Senin, 28 Januari 2013

I’m dreaming and universe conspire to make it happen.



            Akhir-akhir ini sering sekali mendapat pertanyaan seputar pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Pertanyaan yang diajukan mereka pun beragam, baru saja aku mendapat telfon dari seorang ibu yang menginginkan ankanya masuk ke kampus biru (UGM). Perbincangan lewat telfon berlangsung cukup lama, aku menjelaskan tentang kebijakan baru kampus serta hal yang terkait dengan seleksi penerimaan. Aku sangat bersyukur sekali tergabung dalam pers mahasiswa Universitas yang membuatku lebih peka tentang kebijakan kampus. Hal itu memudahkanku dalam menjawab pertanyaan beberapa orang tua dan teman tentang kampusku.
            Baiklah, sekarang aku sudah menjadi mahasiswa semester tiga di universitas yang pernah kuimpikan empat tahun lalu. Pertanyaan dari beberapa orang dan harapan yang besar dari beberapa teman yang ingin masuk ke UGM termasuk adikku yang selalu ku motivasi untuk eliminating the limits dan percaya pada impian. Ingat sebuah ungkapan You can if you think you can dan tentunya usaha dan doa adalah hal terpenting untuk menjadikan itu nyata. Momen-momen seperti ini mengingatkanku tentang perjuangan sebuah impian dan harapan beberapa tahun lalu. I believe in dreams and I believe in miracles.
Tentang sebuah kata yang kutempel di loker asrama.
            Tulislah apa yang menjadi keinginanmu, agar apa yang kau impikan tidak lewat begitu saja, agar ia menjadi cahaya yang akan selalu menghidupi semangatmu untuk meraih mimpi-mimpimu. Setidaknya itulah kata-kata yang pernah kudengar dari seorang motivator. Tulisanku yang ke 140 ini memang bercerita tentang impianku masuk ke perguruan tinggi favoritku, salah satu universitas yang dimimpikan oleh ribuan anak bangsa di negeri ini. I’m an inspirator freak itulah julukan yang kusematkan padaku. Aku selalu iri pada temanku yang berhasil mewujudkan impiannya. Secara tidak sadar mereka adalah invisible energizer for me.
            Kehidupan asrama yang kujalani selama menjadi seorang santri, memberi warna tersendiri bagi hidupku. Terpisah jarak yang sangat jauh dengan orang tua, kerinduan memang menjadi masalah besar ketika awal-awal menjadi santri. As time goes by semua masalah bisa ter cover dengan baik. Bersyukur aku ditempatkan disebuah asrama yang selalu membuatku untuk terus belajar dan menjadi lebih baik, tinggal satu kamar dengan teman-teman yang luar biasa. Kita selalu berbicara tentang masa depan, sebuah masa dimana semuanya akan menjadi lebih baik.
            Aku masih ingat detail kisah kehidupanku selama menjadi santri, detail kisah tentang sebuah kata yang kutempel di loker asrama. Aku sudah mempunyai rencana kemana aku harus melanjutkan perkuliahanku sejak awal menjadi santri. Keinginanku saat itu adalah aku akan melanjutkan study ke Universitas Gadjah Mada. Dan ku buat rangkaian kata tersebut dengan serius, aku buat tulisan universitas dengan busa, tujuannya agar tahan lama. Dan akhirnya jadilah sebuah tulisan yang menjadi penyemangatku “UGM” setiap kali membuka lemari. Aku masih ingat teman sekamarku sangat mendukungku dan mereka juga ikut mendoaakan. Thanks God.
            I have failed and regreted for many times, my tears are can’t be stopped sometimes. And so mony accountable strugle in reaching my dreams. When happiness, Sadness, worriness, fearness are melt together into a good collaboratian and be a harmoni in my life. I enjoy every single step that I took. I’m loving throughout my life and I have dealt with my self to sacrifice for the dreams that I have made.
            Saat ini everythings becomes real, aku menjadi Mahasiswa di sebuah universitas yang dulu pernah kuinginkan. I realize when we believe in dream, the universe will conspire to make it happen. Live your dream. !
           
            Abdul Hamid
Santri pondok pesantren Krapyak Yogyakarta.

Sabtu, 26 Januari 2013

To reflect and to act

       
  Ini bukan bagian dari materi perkuliahan Pembangunan Masyarakat, dosen saya bilang materi  ini sebagai suplemen tambahan agar kita menjadi lebih sadar, agar kita lebih merenung untuk kehidupan bangsa indonesia yang lebih baik. baiklah, semua pesan berantai yang diberikan oleh dosen saya semuanya menggunakan power point. sehingga sangat tidak memungkinkan bagi saya untuk meng-attach pada tulisan saya yang ke 139 imi. namun jangan khawatir pesan tidak akan tersampaikan. inilah rangkuman yang dapat saya share kepada para pembaca semua.
          Perbedaan antara negara kaya dan miskin tidak bergantung pada umur suatu negara, contohnya adalah mesir dan india yang umurnya lebih dari 2000 tahun namun saat ini mereka tetap tidak dikatakan sebagai negara maju, disisi lain Kanada, New zealand dan Singapura negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun saat ini merupakan negara yang maju dan penduduknya tidak miskin lagi. mereka menjadi negara yang dikagumi oleh setiap orang sebagai tempat belajar maupun berwisata. saya katakan bahwa "kekayaan sumber daya alam tidak menjamin suatu negara akan menjadi kaya atau miskin". mari bercermin pada Jepang. jepang merupakan negara yang luas daratannya sangat terbatas, hampir 80 % luas wilayahnya berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan. namun saat ini jepang merupakan salah satu raksasa ekonomi dunia, Jepang laksana negara Industri terapung yang besar mereka banyak mengimpor barang mentah yang selnjutnya mengekspor kembali menjadi barang jadi (siap digunakan). Contoh lainnya adalah Swiss, Swiss merupakan negara penghasil coklat terbaik di dunia, padahal hanya 11 % dari luas wilayahnya (daratan) yang bisa ditanami dan negara ini merupakan negara penghasil susu terbaik di dunia.  negara ini juga tidak memiliki reputasi keamanan dan integritas yang baik namun bank-bank di negara ini sangat disukai oleh orang di dunia. 
         Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan rekannya yang berada di negara berkembang dan negara miskin, mereka sependapat bahwa tidak ada perbedaan mencolok dalam hal kecerdasan, warna kulit dan ras juga tidak menjadi jaminan bahwa suatu negara dikatakan miskin ataupun kaya. para imigran yang dikatakan malas di negara asalnya namun mampu menjadi pekerja yang produktif di negara-negara maju seperti di eropa, then the big question arise. so, what the difference ? perbedaanya adalah pada sikap dan pola hidup masyarakatnya yang terbentuk selama bertahun-tahun oleh pendidikan dan kebudayaan. 
        Berdasarkan analisis perilaku masyarakat di negara majau, ternyata para masyarakatnya mematuhi/mengikuti prinsip-prinsip dasar kehidupan. yaitu :
1. Etika, sebagai prinsip dasar kehidupan sehari-hari.
2. Kejujuran dan integritas
3. Bertanggung jawab
4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
5. Hormat kepada orang/hak orang
6. Cinta pada pekerjaan
7. Mau bekerja keras
8. Berusaha kerja keras untuk menabung dan investasi
9. Tepat waktu
di negara miskin/terbelakang/berkembang hanya sedikit yang melakukan prinsip-prinsip dasar kehidupan tersebut. 
            kita bukan miskin (terbelakang) karena sumber daya alam kita, atau alam yang kejam pada kita. negri ini dikaruniai kekayaan alam yang sangat luar biasa, batu bara, hutan, minyak dan gas. dll. kita miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik. kita kekurangan kemauan untuk mengerjakan dan mengajarkan prinsip kehidupan yang memungkinkan masyarakat kita membangun ekonomi, bangsa dan negara. mari bertindak dimulai dari hal-hal kecil. semoga menyadarkan.

Rabu, 23 Januari 2013

Be Proud of who you are. !

 I'm Hamid, I'm 19th years old. currently I'm as a student of Gadjah Mada University. as many other student in my college, I'm following some organizations and active in some discusions, seminar and conference. but, the most I fond of my life is being a Santri. The tradition of my big family has created me to be I'm now, currently I'm a Santri of Ali Maksum Krapyak. I started to be Santri since I became Senior High School student. at the first time, everything felt so flat and I do not found my world. I've to honest, I'm strugle to survive in my new world. being a Santri. I learnt a lot during the process of my studying in Islamic Boarding School, or familiar with Pesantren. here the place where everything balance, I learn religion also general science. I'm becaming an open minded person. it cuts the history if pesantren give restriction to the student, in term of focus to learn in one subject. pesantren has transform to be better without leave its roots. I'm proud to be santri.

some friends are ask to me, why you are still live in pesantren ? meanwhile you've graduted and you are busy of college bussiness and your organization. I try to explain them, eventhough. I've a lot of bussiness and the assigment both are filling my head, somehow. I can relax when I back to pesantren. meet up with friends and my junior are invisible energizer for me.
I can't reject, if stress sometimes emerge my self. I've to say : The magnet is too strong for me. I've melted with the daily life in here.

-Be proud of who you are, proud of your self is better than pretend to be who you are. I'm Hamid and I'm proud of my self, I'm proud to be Santri. Cherish your self.

Minggu, 20 Januari 2013

Jalur Dua Inside !

Bus jalur 2 melewati jalan Abu Bakar Ali. 

wajah transportasi negeri ini begitu memprihatinkan, dari sisi pengelolaan sampai dengan kondisi yang tidak layak jalan, emisi carbon berlebihan serta setumpuk masalah lainnya. sebagai mahasiswa yang setiap hari menggunakan angkutan umum merasa kurang nyaman. di kota yogya sendiri ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan seperti bus kobutri, trans jogja, delman, becak, motor serta sepeda. hampir setiap hari saya menggunakan bus untuk pergi ke kampus. perbedaan mencolok sangat terasa, saya hanya membayar sebanyak Rp. 3000 untuk bisa keliling jogja dan ke kampus dengan Bus Trans jogja yang full Ac dan penunjuk rute. dan saya membayar Rp. 2500 untuk setiap jali jalan ke kampus dengan menggunakan bus kobutri. bau rokok orang yang belum sadar, polusi, pelayanan kernet bus yang kadang kurang mengenakkan, banyak pengamen namun saya merasa telah klik dengan kondisi tersebut. saya hanya butuh menjauhi perokok, menggunakan masker dan sedikit lebih sabar. saya sudah mengetahui bagaimana mengatasinya. itulah mengapa saya menulis postingan ini yang bercerita kehidupan 1 jam berada di bus, setiap kali pergi dan pulang dari kampus.

Ini akan menjadi kisah yang tak terlupakan, menjadi goresan yang indah dan menempati ruang hati terdalam. never forget every single moment on the bus, when my happiness and anger are melting inside. -Abdul hamid

All About the Bus.
hampir setiap hari saya menggunakan bus untuk pergi ke kampus, saya menggunakan bus jalur dua yang melayani trayek dari terminal hingga kampus. kondisi bus ada yang baik namun tidak sedikit yang sangat memprihatinkan,. kalo lagi untung dapet  bus yang agak enakan tapi kalo belum beruntung harus rela dapet bus yang mogokkan. hampir satu setengah tahun menjadi pelanggan setia moda transportasi ini. jadi sudah tahu busuknya dan tentunya kebaikannya juga, disini saya banyak belajar tentang kehidupan. belajar tentang kesabaran, arti berbagi, ketulusan. 

jika difikir itu hanya sebuah bus, namun akan ada banyak pelajaran bagi ia yang peka.

pengguna transportasi ini adalah mereka para pelajar SD, SMP, SMA serta Mahasiswa. namun yang lebih dominan adalah para ibu-ibu yang akan pergi ke pasar, yang  sering  saya lihat adalah wanita-wanita tua jogja yang kuat. saya hampir setiap hari menyaksikan lansia berumur lebih dari 70 tahun masih kuat membawa barang dagangan atau belanjaan. kebanyakan dari mereka berasal dari pedesaan di Bantul yang terkadang harus berganti bus dua kali untuk mencapai pasar terbesar di yogyakarta. pasar Beringharjo. di wajahnya menggoreskan pengalaman hidup yang luar biasa, lewat setiap relief di wajahnya. selain itu tak jarang saya jumpai turis mancanegara naik bus ini juga.

Jogja berhati nyaman !

memang betul kalo dibilang "jogja berhati nyaman", setiap kali naik bus jalur dua. selalu ada senyum dari wajah-wajah orang jogja. biasanya yang nggak senyum bukan orang jogja. selain itu, yang saya amati adalah kedekatan emosional antara penumpang dan supir busnya. mungkin karena sudah menjadi langganan atau apalah itu, ketika ada seorang ibu membawa anaknya untuk ke rumah sakit si supir malah memberi uang pada anak ibu tersebut, kalo sudah bisa menggaet hati supir malah-malah bisa digratisin.selain itu bagi para pengamen biasanya gratis. what a wonderful life inilah yang disebut harmoni.
saya ingat ketika habis pulang dari kampus, saat itu kondisi bis lumayan ramai. ketika itu bis berhenti di daerah malioboro. tiga orang pria dengan tampang semacam kalem keluar. setelah mereka menjauh dari bus, sang supir bilang "adakah barang yang hilang ? ketiga orang tadi adalah copet". oh my gosh ! saa't itu saya sangat terkejut. hal yang menurut saya luar biasa adalah, biasanya para penumpang yang lebih muda akan membayar ongkos para lansia. 

Tentang seorang pengamen.

setidaknya hampir setiap hari saya menemukan dua orang pengamen yang sama. dengan suara yang lumayan enak mereka bernyanyi. kebanyakan dari mereka bernyanyi lagu galau atau kisah percintaan yang kandas. that's the fact. ada juga pengamen yang mengumpat jika tidak diberi uang. saya sangat jarang sekali memberi mereka uang. saya akan memberi uang pada mereka jika lagu yang mereka nyanyikan menurut saya bagus, kedua. dua pengamen yang saya jumpai menurut fisik yang terlihat memang terlihat baik. mobile phone mereka bagus, memiliki motor, sandal mereka juga bagus. jadi buat apa saya beri uang kepada mereka. mereka sudah terlihat lebih baik.
para pengamen dan para supir serta kernet mereka juga sudah saling mengenal. dan terkadang para pengamen memberikan info kepada supir dan kernet. intinya berbicara masalah bus.

Harus punya kesabaran lebih.

seperti yang saya katakan sebelumnya, kondisi bus jalur dua tidak semuanya bagus. ada kondisinya yang menurut saya kurang layak, hal yang paling saya tidak suka adalah. biasanya bus ini ngetem nya lama hinga 10 menit lebih. belum lagi kondisi kota jogja kalo musim panas. oh my gosh ! tidak jarang saya mendengar umpatan-umpatan para penumpang. menurut saya itu wajar kalo udah keterlaluan.

andai saja kondisi busnya lebih baik, mungkin ceritanya akan berbeda. saya menikmati setiap hal yang dilewati dalam hidup saya. I love my life.

Jumat, 18 Januari 2013

What makes you suffer ?


wajah tempat ini begitu suram, gedung-gedung, sekolah, kamar mandi, rumah, orang-orang. semua terlihat suram dan menjemukan. tidak ada kebahagiaan terpancar, senyum kepalsuan boleh saja, energi negative mengungkung, semuanya menjemukan. ingin lari sejauh-jauhnya kemudian enyah sesaat, ingin berlama-lama didalam bis kota sambil menghirup polusi khas kota. meski semua terasa sangat menyakitkan, meski harus selalu kutahan sakit. itulah musabab mengapa ingin sekali berhijrah dari kota ini, namun Tuhan berkehendak lain, aku harus bercumbu dengan rasa sakit dan kepura-puraan. aku berfikir ini sebagai pembelajaran, hingga aku tak berkutik. inilah hidup.


“Ajaibnya waktu, masa lalu yang menyakitkan lambat laun boleh berubah menjelma menjadi nostalgia romantik yang tidak ingin dilupakan.” -Andrea Hirata



Kamis, 10 Januari 2013

sekedar catatan

bersyukur itu ketika masih bisa meluangkan waktu membaca buku selain buku diktat di waktu ujian akhir, ya,, saya adalah tipe orang yang fokus pada tujuan. menurut saya membaca buku disaat ujian selain diktat itu membuang waktu, bermain internet itu membuang waktu. saya selalu berencana untuk puasa social media selama menghadapi ujian. tapi kenyataanya saya tidak bisa. memang kehidupan saya saat ini tidak jauh-jauh dari internet. bahkan saya telah kecanduan internet sebanyak 35 % dari sebuah survei Facebook. yang kebenarannya harus dipertanyakan.saya melakukan ini semua karena kekhawatiran saya atas nilai semester saya yang terjun bebas di semester dua kemaren. then I thought. if everything has each portions. jujur, kehidupan saya saat ini tidak bisa lepas dari internet. rasanya berat untuk meninggalkan kebiasaan seperti membaca buku atau berselancar di dunia maya di waktu ujian. hingga akhirnya saya memutuskan, keduanya harus berjalan secara bersamaan. 
Hectic day has began !
I Miss the hectic days. that was said by me in the bored of holiday. entah kenapa, perasaan saya hampa kalo gak ada hal yang dilakuin, dalam sehari aja. pernah waktu itu menghabiskan waktu seharian hanya dengan tidur dan menonton tv. it seems kill me slowly. itulah sebabnya the hectic days selalu saya rindukan setiap kali liburan. seperti ketika hari tenang sebelum ujian. biasanya banyak para mahasiswa yang sibuk mencari materi ujian semester mulai dari ngopy master, slide, diktat. termasuk saya, inilah momen dimana saya belajar dua kali lipat dari biasanya. bagi saya ujian adalah pertarungan. terbukti beberapa hari ini harus tidur sampai larut malam dan sungguh saya menikmati proses ini.
Being a Study Oriented.
saya merasa bahwa di semester tiga ini saya menjadi tipe mahasiswa yang study oriented. fokus banget sama yang namanya hal yang berbau akademik. it's real happen on me. sejak nilai saya yang terjun bebas di semester dua seolah itu adalah peringatan sekaligus tamparan keras. saya adalah mahasiswa yang menganggap nilai itu penting. disadari atau tidak banyak peluang yang akan di dapat. semester ini (3) merupakan masa-masa dimana otak dan tenaga harus berkompromi untuk saling menguatkan. disamping saya menjadi study oriented dan mengejar target Indeks prestasi yang tinggi pada semester ini, organisasi yang saya ikuti bertambah menjadi tiga. inilah resiko yang harus saya terima, bukankah menjadi mahasiswa tidak hanya fokus pada akademik. mahasiswa cerdas itu bukan mereka yang selalu mendapat nilai tinggi, namun mereka yang mampu memberi keseimbangan terhadap kehidupannya. sekedar opini pribadi.
I don't like cheating.
mungkin ini hasil didikan yang saya peroleh. sejak kecil saya diajarkan untuk selalu jujur dalam melakukan sesuatu. jujur itu berkah, setidaknya itulah yang saya rasakan. sejak SD saya tidak pernah mencontek dalam ujian hingga saat ini menjadi mahasiswa. saya sering melihat beberapa teman mencontek, metodenya bermacam-macam ada yang ditulis ditangan, membuat catatan kecil, pura-pura izin ke kamar mandi dll. sebenarnya para pengawas itu mengetahui semua metode yang digunakan para pencontek. mungkin karena sudah "ahli banget" jadi nggak ketahuan. tapi tuhan maha tahu. you never realize that you've kill your conscience slowly. mencontek itu melukai hati nurani. biasanya saya akan mengosongkan jawaban atau menulis kembali soal bila saya memang benar-benar tidak tahu jawabannya. nilai yang saya peroleh adalah cermin usaha yang saya lakukan. sekali lagi, saya juga tidak pernah titip absen. istilah yang baru saya dengar selama berada di dunia kampus dan saya juga menolak bila teman saya meminta untuk membuat pernyataan palsu (TA). ini masalah hati nurani dan masalah prinsip. 


Minggu, 06 Januari 2013

How To Be A Good Leader





 
  • Remember: leadership skills and techniques can be learned. You don't have to be a natural leader. Very few people are.
  • Care for your team. That means knowing what matters to each member: their health, their partner, their children, their relatives, their interests, their hopes, their fears.
  • Stay close to your team. At some point, every day, walk around the office and say "Hi" to everyone who works for you. If you're not in the office that day, call and see how people are. This gives you a chance to enquire or encourage and gives them an opportunity to raise issues or make suggestions.
  • Meet your team. Regularly - daily, weekly or monthly, depending on your place and type of work - have meetings of all the members of the team. Keep these meetings short, focused and action-orientated. Make sure every member of the team contributes in some way and acknowledge that.
  • Train your team. Every team member should have at least two days training a year. Newer and more senior colleagues should have more. If they don't ask to go on training sessions, suggest some suitable courses.
  • Grow your team. Through varied experience and regular training, you should be developing each team member to be more and more confident and more skilled.
  • Inspire your team. Consider making available a motivational quote or story every week or month.
  • Celebrate with your team. This might be a personal event, such as a member's birthday or anniversary, or a professional occasion, such as completing a project or winning oa contract.
  • Socialise with your team. Have lunch or an after-work drink with them, especially when a member has a birthday or there's another reason to celebrate.
  • Set objectives for each team member. As far as possible, these objective such be SMART - SpecificMeasurable Achievable Resourced Timed.
  • Review the performance of each team member. At least once a year - at least quarterly for the first year of a new team member - have a review session where you assess performance, give feed-back and agree future objectives and training.
  • Thank constantly. The words "Thank you" take seconds to say, but mean so much.
  • Praise constantly. The words "Well done" take seconds to say, but will be long remembered and appreciated.
  • Communicate constantly. Don't assume that people know what you're doing, still less what you are planning or thinking. Tell them, using all the communication tools to hand: team briefings, electronic newsletters, organisational newspapers.
  • Eliminate. Too often we do things because they've always been done. Life changes. Consider whether you could stop doing certain things altogether.
  • Delegate. You don't have to do everything. Develop your team members by training them to do more and trusting them to take over some of the things you've been doing.
  • Empower. A really effective leader sets clear objectives for his team members, but leaves detailed implementation of these objectives to the discretion and judgement of individual members of the team. As Second World War U.S. General George S. Patton put it: "Don't tell people how to do things. Tell them what to do and let them surprise you with their results”.
  • Facilitate. A confident leader does not try to micro-manage his team, but makes it clear that, if team members need advice or assistance, he is always there to facilitate and support.
  • Be on time. Always start meetings on time and finish them on time. Natural breaks keep people fresh. Short meetings concentrate the mind.
  • Be seen. Don't just talk the talk, but walk the walk. So visit each unit or department for which you are responsible on a regular basis. Don't do this unannounced - you are not out to undermine other leaders or catch out staff. So arrange with the unit leader or departmental head when you'll visit and ask him or her to walk round with you.
  • Make time. Managers are often very busy and this can deter people from approaching you, so make time for people and be approachable. People will appreciate you taking five minutes out of your busy schedule, especially if you act on/listen to what they say.
  • Really listen. Many of us - especially those who think they are important - don't really listen, but instead think about what they're going to say next. Give the person speaking to you your full attention and really take on board what they are saying. 
  • Accept honest criticism. Criticism is hard to take, particularly from a relative, a friend, an acquaintance or a stranger - but it's a powerful tool of learning. Above all, assess criticism on merit, without regard to its originator.
  • Think strategically. The doers cut a path through the jungle; the managers are behind them sharpening the machetes; the leaders find time to think, climb the nearest tree, and shout "Wrong jungle!" Find time to climb the trees.
  • Have a mentor or buddy, someone doing similar work in the same or a similar organisation with whom you can regularly and frankly discuss your progress and your problems as a leader.
  • Have a role model, someone who can inspire you to be a truly great leader. If you can't find one, study Jed Bartlet as the American President in any episode of the television series "The West Wing".
  • Constantly revisit and review these tips. In his seminal work, "The Seven Habits Of Highly Effective People", Stephen Covey puts it this way: "Sharpen the saw".
  • Plan your succession. You won't be there forever and you may not be in control of the timing and circumstances of your departure. So start now to mentor and train at least one colleague who could take over from you. 

Jumat, 04 Januari 2013

Museum perjuangan Yogyakarta


Belajar sejarah lewat museum

         Libur minggu tenang di awal tahun itu memang menyenangkan, langkah awal perjalanan saya dimulai dengan mengunjungi kota yang berjuluk The Spirit of Java, apalagi kalau bukan kota Solo. begitu menginjakkan kaki di kota ini kehangatan menyambutku, keramahan para warga begitu sangat terasa di tiap-tiap sudut kota. inilah salah satu kota budaya yang sangat saya kagumi. saya merencanakan berkunjung ke kota ini beberapa bulan lalu, namun baru terlaksana hari ini (3/01/12) luar biasa sekali rasanya. sehari rasanya tak cukup untuk menjelajahi kota ini, menikmati wisata sejarah, budaya dan kuliner adalah hal yang sangat saya sukai dari kota ini. 
          museum adalah tempat pertama yang kusambangi. sebagai seorang yang ber-passion di bidang jurnalistik saya mengunjungi museum yang sangat fenomenal dan sangat terkenal dikalangan jurnalis. tentunya tidak asing lagi yaitu Monumen Pers Nasional. saya yakin masih banyak para pembaca yang belum mengetahui tentang sejarah dan seluk beluk museum ini. berkunjung ke museum ini menumbuhkan minat dan kecintaan saya terhadap dunia per-museuman di Indonesia, ini juga yang akan menjadi hal awal di blog saya yang saya beri label Ayo ke museum. lewat museum begitu banyak pelajaran yang didapat dari kisah masa lalu yang penuh perjuangan. 
             tidak berlebihan bila saya mengatakan bahwa museum ini memang luar biasa, tak mengesankan angker sama sekali. penataan koleksi juga sangat baik, ditambah lagi keramahan para petugasnya dan anda tidak dipungut biaya sepeserpun untuk menikmati layanan museum seperti : media centre, papan baca, perpustakaan, dokumentasi, riset dan kunjungan ilmiah. di museum ini juga kita dimanjakan dengan benda-benda peninggalan yang sangat bersejarah bagi perkembangan dunia pers di Indonesia. berikut adalah sejarah singkat mengenai museum pers nasional yang saya ambil dari brosur museum yang beralamat di jl. Gadjah Mada No. 59 Surakarta.

Gedung museum tampak dari depan. sumber foto : ahmedfikreatif.wordpress.com


Sejarah singkat monumen pers nasional.

Gedung monumen pers adalah gedung yang sarat sejarah. Pada tahun 1933 di  gedung ini, diadakan rapat yang dipimpin oleh RM. Ir. Sarsito Mangunkusumo yang melahirkan stasiun radio baru yang bernama Soloche radio vereeniging (SRV) sebagai radio pertama kaum pribumi dengan semangat kebangsaan. Di gedung ini pula, organisasi profesi kewartawanan  pertama yaitu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) terbentuk pada 9 februari 1946, sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari lahir PWI dan hari pers nasional.
                Untuk memperingati peristiwa pers bersejarah tersebut, maka PWI dengan restu presiden dan dukungan pemerintah serta masyarakat,  menetapkan bekas gedung “Sasana soeka” tersebut untuk dijadikan monumen pers nasional. Semula gedung ini adalah societeit milik kerabat mangkunegaran, gedung ini dibangun atas prakarsa KGPAA Sri Mangunkusumo VII, pada tahun 1918 dan diperuntukkan sebagai balai pertemuan. Gedung ini pernah menjadi markas besar palang merah indonesia. Pada awal kemerdekaan, tepatnya pada hari sabtu pahing 9 februari 1946, dilaksankanlah konferensi wartawan pejuang kemerdekaan indonesia dengan Mr.Soemanang terpilih sebagai ketuanya.
                Peringatan dasawarsa PWI ada 9 februari 1956, tercetuslah suatu gagasan yang mendirikan yayasan museum pers Indonesia. Gagasan ini dicetuskan oleh B.M. Diah, S. Tahsin, Rosihan anwar, dll, yang akhinya pada 22 mei 1956  dengan pengurusnya anatara lain R.P. Hendro, Kadiono, Sawarno projodikoro, Mr. Sulistyo, Soebakti, dengan modal utamanya waktu itu koleksi bukudan majalah milik Soedarjo tjokrosisworo. Kemudian pada kongres palembang tahun 1970 muncullah niat mendirikan museum pers nasional, dalam peringatan seperempat abad PWI 9 februari 1971 menteri penerangan Budiardjo menyatakan pendirian museum pers nasional di surakarta , dan pada kongres Tretes tahun 1973, nama museum pers nasional dicetuskan di palembang, diubah menjadi monumen pers nasional atas usul PWI cabang surakarta.
                Berdasarkan surat keputusan gubernur kepala daerah tingkat 1 Jawa Tengah nomor HK.128/1997 tertanggal 31 desember 1977 atas tanah dan gedung societeit tersebut diserahkan kepada panitia pembangunan monumen pers nasional dibawah departemen penerengan RI, atas prakarsa menteri penerangan Ali murtopo yang mendapat dukungan dari asosiasi importir film kelompok eropa-amerika, terwujudlah gedung monumen pers nasional yang terdiri dari dua unit bangunan 2 lantai, satu unit bangunan 4 lantai disamping penyempurnaan dan pemugaran gedung utama.
                Tanggal 9 februari 1978 presiden Soeharto meresmikan gedung Societeit Sasana Suka menjadi monumen pers nasional dengan penandatangan prasasti. Gedung monumen pers tersebut selanjutnya dikelola oleh yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional yang berada di bawah departemen penerangan sesuai dengan surat keputusan menteri penerangan RI No. 145/KEP/MENPEN/1981. Yayasan ini bertugas mengatur dan mengorganisir fungsi dan pemeliharaan sarana-sarana pers nasional termasuk gedung dewan pers di Jakarta dan monumen pers nasional di Solo.
                Setelah departemen penerangan dilikuidasi , monumen pers nasional menginduk ke BIKN (Badan Informasi Komunikasi Nasional) dan dalam perkembangan berikutnya pada tahun 2002 monumen pers nasional ditetapkan menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) lembaga informasi nasional berdasarkan keputusan kepala lembaga Informasi Nasional No. : 37/SK/KA.LIN/2002 tanggal 19 juni 2002. Kemudian pada tahun 2005 berada di direktorat jenderal sarana komunikasi dan diseminasi informasi departemen komunikasi dan informatika sesuai dengan peraturan menteri komunikasi dan informatika RI No. 21/Per/M.Kominfo/4/2007 tanggal 30 April 2007. Kemudian mulai tanggal 16 Maret melalui Peraturan menteri komunikasi dan informatika No. 06/PER/M.KOMINFO/03/2011 tentang organisasi dan tata kerja monumen pers nasional diputuskan bahwa monumen pers nasional adalah UPT di lingkungan direktorat Jendral Informasi dan komunikasi publik kementrian komunikasi dan informatika.