Sabtu, 02 Februari 2013

Hari Pertama.


 Subang #1
Baiklah, kerinduan yang mendalam yang membawaku kembali ke tempat ini. Aku menyebutnya kampung halaman kedua. Aku sudah merencanakan untuk datang ke tempat ini setahun lalu dan sudah masuk dalam list tempat yang akan kukunjungi pada waktu itu, akhirnya setelah menunggu momen yang tepat aku bisa kembali ke tempat ini. Kerinduan akan suasana pedesaan yang kuinginkan beserta orang-orang didalamnya. Dua belas jam kutempuh dengan menggunkan bus dari jogja, cukup melelahkan dan cukup membuat kaki ku bengkak. I missed my grandma so bad. Karena pada akhirnya aku tersiksa jika harus kutahan terus kerinduanku.
Liburanku kali ini bertemakan “silaturahim”, aku tidak berniat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Aku hanya ingin melepas kerinduanku disini. Aku sudah mengatur jadwal kemana harus kukunjungi tempat saudara, ayah telah mengatur semua. Ya,, karena aku pun tak ingat rumah siapa saja yang harus kukunjungi, makam siapa yang harus kudatangi. Tiga hari harus kumanfaatkan untuk mengunjungi saudara. Silaturahmi itu memperpanjang umur.
Aku bangun lebih segar pagi ini, dan setelah selesai beres-beres kusempatkan duduk di bangku belakang rumah, dulu masih ada ratusan bebek di kandang, sekarang tinggal beberapa itik jenis Alabiyo dan beberapa pohon pisang gepok. Tiba-tiba bibi datang dari balik pintu, “ini kopinya, dan kulihat segelas kopi hitam pekat. Oh my God, aku hanya suka kopi pada saat ujian saja. Apalagi ini kopi hitam, ku coba hirup aromanya dan ternyata tak begitu spesial. Karena memang aku bukan penikmat kopi. Dan nyatanya aku menghabiskan setengahnya.
Beberapa saat kemudian, aku menelfon ayah untuk mempertanyakan ulang tentang ke tempat siapa aku harus berkunjung. Setelah merasa siap aku berkunjung ke rumah nenek, biasanya aku memanggilnya Ma Tua. Aku sudah menyiapkan oleh-oleh khas jogja seperti Bakpia, wingko dan peyek tumpuk. Dengan penuh semangat aku pergi ke rumah Ma Tua yang jaraknya hanya beberpa rumah dari rumah yang kutempati saat ini.  
Saat kutemui beliau, ia sedang berjalan-jalan disekitar rumahnya dan beliau kini memakai tongkat. Aku datang dihadapannya dengan senyum terbaik dan penuh kerinduan. Beliau bertanya kepadaku “ ari kien sapa ? dan kujawab iki hamid ma, hamid sapa ? hamid anake... ? ia ma, kie hamid. Beliau sudah tua dan mungkin beliau pangling denganku. Sejak pertama bertemu, I wanna cry but I may hod it for few minutes. I see my mother still alive in her soul, that’s why I really wanna cry. Kemudian aku masuk kedalam rumah beliau dan bertemu dengan beberapa saudara lainnya, mereka pangling dengan kondisiku saat ini. Aku masih mengatur nafas, menghirup dan mengeluarkannya lagi. you should keep your tears. Aku berbicara sedikit pada beliau dan beliau yang lebih sering bertanya padaku dan menceritakan kondisinya saat ini. Mataku sudah merah, hidung sudah berair. It’s appear naturally, I just said  to my self : hamid you can hold your tears. Untuk beberapa saat ia, sudah dua gelas teh yang kuhabiskan sejak tadi. Beliau terus bercerita dan kadang kita hanya saling berdiam-diaman untuk beberpa menit. Oh my God, aku  nangis dan air mata itu keluar dengan sendirinya.
I miss to you grandma because I can see my mom still alive on you. Love you.
Kebondanas, 02 Februari 2013
Abdul Hamid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar