pagi di Pantai Parangtritis, sudah cukup ramai.

My gym, mwehehe. Sebenarnya untuk jaga-jaga saja, karena parkiran jauh jadi saya bawa saja sepedanya ke pinggir laut.
Rencananya mau ambil gambar sedang asik sepedaan dipinggir pantai, tapi apa daya sepeda nggak mau jalan. Akhirnya pake cengkal (standar), mungkin kurang ke pinggir kali ya.
Sunbathe
Setelah dirasa cukup, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Misi terselesaikan dengan baik. Siap-siap bawa air yang banyak kalau mau sepedaan ke Pantai Parangtritis, bawa uang juga, siapa tahu lapar. Karena godaan sate kambing dan warung tongseng akan selalu membayangi selama perjalanan. Hehe
Perjalanan pulang dengan sisa-sisa tenaga



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hidup ini seperti thawaf

photo by : Gallusia crew magazine Judul tulisan  ini terinspirasi oleh buku tentang Pak Cacuk belajar tiada henti, dalam halaman pem...