Sabtu, 17 Agustus 2013

Silaturahim sambung nyowo


Assalamualaikum para pembaca setia blog saya, baik yang secara diam-diam mengagumi  dan menunggu postingan atau yang kebetulan lewat dan kesasar di blog ini.
Lebaran adalah momen dimana kita kembali kepada fitri setelah berjuang melawan hawa nafsu dan puasa selama tiga puluh hari. Ketika lebaran kemaren saya sempat bertemu dengan pak  Anas Urbaningrum di pondok, beliau meyampaikan bahwa proses kita menjadi fitri ibarat proses kepompong menjadi kupu. Akan menjadi indah di akhirnya, dan semoga proses penempaan diri selama satu bulan memang sejatinya harus membekas dengan ditandai meningkatnya amal kebaikan.
Solat ied kali ini saya tidak bersama keluarga di  kampung halaman, saya menjalankannya di pondok saja dengan beberapa penghuni terakhir yang tersisa, penghuni terakhir yang makmur. Saat – saat yang paling mengharukan adalah ketika malam takbiran kita jauh dari keluarga dan hanya bisa mendengarkan dan melantunkan takbir secara lirih di kamar dan itu yang saya alami. Air mata kerinduan dan ingatan kebersamaan datang silih berganti.
Setelah solat ied saya langsung ke bandara untuk pulang ke kampung halaman. Bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat umur dan nikmat sehat sehingga masih bisa mudik. Yang paling dirindukan adalah bertemu dengan ayah, ziarah ke makam ibu, bertemu saudara serta para tetangga. Ngerasa nggak sih. Ketika kita satu tahun nggak pulang kampung dan tetanggamu bilang. “ wah udah besar saja, tambah tinggi, tambah ganteng”  dan itu selalu terjadi pada saya.

Closing statement dari saya Never forget the people around you. who had scraped your life be it black, white or colorful, they had become history in your life. Keep in touch with them where you are and how far you are with them.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar