Senin, 28 Januari 2013

I’m dreaming and universe conspire to make it happen.



            Akhir-akhir ini sering sekali mendapat pertanyaan seputar pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Pertanyaan yang diajukan mereka pun beragam, baru saja aku mendapat telfon dari seorang ibu yang menginginkan ankanya masuk ke kampus biru (UGM). Perbincangan lewat telfon berlangsung cukup lama, aku menjelaskan tentang kebijakan baru kampus serta hal yang terkait dengan seleksi penerimaan. Aku sangat bersyukur sekali tergabung dalam pers mahasiswa Universitas yang membuatku lebih peka tentang kebijakan kampus. Hal itu memudahkanku dalam menjawab pertanyaan beberapa orang tua dan teman tentang kampusku.
            Baiklah, sekarang aku sudah menjadi mahasiswa semester tiga di universitas yang pernah kuimpikan empat tahun lalu. Pertanyaan dari beberapa orang dan harapan yang besar dari beberapa teman yang ingin masuk ke UGM termasuk adikku yang selalu ku motivasi untuk eliminating the limits dan percaya pada impian. Ingat sebuah ungkapan You can if you think you can dan tentunya usaha dan doa adalah hal terpenting untuk menjadikan itu nyata. Momen-momen seperti ini mengingatkanku tentang perjuangan sebuah impian dan harapan beberapa tahun lalu. I believe in dreams and I believe in miracles.
Tentang sebuah kata yang kutempel di loker asrama.
            Tulislah apa yang menjadi keinginanmu, agar apa yang kau impikan tidak lewat begitu saja, agar ia menjadi cahaya yang akan selalu menghidupi semangatmu untuk meraih mimpi-mimpimu. Setidaknya itulah kata-kata yang pernah kudengar dari seorang motivator. Tulisanku yang ke 140 ini memang bercerita tentang impianku masuk ke perguruan tinggi favoritku, salah satu universitas yang dimimpikan oleh ribuan anak bangsa di negeri ini. I’m an inspirator freak itulah julukan yang kusematkan padaku. Aku selalu iri pada temanku yang berhasil mewujudkan impiannya. Secara tidak sadar mereka adalah invisible energizer for me.
            Kehidupan asrama yang kujalani selama menjadi seorang santri, memberi warna tersendiri bagi hidupku. Terpisah jarak yang sangat jauh dengan orang tua, kerinduan memang menjadi masalah besar ketika awal-awal menjadi santri. As time goes by semua masalah bisa ter cover dengan baik. Bersyukur aku ditempatkan disebuah asrama yang selalu membuatku untuk terus belajar dan menjadi lebih baik, tinggal satu kamar dengan teman-teman yang luar biasa. Kita selalu berbicara tentang masa depan, sebuah masa dimana semuanya akan menjadi lebih baik.
            Aku masih ingat detail kisah kehidupanku selama menjadi santri, detail kisah tentang sebuah kata yang kutempel di loker asrama. Aku sudah mempunyai rencana kemana aku harus melanjutkan perkuliahanku sejak awal menjadi santri. Keinginanku saat itu adalah aku akan melanjutkan study ke Universitas Gadjah Mada. Dan ku buat rangkaian kata tersebut dengan serius, aku buat tulisan universitas dengan busa, tujuannya agar tahan lama. Dan akhirnya jadilah sebuah tulisan yang menjadi penyemangatku “UGM” setiap kali membuka lemari. Aku masih ingat teman sekamarku sangat mendukungku dan mereka juga ikut mendoaakan. Thanks God.
            I have failed and regreted for many times, my tears are can’t be stopped sometimes. And so mony accountable strugle in reaching my dreams. When happiness, Sadness, worriness, fearness are melt together into a good collaboratian and be a harmoni in my life. I enjoy every single step that I took. I’m loving throughout my life and I have dealt with my self to sacrifice for the dreams that I have made.
            Saat ini everythings becomes real, aku menjadi Mahasiswa di sebuah universitas yang dulu pernah kuinginkan. I realize when we believe in dream, the universe will conspire to make it happen. Live your dream. !
           
            Abdul Hamid
Santri pondok pesantren Krapyak Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar