Sabtu, 15 Oktober 2016

Liburan ke Bali, Indonesia


  The Beginning   

          Ceritanya begini, keputusan untuk liburan ke Bali sebenarnya sangat mendadak ( biasanya kalo rencana kadang-kadang wacana). aku dihubungi oleh Mr X (Irhas) untuk liburan ke Bali karena ada waktu libur yang cukup lama. Awalnya sih pikir-pikir dulu. Namun setelah beberapa hari akhirnya aku mengiakan tawaran Mr. X. gayung bersambut dan ternyata sudah bergabung terlebih dahulu Mr. Y (Hendry) dan Mr. Z (Mahin). 
mari kita mulai saja ceritanya, 

Stasiun Lempuyangan ( Jogja ) - Banyuwangi Baru (Banyuwangi)

Photo dulu sebelum berangkat. (Stasiun Lempuyangan)
Perjalanan dari Jogja ke Bali kami tempuh dengan menggunakan Kereta Api (KA) Sri Tanjung, the one and only train which has direct route to Banyuwangi (BWI). Harga tiketnya hanya Rp. 95.000 saja, berangkat dari St. Lempuyangan pukul 07. 00 WIB dan tiba di Banyuwangi pukul 21.30 WIB.


        Kereta Api Sri Tanjung merupakan KA Ekonomi, jadi jangan bayangkan bisa leyeh-leyeh dengan santai. Aku, mr Y, dan Z medapat kursi dekat dengan pintu keluar. Kami duduk berlima dengan dua penumpang lainnya. Satu penumpang wanita dan sisanya mahasiswa super tingkat akhir. Selama perjalanan 3 jam pertama adalah masa penyesuaian dengan duduk tegap dan dengkul berdempetan. kami berkali-kali stretching untuk melemaskan otot-otot yang kaku, lebih tepatnya ngulet. berdiri-ngulet-duduk-toilet and repeat.


       Selama hampir 14 jam perjlanan bukanlah waktu yang singkat, butu banyak energi. karenaya untuk mengganjal lapar, kami menyiasatinya dengan membawa bekal Pop mie, roti gandum, dan jajanan lainnya. Atas rekomendasi Mr Z. Beliau ngendikan : "untuk mengganjal perut selama perjalanan mending beli pop mie, ntar disediakan air panas di kereta". Wah senangya, ini akan menghemat budget. Saat perut mulai keroncongan dan cacing-cacing sudah teriak-teriak, Mr. Z pergi mencari air panas, Namun kenyataanya air panas tidak boleh diminta/dibeli. Akhirnya untuk beberapa saat kami masih bisa tahan dengan makan roti gandum
       Beberapa jam berlalu. Setelah menghirup aroma pop mie dari mba-mba disebelah, akhirnya kami memutuskan untuk membeli Pop Mie dengan harga Rp. 10.000, saat itu di Sidoarjo dan keeta sedang melewati tanggul Lapindo dan Kali Porong, kenyang !.

Setelah perjalanan yang melelahkan akhirnya sampailah di Stasiun Banyuwangi Baru (St. akhir), sampai di BWI kita serombongan dengan mas-mas yang akan mendaki Gn. Agung langsung makan di warung sekitar stasiun (lupa namanya). Menu yang saya pesan yaitu nasi sayur+tempe+gulai teri+sambel+pisang hanya Rp. 12.000.


Setelah perut kenyang dan pikiran pun tenang, akhirnya kita sholat isya. Ada masjid di depan pelabuhan. Jarak stasiun ke pelabuhan hanya 5 menit sehingga bisa ditempuh hanya denga berjalan kaki saja. Setelah makan, sholat dan kita diskusi. Akhirnya kita putuskan untuk nyebrang besok pagi jam 07.00 WIB agar pas sampai hotel bisa langsung check in.

Train situation : Phisically exhausted


Semilir : antara Ketapang-Gilimanuk

Suasana di kapal.

       Ada dua opsi untuk sampai ke Bali. Opsi pertama adalah kita naik bus dari Banyuwangi – terminal Ubung dengan biaya Rp. 80.000, keuntungannya adalah bus ber-ac dan kita nggak perlu jalan nyebrang dan nyari-nyari bus ke tujuan selanjutnya.


Opsi kedua adalah, kita nyberang jalan kaki dengan membayar tiket penyebrangan Rp. 8000 dan dilanjutkan dengan naik minibus ke terminal Ubung dengan biaya Rp. 40.000. Akhirnya kita pilih opsi kedua, supaya kerasa kalo lagi backpacking.


Suasana pelabuhan Ketapang pagi ini cukup ramai, kapal Verry yang kami naiki pun demikian. Bila dilihat dari plat mobil di dek bawah, kebanyakan penumpang berasal dari Surabaya dan Malang. Kami menyebrang pukul 08.00 WIB dan sampai 09.30 WITA. 


Verry yang kami tumpangi cukup nyaman dengan 70% bagian kapal terbuka sehigga angin laut dengan leluasa masuk. Menyegarkan sekali suasana pagi ini.

To be honest, suasana yang tadinya adem ayem dan semriwing terdistraksi oleh sampah yang mengapung cukup banyak di laut. it's so sad.


Setelah terombang-ambing di lautan sekitar 30 menit, sampailah di pelabuhan Gilimanuk Kabupaten Jembrana.

Tiba di Pelabuhan Gilimanuk, teman saya Mr. Y dan Z. membeli sarapan nasi ayam dan beberapa gorengan dengan harga Rp. 6.000 (lokasi pintu keluar pelabuhan). Lazimnya di terminal, stasiun, bahkan bandara akan ada banyak sekali bapak-bapak yang menawarkan jasa transportasi, namun kita putuskan untuk jalan keluar pelabuhan dulu until we met supir mini bus yang menwarkan transportasi ke Ubung.


Tapi sebelum naik bus, kita minta waktu sebentar untuk menikmati sarapan di sekitar pelabuhan. Ada beberapa gazebo yang disediakan dengan view mangrove yang menarik.

lokasi : Pelabuhan Gilimanuk


Gilimanuk-Terminal Ubung-Hotel

      Kami menggunakan minibus berwarna hijau, minibus disini mirip sekali dengan bus Bantulan, jurusan Jogja-Parangtritis. At the first time, semua terasa nyaman dan lega. Tapi setelah beberapa jam kemudian muncul penumpang lainnya, walhasil suasana semakin sesak dan tidak nyaman (asap rokok everywhere) dan ini berlangsung selama 240 menit.

Selama perjalanan menuju Terminal Ubung kami disuguhkan oleh pemandangan persawahan indah dan rumah-rumah khas Bali dengan Pura berbagai ukuran.

Bali is very hot. Setelah sampai di Terminal Ubung, kita langsung buka Google Maps (GM). Menurut GM, hotel kita berada di dekat terminal. Setelah muter-muter mencari hotel dan sedikit bingung membaca GM, akhirnya hotel yang kita tuju ketemu . (kurang sesuaid dengan di Map)

Yayy, kita bisa langsung Check-In di Lavarta Hotel (We booked the hotel via traveloka.com).

Penampakan kamar


DAY 1
  

      Ada beberapa saran bagi kamu yang akan mengunjungi Bali dengan backpacking, since there is no any decent public transportation we can access in Bali kita bisa menyewa motor. Harga sewa perhari sebesar 70.000, dengan menyewa motor kita bisa menuju ke tempat-tempat wisata dengan mudah.

Saran kedua, it is important to download some apps like Gojek, Uber. 
Bagi para backpacker muslim jangan khawatir, meskipun banyak warung babi guling . tapi kamu bisa makan di warung padang/ rumah makan jawa muslim/ atau rumah makan bertanda halal. 

Pantai Sanur, merupakan salah satu spot yang sering sekali dikunjungi wisatawan. sepanjang garis pantai dipenuhi oleh kafe-kafe dan hotel-hotel berbintang dengan kolam-kolam yang menghadap langsung ke laut.
pantainya cukup bersih dengan pasir putih dan air yang biru kehijauan. Saran saat mengunjungi Sanur lebih enak pada pagi hari atau sore hari, pada saat siang suasana begitu terik. 

at Sanur beach


 
Selain bisa menikmati indahnya pantai. pengunjung juga bisa membeli buah tangan yang tersedia di sepanjang jalan. Nah bagi yang membawa gadget juga gak usah khawatir, karena dibawah pohon-pohon ditepi pantai ada colokan. 

The turquoise waters vibes.


Dari pantai Sanur kita menuju ke Garuda Wisnu Kencana (GWK). tempat ini merupakan tempat pertunjukan seni dengan patung Garuda yang besar. nah, waktu yang bagus untuk mengunjungi tempat ini juga sore hari karena lebih adem dan view akan sangat bagus sekali.

Aku hanya sampai di pelatarannya saja, karena mengejar waktu untuk sampai ke Pura Uluwatu dan pantai uluwatu.

at Garuda Wisnu Kencana

Destinasi selanjutnya adalah Pura Uluwatu. Butuh waktu sekitar 60 menit dari GWK ke Pura Uluwatu dengan jalanan yang cukup padat.
Pura Uluwatu merupakan tempat yang sakral. Para pengunjung yang datang harus berpakaian sopan, bagi pengunjung yang mengenakan celana pendek akan diberi semacam kain sarung yang dapat menutup aurat, dan selainnya menggunakan kain yang diikatkan diperut. oh iya, bagi yang sedang haid dilarang masuk.
harap berhati-hati saat mengunjungi tempat ini, karena akan banyak monyet berkeliaran. aku juga melihat sendiri kacamata seorang pengunjung diambil monyet.
Tiket masuk ke area ini sebesar Rp. 20.000 (wisatawan domestik) dan Rp. 30.000 (wisatawan asing)
 Pura Uluwatu's situation
Pura Uluwatu menghadap ke laut lepas, sehingga menjadikannya tempat yang tenang sebagai sebuah tempat peribadatan. Belaian angin laut dan deburan ombak menghantam karang adalah salah satu pemandangan yang sayang dilewatkan.

Karena tempatnya naik turun, harus siap secara fisik ya.
Destinasi terakhir pada hari pertama adalah pantai Uluwatu. butuh sekitar 20 menit dari Pura Uluwatu menuju pantai Uluwatu. Nah disini adalah momen ketika hampir semua pengunjung adalah bule-bule dan kita berasa lagi diluar indonesia (Nggak cuma disini ding!, hampir semua tempat!). kafe-kafe disini hampir semua diisi oleh wisman, ada yang membawa papan surfing, mandi dipinggir jalan, dan mbak-mbak berbikini yang dengan leluasa berkeliaran. astagfirullohaladzim, hehe
Lokasi pantai uluwatu menjorok ke bawah sehingga harus menuruni banyak sekali anak tangga. Pantainya kecil dengan batuan karst yang dominan. Bagi pecinta surfng, pantai ini sangat cocok.

Day 2
Romantisme Ubud


       Welcome to a global village, Ubud. Hari kedua, kita menginap di salah satu hostel (mix dorm) yang ada di daerah Ubud. Ubud merupakan perkampungan yang dikunjungi oleh banyak wisatawan asing, hampir disetiap kafe dan hostel dihuni oleh mas dan mba bule. 
Ubud ini mirip-mirip dengan Prawirotaman di Jogja, namun lebih luas wilayahnya. Suasana disini begitu nyaman dan asri. Toko-toko dengan etalase unik yang memanjakan mata, para turis yang sedang jogging, jalan-jalan sore, membaca buku, menikmati makanan dan minuman di kafe adalah keseharian di Ubud, kontrast sekali dengan pantai uluwatu yang begitu bising dengan musik, disini nyaman.

Suasana pagi hari saat gerimis, Ubud. Masih ada janur-janur, beruntung sekali dapat momen pas perayaan galungan.
pasar pagi, Ubud
Selama di Ubud kita menginap di hostel Puri Dewangga, hanya dengan membayar Rp. 80.000 / malam + sarapan pagi (egg scrumbled) + free tea/coffee, hot water. cukup worth it lah.

di dalam hostel ada space cukup luas untuk interaksi antar pengunjung dan tempat santai, tempat ini cocok untuk membaca ditemani secangkir kopi/teh dan suara gemricik air mancur.


Setelah selesai check in, kita memutuskan untuk langsung pergi jalan-jalan. Tujuan selanjutnya adalah Kintamani.

Jeruk Segar dan Anjing Kintamani

Kintamani merupakan daerah dataran tinggi, wajar saja kalau cuaca disini sejuk. Karena wilayahnya yang sejuk maka daerah ini sangat sesuai untuk budidaya pertanian, baik tanaman buah maupun sayur. Sepanjang perjalanan banyak sekali pohon jeruk dan pedagang yang menjualnya dipinggir jalan, bikin nggak fokus.
Jalan yang kami lalui menanjak dan masih dengan pemandangan tanaman sayur dan buah yang menyegarkan mata. Ah pesonanya sungguh sulit ditolak, akhirnya aku putuskan untuk membeli jeruk. Nah, karena biasanya penjual dipinggir jalan menjual dengan harga yang lebih mahal, aku putuskan untuk membeli langsung di petaninya.
Luar biasa sekali sambutannya, petaninya ramah, jeruknya baru metik, dan kita bisa makan tester cukup banyak.

Petani jeruk
Selain terkenal dengan produk buah dan sayurnya. Kintamani juga dikenal dengan anjingnya, yaitu anjing kintamani dengan karakteristik rambut hitam mendominasi tubuhnya. Bahkan ada nyanyiannya.. njing, anjing, anjing, kintamani...
Hampir setiap warga mempunyai anjing sebagi penjaga rumah, nah pengalaman ketika aku membeli jeruk di petaninya saya didekati beberapa anjing. agak khawatir sih, semenjak setahun lalu dikejar anjing. namun, dengan tenang akhirnya biasa-biasa saja.

Nah, selama perjalanan bisa juga berhenti sebentar dan berfoto dengan view gunung Agung yang melegenda.
Bedugul yang tenang

Tau kan gambar uang rupiah lima puluh ribu? nah gambar pada uang tersebut adalah pura di Bedugul yang aku kunjungi beberapa minggu lalu. Nama puranya adalah Pura Ulun Danu Bratan, lokasi pura yang berada ditepi danau Bratan membuatnya tampak tenang dan sakral, nyaman sekali untuk beribadah. 
Karena lokasinya berada diketinggian, suhu disini cukup sejuk dan nyaman. Selain bisa menikmati the iconic of bedugul, para pengunjung juga bisa menikmati wahana lainnya, Seperti naik perahu keliling danau atau bisa juga naik bebek-bebekan.

The iconic of Bedugul
 
Perahu bebek

Pelataran menuju pura


Day 3
Tanah Lot dan Legian
Pada hari ketiga kita move ke daerah legian. Penginapan yang kita booked ini sedikit berbeda, karena kita tidur di dalam kapsul. (Bedbunkers at Jl. Patih jelantik, legian). Hostel ini cocok bagi para backpacker dengan budget pas-pasan. 

Setelah check in dan drop barang, kita langsung menuju pura Tanah Lot, nggak afdol katanya kalo belum kesini. Dari Legian ke Tanah Lot adalah perjalanan yang cukup melelahkan karena macet yang luar biasa, tapi alhamdulillah masih bisa sampai lokasi sebelum matahari terbenam. 


Tanah Lot
 
Tourists activity around the Pura


Day 4
Jogging di Legian Beach

Yahh, ini adalah hari terakhir di Bali. Tiket pesawat dari Denpasar menuju Yogyakarta take off pukul 11.00 WITA, sebetulnya masih banyak tempat yang belum disinggahi namun karena keterbatasan waktu dan biaya kita sudahi liburan ini. and I definitely will came back to Bali in the near future.
Berhubung hostel kita dekat dengan pantai Legian, kami putuskan untuk lari pagi dulu di pantai, ah nikmatnya. Suasana pantai yang bersih dan sepi membuat kami enggan untuk segera beranjak.

Morning run at Legian beach

Mahin enjoys the wave by the shore
Pulang
Esensi dari perjalanan adalah dapat kembali pulang dengan selamat. Sebelum pulang kita pergi beli oleh-oleh di Jogger Bali. dan finally kita sudah di bandara.

Menunggu.
Nah ini dia rincian detail budget yang kita habiskan per-orang.
Kereta Api Jogja (Lempuyangan) - Banyuwangi Baru = 95.000
Tiket Penyebrangan = 8.000
Bus Gilimanuk - Terminal Ubung = 40.000
Hotel hari pertama dan kedua = 132.000
Sewa motor 3 hari = 105.000 (sudah dibagi 2 orang)
Hostel di Ubud = 80.000
Hostel di Legian = 100.000
Tiket pesawat pulang = 450.000

Total biaya akomodasi = Rp. 1.010.000 ( Belum termasuk bensin, makan, dan oleh-oleh).


Thank you, sudah mampir dan membaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar