Kamis, 28 Februari 2013

Daya tahan adalah sekumpulan "kesabaran aktif" tanpa kemarahan dan kebencian. - Anas Urbaningrum.

Saya selalu diceritakan kisah perjuangan oleh orang tua ketika masih SD, bahkan sampai sekarangpun masih. beliau selalu mengaitkan setiap masalah yang saya alami dengan masalah yang lebih tragis menimpanya saat beliau menuntut ilmu. kesimpulannya, apa yang saya lakukan saat ini belum ada apa-apa dengan perjuangan beliau. ya, selalu ada pembanding untuk setiap yang kita lakukan di dunia. mungkin ini cara beliau mengajarkan arti beryukur secara tidak langsung. meski dimensi zaman sekarang berbeda 180 derajat dengan era 60 an. 
saya mungkin tipe perantau, mengingat keluarga saya perantau. jika berkesempatan untuk pergi lebih jauh lagi dari rumah saya akan pergi. somehow, saya sangat menikmati kesendirian dan ingin selalu meng-explore sesuatu yang baru. meski kerinduan adalah hal yang sangat menyiksa namun pada akhirnya akan ada obat dari sekedar perjuangan dan air mata di perantauan. tentang orang yang selalu menganalogikan kehidupan sebagai sebuah roda, hidup itu seperti roda kadang dibawah dan kadang diatas. saya ingin selalu pergi lebih jauh lagi agar tak ada kabar yang akan menyakitkan, tak ada komunikasi untuk ribuan hari. perasaan bingung diperantauan biarlah menjadi masalah yang akan hilang dengan sendirinya. inilah aku dan kehidupanku. saat-saat susah hanya bisa kunikmati sendiri diperantauan. namun, selalu ada pembanding, ada yang lebih menderita dari sekedar luka batin, kerinduan akut tentang hal ghaib dan kegalauan.
pergi jauh adalah pilihan, pilihan untuk selalu siap bukan saja kesiapan tentang hal-hal yang membahagiakan namun lebih kepada hal-hal yang buruk. hal-hal yang buruk akan menjadikan orang lebih bersyukur saat ia mendapatkan hal-hal baik. mungkin inilah saat-saat dimana Tuhan sedang menguji ketahanan banting saya. keep positive thingking dan yakin badai segera berlalu. I'm a survivor. 

Sabtu, 16 Februari 2013

Menghidupi Organisasi



Organisasi adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mahasiswa, bagi beberapa orang memang demikian. Termasuk saya, bagi saya organisasi merupakan tempat untuk mengembangkan diri how to manage anything, how to lead ourselves in term of leadership. Saya baru merasakan feel nya mengikuti organisasi saat-saat sekarang ini. Tidak ingin di cap sebagai kupu-kupu akhirnya saya tergabung dalam tiga organisasi di tingkat fakultas maupun universitas. Terkadang kita harus memaksakan diri kita untuk hal yang akan menjadikan kita lebih kaya dalam hal pengalaman, keluar dari comfort zone. Hingga pada akhirnya itulah yang akan menjadikan kita berbeda dengan mereka yang tidak pernah berorganisasi.
                Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, feel berorganisasi yang mendalam baru saya rasakan saat ini. Bukan berarti selama ini saya tidak mempunyai feel dengan organisasi yang saya ikuti, dalam berorganisasipun saya sesuaikan dengan passion saya. There will never be regreted to involve in organisation. Jujur saya pernah keluar dari organisasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Itu hak kita untuk involve or not. So, you’ll give the best to your organisation if you love live inside.
                Ceritanya seperti ini, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi sosial kepemudaan. Hal tersebut didasarkan pada kesamaan visi dan mimpi dari beberapa sahabat yang sangat luar biasa. Saya begitu menikmati alur dan ritme organisasi begitu juga sahabat saya yang lainnya, tak disangka bahwa minat para pemuda dengan organisasi sosial sangat luar biasa. I really Impressed. Saya masih ingat betapa harus mengorbankan waktu dan pemikiran untuk mengkonsep sebuah organisasi yang memiliki visi dan misi yang dapat diterima oleh banyak orang. Hingga akhirnya kita dapat melalui tahap tersebut dengan indeks yang sangat baik, organisasi yang kita bentuk telah memiliki visi dan misi serta goal utama. Bukankah seperti itu seharusnya sebuah organisasi.
                Konsistensi adalah salah satu hal penting dalam menghidupi organisasi, namun saya akui itu adalah hal yang sulit apalgi harus meng konsistensikan semua anggota organisasi. Layaknya sebuah organisasi badai itu pasti ada baik yang sifatnya eksternal maupun internal. Hingga suatu ketika kita berhenti mengayuh untuk beberapa saat.
“Layang-layang tidak akan terbang tinggi bila tak ada angin” . itulah yang selalu saya yakini. Setelah organisasi istirahat untuk beberapa saat, saya tidak menafikkan bahwa timbul masalah-masalah baru, rasa pesimis dan keraguan mulai muncul dan untuk beberapa saat kita lost contact. Hal ini kita sadari bersama bahwa selalu ada skala prioritas dalam hidup. Kegiatan akademik adalah hal yang tidak bisa tergantikan.
                “Mimpi yang menguatkan kita”. Saya jadi ingat sebuah pertanyaan pada sesi wawancara, singkatnya seperti ini. Apa yang akan anda lakukan jika ada masalah dalam organisasi/team yang anda ikuti ? dan jawaban itu coba kita cover untuk menyelesaikan semuanya. Kita bermusyawarah apa yang akan kita lakukan kedepan. Masa-masa seperti inilah yang akan menentukan arah semuanya. Jujur rasa pesimis selalu membayangi namu akhirnya sirna, karena sekali lagi mimpi yang menguatkan kita.
                Tiba waktunya, semua masalah sudah sangat clear. Saya sangat bangga memiliki teman dan sahabat yang luar biasa, saat kita terjatuh kita bisa bangkit tiga kali lebih kuat, rasa optimislah yang tersisa dalam diri. Mungkin inilah saat yang akan dirindukan 30 tahun yang akan datang. So proud of you.
                                

Minggu, 10 Februari 2013

#Merenung


Kebon danas, Pusakanagara. Subang.

Salah satu tujuan saya pulang ke subang adalah untuk bertemu dengan nenek, sekaligus menenangkan fikiran. Sepertinya saya terlihat begitu banyak fikiran, hingga harus memerlukan waktu khusus untuk menenangkan diri. Tapi itulah nyatanya, saya terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting dan menghawatirkan sesuatu yang belum pasti.  Tempat favorit saya adalah sawah, jangan tanya mengapa. Beberapa jam lalu saya menyusuri jalan setapak yang membelah persawahan dibelakang rumah bibi, tahu apa yang terlihat ? sejauh mata memandang hanya ada hamparan sawah yang sangat luas, ya, sejauh mata memandang.
Hampir setiap minggu saya bersepeda ke Bantul untuk menemukan sawah yang cukup luas,  tapi disini saya menemukan dengan sangat mudah, hanya dibelakang rumah. Saya puaskan berjalan di pematang sawah, kontur persawahan memang sedikit berbeda disini. Menyusuri jalan setapak dan seolah-olah masuk dalam hembusan angin sore yang menyejukan. Saya terlihat seperti anak kecil, bermain lumpur di sawah dan menanyakan beberapa orang yang sedang memancing. Memang hujan beberapa hari lalu membuat sungai kecil meluap, dan beberapa dari mereka bisa memperoleh ikan seperti betik, kincling. Entah apa didaerahmu jenis ikan ini disebut.
Syukurlah, hari ini tidak ada yang menelfon masalah keasramaan. Tidak harus menahan emosi. Saya merasa sangat nyaman disini meski hanya beberapa hari. Setidaknya itu dapat menjadi energi untuk satu tahun kedepan, luar biasa bukan ? tapi itulah adanya. Bertemu dengan kerabat membuat saya termotivasi, termotivasi untuk belajar lebih giat dan serius dalam melakukan sesuatu. Saya merasa punya tanggung jawab moral atas apa yang terjadi disini. Mungkin inilah yang membuat uban dirambut saya bertambah, saya terlalu terobsesi untuk menjadikan semuanya lebih baik. Baiklah, saya percaya saya pasti bisa. Doakan saya. 
Dongkal, selalu terhidang setiap pagi setelah memejamkan mata.  Oh iya dongkal adalah makanan tradisional campuran semacam singkong, gula dan parutan kelapa. Bisa menjadi pengganti nasi, enaknya dinikmati di pagi hari. Mengandung cukup karbohidrat dan mengenyangkan yang pasti harganya murah. Setiap pagi pasti saya sempatkan jalan-jalan ke sawah bersama keponakan yang masih duduk di bangku TK, ya sesekali dia menjelaskan apa yang dia lakukan disini. Terdengar begitu menyenangkan.
Merenung adalah hal yang sering saya lakukan untuk memulihkan semangat, karena semangat itu naik turun itulah sebabnya sempatkan untuk merenung beberapa saat, agar semuanya menjadi lebih baik. Dari beberapa orang yang kukunjungi telah banyak menyadarkan saya akan nilai-nilai kehidupan yang selama ini kurang saya perhatikan, menyadarkan kepada saya tentang tanggung jawab besar yang selama ini tak pernah sadar. Seolah ada pisau yang tertancap seketika, terimakasih telah menyadarkan.

Sabtu, 02 Februari 2013

Hari Pertama.


 Subang #1
Baiklah, kerinduan yang mendalam yang membawaku kembali ke tempat ini. Aku menyebutnya kampung halaman kedua. Aku sudah merencanakan untuk datang ke tempat ini setahun lalu dan sudah masuk dalam list tempat yang akan kukunjungi pada waktu itu, akhirnya setelah menunggu momen yang tepat aku bisa kembali ke tempat ini. Kerinduan akan suasana pedesaan yang kuinginkan beserta orang-orang didalamnya. Dua belas jam kutempuh dengan menggunkan bus dari jogja, cukup melelahkan dan cukup membuat kaki ku bengkak. I missed my grandma so bad. Karena pada akhirnya aku tersiksa jika harus kutahan terus kerinduanku.
Liburanku kali ini bertemakan “silaturahim”, aku tidak berniat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Aku hanya ingin melepas kerinduanku disini. Aku sudah mengatur jadwal kemana harus kukunjungi tempat saudara, ayah telah mengatur semua. Ya,, karena aku pun tak ingat rumah siapa saja yang harus kukunjungi, makam siapa yang harus kudatangi. Tiga hari harus kumanfaatkan untuk mengunjungi saudara. Silaturahmi itu memperpanjang umur.
Aku bangun lebih segar pagi ini, dan setelah selesai beres-beres kusempatkan duduk di bangku belakang rumah, dulu masih ada ratusan bebek di kandang, sekarang tinggal beberapa itik jenis Alabiyo dan beberapa pohon pisang gepok. Tiba-tiba bibi datang dari balik pintu, “ini kopinya, dan kulihat segelas kopi hitam pekat. Oh my God, aku hanya suka kopi pada saat ujian saja. Apalagi ini kopi hitam, ku coba hirup aromanya dan ternyata tak begitu spesial. Karena memang aku bukan penikmat kopi. Dan nyatanya aku menghabiskan setengahnya.
Beberapa saat kemudian, aku menelfon ayah untuk mempertanyakan ulang tentang ke tempat siapa aku harus berkunjung. Setelah merasa siap aku berkunjung ke rumah nenek, biasanya aku memanggilnya Ma Tua. Aku sudah menyiapkan oleh-oleh khas jogja seperti Bakpia, wingko dan peyek tumpuk. Dengan penuh semangat aku pergi ke rumah Ma Tua yang jaraknya hanya beberpa rumah dari rumah yang kutempati saat ini.  
Saat kutemui beliau, ia sedang berjalan-jalan disekitar rumahnya dan beliau kini memakai tongkat. Aku datang dihadapannya dengan senyum terbaik dan penuh kerinduan. Beliau bertanya kepadaku “ ari kien sapa ? dan kujawab iki hamid ma, hamid sapa ? hamid anake... ? ia ma, kie hamid. Beliau sudah tua dan mungkin beliau pangling denganku. Sejak pertama bertemu, I wanna cry but I may hod it for few minutes. I see my mother still alive in her soul, that’s why I really wanna cry. Kemudian aku masuk kedalam rumah beliau dan bertemu dengan beberapa saudara lainnya, mereka pangling dengan kondisiku saat ini. Aku masih mengatur nafas, menghirup dan mengeluarkannya lagi. you should keep your tears. Aku berbicara sedikit pada beliau dan beliau yang lebih sering bertanya padaku dan menceritakan kondisinya saat ini. Mataku sudah merah, hidung sudah berair. It’s appear naturally, I just said  to my self : hamid you can hold your tears. Untuk beberapa saat ia, sudah dua gelas teh yang kuhabiskan sejak tadi. Beliau terus bercerita dan kadang kita hanya saling berdiam-diaman untuk beberpa menit. Oh my God, aku  nangis dan air mata itu keluar dengan sendirinya.
I miss to you grandma because I can see my mom still alive on you. Love you.
Kebondanas, 02 Februari 2013
Abdul Hamid