Minggu, 03 Maret 2013

Belajar Kehidupan



         Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah buku tentang perjuangan pengajar muda di pelosok Indonesia, yang masih saya ingat adalah tentang semangat mereka. intinya semangat, meski akhirnya saya tidak menyelesaikan buku tersebut karena sebuah alasan yaitu hampir semua ceritanya monoton.  the point is how big effort of young generation to experience something which will going make them more rich. semua kisah tersebut kembali saya korelasikan dengan kehidupan yang sedang saya jalani saat ini.
                Saya bisa melihat potret Indonesia dari sebuah gedung berlantai lima yang sekarang saya tinggali, sebuah potret kehidupan yang unik. disini tinggal hampir dua ratus orang dari berbagai latar belakang dan dari berbagai daerah di negeri yang luar biasa ini. sebuah potret kehidupan yang akan ditemui bila kau hidup di sebuah pesantren. yes, I live in Pesantren. banyak momen yang  membuat saya lebih menyadari arti kehidupan, kesetiaan, kesabaraan, pengorbanan dan tentunya menikmati kebahagiaan dan kesederhanaan. meski saya sadari masih ada beberapa hal yang membuat saya menjadi seperti labil.
                Semua berawal ketika saya menjadi santri di almamater saya saat ini, ketika untuk pertamakalinya harus meninggalkan rumah untuk belajar di pesantren. Everythings looks strange at the first sight. then, who knows ? if the first sight has made me in love.          saya sudah mulai terbiasa dengan sepuluh orang dalam kamar, makan sepiring berdua bahkan bertiga serta momen kesulitan diakhir bulan. semua terasa begitu indah dan selalu saja ada kemudahan. tiga tahun adalah waktu yang singkat, masa-masa menjadi santri dengan kenakalan dan berbagai godaan. saya berfikir betapa ruet nya para pembimbing yang selalu mendampingi saya dan teman-teman dulu. bagaimana mereka harus bangun lebih awal di pagi hari, mengajar, menjadi tempat curhat. mereka layaknya sebagai kakak bagi saya saat itu. mereka adalah pengajar muda yang merelakan masa muda mereka untuk mendidik, meluangkan waktu mereka ditengah urusan mereka yang saya yakin pasti sibuk.
                Setelah saya lulus dari Madrasah Aliyah saya diterima di universitas negeri favorit, karena masih berada di satu kota akhirnya saya diminta untuk tetap tinggal di pesantren. meski sejujurnya saya bersikeras untuk menolak, tapi tak ada alasan yang kuat. hal yang tidak pernah saya inginkan pada saat pertama kali menjadi santri yaitu menjadi pembimbing. menjadi pembimbing adalah hal yang berat. saya menyadari bahwa saya akan jadi pembimbing, oleh sebab itu setelah lulus saya ingin pergi ke luar kota. tetapi Tuhan punya rencana lain yang lebih indah dengan menjadikan saya sebagai pembimbing.
                Saya merasa menjadi orang yang lebih tua dari seumuran saya jika berada di pesantren. kehidupan menjadi pembimbingpun saya jalani. pekerjaan akan terasa berat jika kita berfikir bahwa itu berat dan begitu juga sebaliknya. bagaiamana mungkin hal yang tidak pernah saya inginkan malahan menjadi bagian terbesar dalam kehidupan saya saat ini. saya sekarang dapat merasakan perasaan seorang guru ketika para muridnya sulit diatur, merasakan untuk bekerja secara profesional itu bukanlah hal yang mudah. dan banyak hal lain yang tidak mungkin saya ceritakan dalam tulisan singkat ini.
                Sebagai manusia normal, kelelahan itu pasti ada. saat-saat tugas kampus menumpuk dan masalah pribadi. rasa galau yang mendalam selalu menyelimuti, bahkan saya berfikir untuk menyerah dengan semua ini, rasanya saya tidak sanggup dengan hal yang saya lakukan. saya ingin menikmati masa muda saya dengan mengikuti organisasi di kampus dan fokus pada perkuliahan. buat apa saya tetap bertahan, dan harus mengurusi para santri. ternyata saya terlalu egois. saya seperti ini juga berkat mereka.para pengasuh pondok selalu menguatkan kami para pembimbing dengan nasehat beliau yang sangat luar biasa. they’re our father and our teacher.
                Sebuah pertanyaan selalu membayangi, pertanyaan yang membuat saya lebih semangat. bila suatu saat nanti anak saya bertanya kepada saya. Dad, can you tell me about your young experince when you’re in nineten age ? salah satu jawaban yang sudah saya persiapkan adalah masa muda saya sangat bahagia dengan mengurus para santri dan tentunya jawaban-jawaban yang akan memberikan pelajaran dan motivasi kepada anak saya kelak. saya sudah dan sedang akan mempersiapkan itu semua. dan satu hal yang menjadi motto hidup adalah : sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberi manfaat kepada orang lain. so, what are you waitng for ? chalenge your self to do an extraordinary or unusual act in terms of positive. dari semua yang saya jalani saat ini mungkin tidak akan ada efek yang saya rasakan saat ini. tetapi saya selalu percaya bahwa segala sesuatu yang saya lakukan akan memberi dampak positif bagi kehidupan saya saat ini dan untuk kehidupan masa depan.
               
               


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar