Selasa, 12 Mei 2015

12.05.2015


Akhir-akhir ini saya sering mendapat telfon dari wali santri, perihal menanyakan perkembangan belajar dan kesehariannya. pembicaraan dimulai dari sekedar basa-basi menanyakan kabar, hingga pada taraf serius seperti laporan perkembangan belajar, keaktifan di sekolah, hingga masalah skorsing santri. beberapa hari yang lalu saya baru saja merekomendasikan seorang siswa untuk di skorsing, banyak sekali pertimbangan-pertimbangan hingga harus dilakukan tindakan demikian. walhasil, saya lebih sering dicurhati orang tua wali tersebut, kebetulan seorang ibu single parent. Menyita pikiran sekali. 
Momen-momen diatas mengingatkan saya ketika di tahun 2011 saya memulai pengabdian, momen dimana saya harus bisa balance antara kuliah, pondok, dan organisasi meskipun pada akhirnya harus menentukan skala prioritas. momen dimana saat tidur malam harus tersita untuk menerima telfon dan mendengar keluh kesah, bangun lebih awal untuk memastikan semua kewajiban terlaksana dan agar datang ke kampus lebih awal, menunggu bis, mengayuh sepeda. berat sekali untuk sekarang, namun semoga bisa menjadi cerita dan inspirasi bagi orang-orang terdekat di masa yang akan datang. Bapak selalu menekankan pada beberapa hal seperti orang yang sedang mencari ilmu harus prihatin, mau kerja keras, dan berkaitan dengan kebermanfaatan hidup.
Bersyukur sekali memiliki pengasuh dan rekan senior yang selalu mendukung dan menginspirasi dalam merangkai mimpi-mimpi, do'a dan dukungan adalah senjata ampuh. kini sudah masuk tahun ke empat dimana pikiran dan tenaga harus bisa balance dalam penggunaannya. bukankah semua harus seimbang untuk bisa berkesinambungan, selamat malam.

Krapyak. Yogyakarta