Senin, 31 Desember 2012

ini yang akan ku perjuangkan di 2013 (catatan akhir 2012))

Manusia hanya bisa merencanakan, Allah yang menentukan !

       Malam tahun baru di kota yogyakarta diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak sore, dan dari pagi berselancar di dunia maya lewat twitter dan facebook banyak yang berdoa, intinya agar hujan cepat reda. disisi lain ada yang mengharapkan semoga hujan turun sampai pagi. entah sudah berapa ratus tweet yang kubaca tentang permohonan itu. well, entah itu hujan atau tidak bagiku tak ada masalah. selebrasi yang dilakukan kebanyakan orang seperti menghitung mundur waktu menuju tahun baru atau meniup trompet tak pernah kulakukan. dari tahun ke tahun aku hanya memaknai tahun baru untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. kumatikan TV dan akupun berdoa bersama rinai hujan untuk esok yang lebih baik. aku sudah membuat sebuah Resolusi ditahun mendatang.
       Ngomong-ngomong masalah Resolusi, mungkin kita sering mendengar kata yang sangat familiar khususya menjelang tahun baru. dari komen dan kultweet yang kubaca juga banyak yang membahas tentang resolusi. resolusi merupakan tujuan yang ingin kita capai dimasa yang akan datang. banyak cara membuat resolusi yang dibuat agar mudah diingat, kalau tahun 2012 aku membuat dalam bentuk vision board. namun kali ini aku buat dalam bentuk soft file. semoga saja dapat memberi contoh bagi yang bingung dengan resolusi di tahun 2013.    
            masih berkaitan dengan Resolusi, pagi tadi aku juga menyaksikan tayangan show favorit, apalagi kalau bukan 8-11show, ada sesi diskusi yang menarik yang membahas tentang resolusi. yang kutangkap dari hasil diskusi antara Marissa Anita dengan seorang motivator adalah dalam menyusun sebuah resolusi kita harus mengetahui mana yang menjadi keinginan dan kebutuhan, bedakan antara keduanya. resolusi tidak perlu banyak-banyak namun berisi dan bagaimana kita mewujudkannya.

ini dia resolusiku di tahun 2013.

Kaleidoscope : 2012 is magic #2 (Last)

Hi readers. !
I'm back with my second kaleidoscope through pictures (ed. 2012 is magic). enjoy it... :)
this pictures are taken by my friend, when I touch ponorogo for the first time. it was great experience . enjoying ponorogo in three days are never get enough for me. soon I'll be back there.

this is it. when I joining International cultural camp in Bandung, West Java.  what a great experience at that time. meet up with young generations from Indonesia, Russia, China, Vietnam, German, Ittaly, Taiwan, Czech Republic, Uzbekistan, United Kingdom. :)

My first Conference as an AIESECer in Jakarta. Indonesian Youth Leadership Conference was amazing. I've to sacrifice my college time to join this conference. life is a choose. I feel satisfied to join this conference leaving jogja for 5 days and live in jakarta. 

Gallusia : I join this organization in 2011, curently I still being Redaction at this org. this organization move on publishing and journalist in specific things (Animal Science). I enjoy to participate in this organization which base on my faculty.

When Sunday come out. I take my bike and ride across village in bantul. nothing can make me more refresh except  doing this habit. visiting traditional market, taste the food, doing some crazy act just like at the picture.

My new family Talent Management AIESEC OE UGM. yeah.. with : Ivo, Hani, Ivy, Nina, Bobob, Tika, Patrick, Aziz, Me and Aldio (Right to left). Hi AIESEC !

This is it, The sweetest moment for me in 2012. gathering with my family only felt by me once a year. you are the reason for me to survive and you are my big motivator in my life. love you.

Kaleidoscope : 2012 is magic #1



Suatu pagi di tanah harapan..

Hari ini adalah hari ke 365 di tahun 2012, dipenghujung tahun ini banyak stasiun TV yang memberikan ringkasan berita selama setahun yang disebut kaleidoskop, bukan hanya stasiun TV saja namun hampir setiap orang membuat kisah balik kehidupan mereka, baik dalam bentuk foto ataupun tulisan. Termasuk aku. Thanks to the God, dipenghujung tahun ini masih bisa menghirup segarnya udara pagi, merasakan hangatnya mentari dan selalu berada didekapan keluarga dan sahabat yang menginspirasi.
Tahun 2012 beberapa jam lagi akan berakhir, di pojok-pojok kota sudah berjejer rapih pedagang trompet dan atribut lainnya yang biasa digunakan pada malam puncak perayaan tahun baru, perayaan malam tahun baru kali ini ada yang mengajakku untuk naik gunung, bakar-bakaran dan beberapa tawaran lain dari organisasi yang kuikuti serta dari beberapa kawan. Sejujurnya aku lebih nyaman sendiri dan membuat malam lebih  berarti dengan berdoa dan membuat resolusi, itulah kebiasaanku di malam tahun baru. Berkontempelasi.
Dua ribu dua belas is magic, banyak kisah dan kejadian yang unik, menguras tenaga, memilukan, memalukan. I’ll never forget every single day in this magic year. Bukan berlebihan bila tahun ini aku mengatakan  begitu banyak pelajaran kehidupan yang kudapat, pelajaran kehidupan yang nantinya akan sangat berguna bagi masa depan. Pelajaran yang kudapat tidak hanya dibangku perkuliahan namun lain dari pada itu aku belajar lewat orang-orang yang kutemui di bis ketika berangkat ke kampus, sahabat baru dan orang-orang besar yang kutemui selama mengikuti conference, para santri di asrama dan tentunya sang ayah yang selalu mengajariku tentang arti kehidupan dari perbincangan dan sms yang beliau kirim, aku tahu ayah menyampaikannya secara tersirat.

Semoga menginspirasi seumur hidup.

            Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Proses pembelajaran kehidupan dan pendewasaanpu berlanjut, sekarang hampir satu setengah tahun untuk pengabdianku di almamater yang memberiku banyak kesempatan untuk belajar dan terus belajar, di almamater yang telah mengajarkanku untuk berani bermimpi dan mewujudkannya. Tak pernah terfikirkan bahwa saat ini aku menjadi pembimbing bagi adik-adikku yang masih duduk di bangku MA di almamater tercinta, dengan berbekal ilmu seadanya aku menajalani hidup berasrama dengan mereka. Layaknya menjadi seorang teman bagi mereka dan menjadi tempat curhat dan berbagi. Menjalin silaturahmi dan jaringan kepada orang tua mereka yang datang dari penjuru negeri ini. Mereka luar biasa.
            Hidup satu atap dengan ratusan murid dan menjadi saksi proses kesuksesan mereka merupakan hal yang sangat kusukai, menjadi pelayan dan jembatan bagi mereka dalam meraih impian. Bukankah hidup untuk melayani dan dilayani, aku banyak belajar dari mereka tentang semangat dan kesederhanaan. Belajar kesabaran dan kegigihan secara tidak langsung. Proses pembelajaran ikhlas disinilah prakteknya. Bersama pembimbing lainnya mencoba menjadi pelayan terbaik. Hal yang tidak kusukai ternyata kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidupku.
            Sebagai manusia normal, terkadang tekanan menjalni ini semua begitu kuat baik dari dalam maupun luar. Mengapa aku harus menikmati masa mudaku seperti ini ? mengapa aku harus menguras tenaga dan fikiranku untuk hal seprti ini ? bukankah hidup mengurusi diri sendiri dan fokus pada cita-cita akan lebih baik ? ya,, itulah pertanyaan yang selalu muncul dihadapanku. Dan aku hanya bisa curhat pada ayah dan sahabat, sekali lagi ada yang mendukungku untuk meninggalkan hal yang kulakukan saat ini. Namun harus kukatakan magnet disini terlalu kuat. Aku berusaha menikmati setiap proses kehidupan yang kujalani, karena menjadi pembimbing tidak semudah yang kupikir ada perasaan yang harus dikorbankan. Namun inilah proses pembelajaran hidup yang luar biasa. Aku pernah menolak menajalani ini semua namun pada akhirnya rencana tuhan memang yang terbaik.
            Layaknya perlaukan yang diberikan seorang kakak kepada adiknya, seorang senior kepada juniornya, seorang ayah dan ibu kepada anaknya, guru kepada muridnya. Setiap pagi dengan beberapa teman yang luar biasa membangunkan para santri untuk memulai aktifitas mereka dipagi hari pukul 4, Sekali lagi aku menikmati peran ini. Bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik. Sejak menjalani ini semua sudah 30 orang anak yang aku tangani secara intens, akupun belajar banyak dari mereka mungkin saja mereka tak menyadarinya.
            Barangkali ini yang dapat kulakukan untuk bangsaku, beusaha menjadi pendidik yang baik dan semoga saja menginspirasi.

Tentang Impian dan asmara.

A man with dream is a man with power, I’m a dreamer geek since i know how beautiful it is. Dream is not only about dream but it how to make it real, then you will know how amazing your life if you have dream.
Aku masih ingat ketika awal-awal tahun 2012, aku membuat vision board dan kutuliskan impianku disana, begitu banyak impian yang ingin kucapai pada tahun ini, namun sekali lagi mimpi itu bagaimana kita mewujudkannya. Tentunya banyak impian yang sudah tercapai namun ada beberapa yang belum bisa dicapai tahun ini. Insyaallah tahun depan.
I don’t have any comment about relationship, it same with a few yaers ago.



Sabtu, 29 Desember 2012

Thailand !

sumber foto : dehoneytravel.com
ini adalah tulisan gue yang ke 126 sejak mengaktifkan diri di blog di akhir januari, yeah,, ini adalah resolusi gue di tahun 2012 yaitu punya blog dan gue mencoba selalu update. halo pembaca setia, gue tahu siapa saja yang paling sering buka blog gue. dulu gue punya blog tapi jarang di update dan sekarang enyah entah kemana. well, judul tulisan gue kali ini adalah Thailand. ada apa dengan thailand simak ceritanya hehehe.
berawal dari nge-klik sebuah link tentang pertukaran budaya Indonesia-Thailand dari seorang temen di jakarta, akhirnya gue apply buat jadi participant, gue yakin banget keterima, kalo emang gak keterima gue juga gak bakal galau. oh iya nama programnya ILFRIP. padahal waktu ngirim form pendaftaran perjuangannya lumayan berat, secara, saat itu gue pulang kampung yang jauh di mato. modem smart gue gak bisa berkutik disana, akhirnya gue ngandelin modem tetangga yang sungguh baik hati. gue harus nyecan surat persetujuan orang tua ke rumah tetangga, ya sekali lagi gue ngandelin tetangga gue. hehe. banyak kejadian yang di sensor. gue baru ngirim form 3 jam sebelum ditutup pendaftaran. bagi gue itu tragis banget. setelah beberapa saat akhirnya selesai juga semua urusan termasuk essai yang hanya diselesaikan beberapa jam saja. emang the power of kepepet itu ngefek banget. (ntar gue lampirin di akhir tulisan).
setelah kembali ke jogja dan mengikuti perkuliahan seperti biasa, gue dapat email buat seleksi wawancara, alhamdulillah banget tempatnya masih di area kampus. perasaan gue menggebu-gebu tapi gak terlalu menggebu-gebu haha, sulit menjelaskan dengan kata-kata. gue nyiapin materi wawancara dengan sebaik mungkin, gue gak mau gagal lagi di WAWANCARA. Gue punya pengalaman buruk pas di wawancara, waktu itu gue gagal hanya karena wawancara buat seleksi pertukaran pelajar ke USA padahal seleksi tulis gue lolos, loe tahukan betapa sakit dan jatuhnya gue saat itu, gue down se down-downnya gue. setelah itu gue belajar trik-trik wawancara mulai dari internet sampe kepada sang ahli. dan sekarang gue menjadi expert kalo di wawancara. 
hari wawancarapun tiba, setelah mengikuti perkuliahan yang sangat menyenangkan langsung deh gue ke TKP. ini kok wawancara pada serius amat ada yang bawa perabotan masak,  ini serius. gue aja sama sahabat gue cuma bawa diri. hehe. gue menjawab pertanyaan dengan serius dan sangat  meyakinkan dan mereka begitu terpukau ketika melihat bakat gue yang luar biasa (kalo ini berlebihan), gue beruntung banget pernah belajar tari melayu dan ini sangat bermanfaat banget ketika wawancara. dengan gerakan yang kaku banget, gue melenggak-lenggok dihadapan interviewer.
hari yang ditunggupun tiba, gue lolos ILFRIP men, gue bakal ke Thailand. tapi entah mengapa gue gak begitu bahagia, dengan alasan yang gak bisa gue ungkapin disini gue cancel keberangkatan gue ke Bangkok, ini adalah keputusan yang menyedihkan bagi gue sejujurnya. gue pernah menuliskan resolusi di awal tahun 2012 bahwa gue akan ke luar negeri bulan november tahun ini, dan ketika saatnya datang Allah belum membrikan izin ke gue untuk berangkat. sekali lagi manusia hanya bisa merencanakan Tuhanlah yang menentukan. dan gue masih pengen ke Thailand tahun 2013. hal yang gue kejar adalah mengikuti pertuakaran mahasiswa karena fakultas gue menjalin kerjasama dengan sebuah universitas di Thailand, kalo ini masih ada hubungannya dengan ilmu yang gue tekuni saat ini yaitu Animal Science and Industry. gue akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan kesempatan ini. selain itu gue juga bisa sekalian berkunjung ke Singapore ama KL. wish, I'll fight to reach my dream.
dan seperti janji gue diatas, gue bakal nge-share essai yang gue buat secara singkat pas seleksi ILFRIP. 

Unity in Diversity
Abdul Hamid
Faculty of Animal Science
Gadjah Mada University, Indonesia

Culture could be define as ldentity of a group or even nation, scale of culture are very large such as language, dance, food and beverage, heritage, traditional dress, Religion, etc. In Indonesia culture has an important place in society  as identity and for nation aswell, just like Javaness, malay, Balliness they have their identity through dance, dress, language. So they can give mark of each culture.
            Difference not only bring negative effect for society, differences are such as blessing for the people if we could learn and understand it well, therefore it could be creat good understanding of culture. Nowdays alot of crash on behalf of culture in society such as different skin color, language, and it could be as source of crash it self.  is not only in Indonesia but also arround the world, that’s why we need to learn and understand of our and other culture.  one of goals cultural understanding is reducing and loosing violence on behalf of culture on this earth. Many ways to give cultural understanding in society for example :
1.    Youth Exchange, send delegates young generation as ambossador of culture to other country and learn about their culture for example Indonesia and Thailand, after all finished all of youth ambassador must responsible on what their learn, they have to share their knowledge to their friends and society.
2.    Doing exhebition in international event, it could be the way for foreigners to understand culture of a country.
3.    Conference of culture. It could be the way to introduce and spread cultural understanding.
In a simple life we know about cultural shock, perhaps we ever feel this moment. How’s your feeling ? cultural shock is a simple example as the effect if we are not understand others culture, sometimes it make as laugh and sometimes it make as angry. For example Generally in Indonesia sometimes we saw people eat on the bus, we know it as ussual act. When someone from indonesia go abroad in Australia and she got big meal on the bus, people arround her will always see her and they thought it is an awkward think. If it happend on your self, what will you do.? Run is immposible because you on the bus, so you will have a big shy. The effect if we don’t understand about other culture will be so scare war on behalf of troop and it became sadnees of the world, sometimes when we watch the TV we can see the war on behalf of culture and it sometimes make some people die. Many more example of cultural missunderstanding which could bring small and big effect. We know about “different pond different fish” every nation and country has their own uniqueness and mark, for example when we go to thailand we can easy to found Tom yam as thailand food or Rendang in indonesia which became most delicious food in this world.
            We can not deny, if cultural understanding is very important for all people, differnt place, nation has different culture. If sometime we get change to study in other country we have to learn about culture of country that we choose, we have to learn from the language, how to live, how to give graeting to the people. It’s look like simple think but if we can’t know it well, will be harm for ourself. It could be the way reduce little conflict because we have know it.
            Let’s imagine, we live in global era where no boundaries between people arround the world. we can easy to connect and learn with them who far away from us, such people in europe, asia, amerika, afrika, australia only used by internet. It such the world in our hand. It mean the chance for us to learn about culture is very large, we can use social media such as facebook or twitter to promote or learn our and other culture, it is amazing isn’t ? if we are really use it as good as we can. And than let’s imagine again if the good facilities that world has, can not make us grow up it mean that we are fail to face the global world. we just using technology for fun not for learn. As time goes by we will addict and we wil forget to learn our culture. Indonesia and Thailand has same trouble in young generation. The anthusiastic of youth is less to learn culture. So sadness. In this case as young generation we have to smart to use technology. Technology could be usefull for people to learn culture from arround the world if we wise to use it and could be broke the culture if we can’t use it wisely.
            Indonesia and Thailand has special relations, both of are founder and member of ASEAN (association of south east asian nation), but propinquity of them can not guarrente that their relations always in good condition. In this condition Indonesia and Thailand should be more learn each other through culture to make it closer and more closer. As we know culture is really sensitive in our society. Goverment in this case Indonesia and thailand should be active in cultural understading through Education program, cultural summit.etc.
            As a young generation, I am part of development of my country. As student I’ve to spread my knowledge to develop my  society and the important think I have responsible to keep my culture whereever I am. World with great in diversity (culture) is a unit which can not seperated from anything, world with culture are unit which must live together. Culture should not make people live in the box but culture should be learn and understanding by other to creat world in harmony, no more war on behalf of troop, no more cultural  missunderstanding  which harm the people. and culture should be agent for people arround the world for live unity in diversity.

Minggu, 23 Desember 2012

Let's inspire the world

suasana hotel begitu riuh dengan suara-suara para peserta konferensi beberapa minggu lalu, aku asyik mengobrol dengan seorang wanita yang baru saja kukenal beberapa jam lalu, ia begitu sederhana dan selalu memakai pakaian yang elegan, usianya lebih tua dariku setahun namun pengalaman dan prestasinya memang luar biasa. selain sebagai mahasiswi yang berprestasi di jurusan yang diambilnya (Marine enginering), seorang entrepreneur, an engginer, an aiesecer. sharing yang berlalu beberapa jam tidak terasa berlalu begitu cepat. aku masih saja terkagum-kagum dengan prestasi dan pencapainnya, dia akan pergi ke jepang untuk menerima penghargaan karena hasil penelitiannya. 
ketika gala dinner, dia memperlihatkan foto-foto saat berada di taiwan, singapore, thailand. ohh.. anda luar biasa kawan. memang untuk mencapai sesuatu tidak mudah ada proses yang harus dilalui. ketika masih menjadi pelajar dia juga berjualan untuk menambah uang jajan. ketika kita tidak pernah gagal kita tidak akan pernah belajar, hadapi kegagalan sebagai suatu proses yang indah untuk hasil yang lebih baik, inilah salah satu contoh yang pernah kusebutkan dalam judul tulisan beberapa hari lau "when you have little you became creative". 
kupandangi langit jakarta yang saat itu begitu cerah, gedung-gedung tinggi dengan lampu-lampu kota berpadu membingkai keindahan malam dari hotel yang kutempati, aku merenung, dengan merenung terkadang membuatku lebih tenang. malam ini aku bebas menikmati keindahan malam jakarta, hanya diam dan memikirkan pelajaran kehidupan yang baru saja kudapat. pertanyaan itu muncul, apa yang membuatmu tidak bisa seperti mereka ? aku menarik nafas berkali-kali. aku bisa pasti aku bisa, yah aku bisa suatu saat nanti. pikiranku sedikit tenang. hingga aku terlelap dalam mimpi dibawah langit jakarta.










Sabtu, 22 Desember 2012

I'm at the payphone for the last time.

you still alive in my heart..
Happy Mothers day. :)

ku masih bisa mendengar suara merdumu bunda, tiga tahun lalu
setiap minggu aku sempatkan untuk menelfonmu di wartel di depan pondok, karena mendengar suaramu aku menjadi lebih kuat untuk perjuangan ini, bunda. kita terakhir bertemu saat perpisahan pergi ke jogja, dan aku tak pernah terfikir olehku itulah terakhir kalinyaku mencium tanganmu. selebihnya kita selalu berbincang dan membagi mimpiku di wartel depan pondok. aku terlalu rapuh untuk merindumu bunda. merindumu yang hidup berlainan dimensi, aku terlalu rapuh untuk mengenang memori bersamamu. hingga mataku tak mampu membohongi kerinduanku padamu. aku menangis rindu, bunda.
bunda, kini aku sudah terbiasa tanpa nasihatmu. wartel didepan pondok pun sudah jarang ku kunjungi, kesibukanku terkadang dapat melepaskan rindu hanya untuk sementara. hanya ada fotomu diatas lemariku yang setiap hari menyemangatiku untuk mewujudkan mimpi yang pernah kubagi beberapa tahun lalu. maafkan aku bila mengunjungi pusaramu hanya setahun sekali, maafkan aku yang tak bisa mengantarmu ke pintu gerbang kehidupan barumu, maafkan aku yang belum sempat memberi kata terakhir untukmu, tak bisa menemanimu disaat terakhir, berada disampingmu saat terakhir. maafkan aku yang belum pernah bisa membuatmu bahagia, maafkan aku yang terkadang masih merepotkanmu, membantah perintahmu, maafkan aku bila membuatmu kecewa, membuatmu menangis, maafkan aku yang tak pernah mengucapkan selamat hari ibu, bunda. you still alive in my heart.
bunda, terimakasih telah mendidikku dengan berbeda, telah mengajariku banyak tentang kehidupan, telah menginspirasiku lewat perbuatanmu, telah menemaniku untuk mulai bermimpi untuk kehidupan lebih baik, mengajari bahasa dunia yang terkadang tak pernah kupahami. ku tahu bunda, marahmu adalah caramu untuk menunjukkan betapa cintanya dirimu padaku. selamat hari ibu, you are super awsome mom !

Minggu, 16 Desember 2012

Sabtu, 15 Desember 2012

History of Life


Menjadi transmigran
Oleh :
Abdul Hamid

Aku terlahir dari orang tua yang keduanya berdarah jawa, aku hidup bertahun-tahun dengan menggunakan bahasa jawa, sebelum aku mengenal bahasa indonesia ketika pertama kali masuk sekolah dasar,  aku hidup ditengah-tengah kumpulan orang-orang jawa di daerah Riau. Aku pun terlahir di bumi lancang kuning 19 tahun lalu itulah mengapa beberapa orang menyebutku pujakusuma alias putra jawa kelahiran sumatra. Menjadi transmigran adalah judul tulisanku yang bercerita tentang keluargaku yang berusaha untuk memiliki kehidupan yang lebih baik diluar pulau jawa.
Berawal dari zaman orde baru.
            Transmigrasi adalah program yang dicetuskan oleh pemerintah di zaman orde baru dengan presidennya soeharto. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mengurangi tingkat kepadatan penduduk yang berada di pulau jawa. Transmigrasi juga memberi kesempatan lapangan pekerjaan bagi yang mengikuti program ini. Saat ayah dan ibuku ikut transmigrasi aku belum lahir waktu itu tahun 1988. Aku hanya mendapatkan cerita perjuangan dan semangat beliau ketika kumpul di runag keluarga dan di meja makan, beliau selalu menceritakan perjuangan ketika pertama kali mengikuti program transmigrasi. sungguh semangat beliau memang sangat luar biasa.
            Inilah tanah harapan yang akan menjadi penopang kehidupan keluargaku dan menjadi tanah impian bagi anak-anak ku kelak itulah ketika pertamakali ayah menginjakkan kaki di daerah transmigrasi dimana pada saat itu belum ada listrik, jalanan selalu berlumpur saat hujan, banyak semak disana-sini dan hanya ada rumah kayu dengan tiga kamar, jarak antar rumah pun sedikit berjauhan, ancaman binatang buas. Pertamakali datang ke Riau ia sendiri sedangkan ibu masih tinggal di Subang (jawa barat), selama itu pula ayah selalu pulang pergi Riau - Subang aku tidak tahu bagaimana kondisi transportasi saat itu, mungkin akan menelan waktu seminggu untuk perjalanan ke Subang.
            Setelah tahun ketiga ayah mengajak ibu dan kakakku untuk pindah ke Riau, memang sebuah keputusan berat untuk meninggalkan kampung halam yang telah mendarah daging untuk waktu yang entah sampai kapan, saat itu tahun 1991 aku belum lahir. Ibu adalah anak tertua dari sebelas bersaudara yang ada dikeluarganya, beliau hanya sekolah sampai kelas lima sekolah dasar namun beliau adalah seorang pembelajar, beliau selalu menyempatkan membaca buku disela-sela mengasuh kakak-kakakku atau di waktu senggang, mengikuti kegiatan ibu-ibu di kampung. Beliau adalah wanita yang kuat dan darah pejuangnya mengalir dalam dirinya, itulah mengapa ayah meminangnya menjadi istri.
            Untuk merintis sesuatu memang sulit, namun jika tekad sudah bulat apapun rintangannya akan selalu diatasi dengan baik. Memulai kehidupan baru di daerah yang asing bagi ayah dan ibu memang harus dilalui dengan penuh kesabaran, saat masih tinggal di jawa rumah selalu diterangi oleh lampu namun kondisi yang dihadapi saat itu rumah hanya diterangi dengan damar (lampu minyak) kadang-kadang petromak. Belum lagi ancaman binatang buas, maklumlah area transmigrasi dikelilingi oleh hutan.  Setiap keluarga mendapatkan lahan untuk digarap, saat itu ayah banyak menanam jenis sayur di area sekitar rumah sebelum akhirnya berubah menjadi perkebunan sawit.
Merangkai kampung membangun impian.
            Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk karakter dan moral manusia, pendidikan pula yang akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik. Itulah yang disadari bersama oleh para transmigran sehingga dibangunlah madrasah dan masjid. Ayah termasuk sebagai penggagas. Dengan modal ilmu kepesantrenan dan ijasah SLTA serta pengalaman ketika masih hidup di Subang ayah diangkat menjadi kepala madrasah dan dewan pembina masjid untuk periode hampir 10 tahun. Dan hingga saat ini masjid di desa semakin besar dan madrasah menjadi luas dan memiliki ratusan murid.
            Semua anak yang ada di desa diwajibkan untuk belajar di madrasah, tak terkecuali aku. Aku belajar banyak disini dimulai dari hanya sekedar ikut-ikutan belajar istilah saat itu jadi anak bawang hingga aku menyelesaikan madrasah. di pagi hari aku pergi ke sekolah negeri di desa tetangga dan selanjutnya aku melanjutkan belajar di madrasah.
            Lain lagi dengan ibu yang aktif di pengajian ibu-ibu setiap minggu, tempatnya bergiliran dari rumah satu ke rumah lainnya. Biasanya ketika ibu mendapat giliran ia selalu membuatkan hidangan nasi kuning untuk ibu-ibu pengajian. Sedangkan untuk anak-anak perempuan ada pengajian juga yang diadakan pada malam minggu, ketika kakak perempuanku mendapat giliran ibu selalu membuatkan bubur kacang hijau, sementara untuk kegiatan ayah yaitu membaca surat yasin setiap malam jum’at khusus bagi laki-laki. Aku selalu dipaksa ayah untuk mengikuti kegiatan di kampung. Inilah salah satu kegiatan di desaku yang menguatkan hubungan antar warga desa.
            Sinergi antara penduduk desa dan kesadaran bersama masyrakat merupakan kunci sukses dari sebuah pembangunan. Itulah yang disadari bersama oleh penduduk transmigran di desaku. Suasana desaku semakin ramai dan ramai dengan kegiatan yang bersifat keagamaan maupun sosial. Inilah perubahan nyata yang dilakukan oleh ayah bersama warga transmigran lain untuk kehidupan yang lebih baik dan untuk kehidupan generasi penerus yang lebih baik.
Masalah itu pasti ada
             aku sekolah di sekolah dasar negri di desa tetangga yang  mayoritas adalah penduduk asli, mereka menggunakan bahasa melayu untuk kegiatan sehari-hari. Sejak kecil aku bermain bersama teman-teman satu desaku yang semuanya adalah para transmigran yang terlahir disini. Saat itu aku sudah lancar dengan menggunakan bahasa indonesia meski terkadang ada kata jawa yang masih terbawa. Di sekolah aku selalu berkumpul dengan teman-teman dari desaku. Aku belum berani untuk bergabung dengan teman-teman yang belum pernah aku kenal atau sekedar mengajak berkenalan, saat itu aku belum berani.
            Masalah itu pasti ada tinggal bagaimana kita menyikapinya. Sebagai keluarga transmigran yang  notabenya adalah pendatang di sekolah aku sering mendapat perlakuan yang kurang menyengkan dari beberapa teman penduduk asli. Biasanya mereka menyebutku dengan istilah “dasar budak jawa” (dasar anak jawa) meski aku terlahir disini.  mereka mengumpatku dengan bahasa mereka yang  pada saat itu aku belum tahu artinya. Tapi lama kelamaan aku bisa bergabung dengan mereka bisa memahami bahasa yang mereka ucapkan, terkadang aku juga menggunakan bahasa melayu ketika berbicara dengan mereka dan akupun pernah belajar tari melayu yang luar biasa. Itu semua terjadi karena aku selalu belajar dan memahami apa yang mereka inginkan.
            Ditingkat kehidupan antar desa peran tokoh masyarakat sangat ampuh dalam menyelesaikan permasalahan, sehingga masalah sepele tidak menjadi besar dan tidak sampai menimbulkan peperangan apalagi sampai menghilangkan nyawa seseorang. Peran tokoh masyarakat dan perangkat desa menjadi center dalam mengatasi masalah yang ada di masyarakat, jangan sampai ada keberpihakan pada anggota kelompok tertentu yang mengakibatkan perpecahan. Seperti yang terjadi saat ini dibeberapa daerah di indonesia. Karena peran tokoh desa dan masyarakat kini sudah tidak ada sekat antara penduduk desa asli dengan para transmigran semuanya bersatu dan saling menguatkan.
            Masalah ekonomi merupakan masalah yang hampir dialami oleh seluruh warga transmigran, termasuk ayah dan ibu. Ketika aku masih berumur tiga tahun ayah menjadi penjual  kain kemudian  setelah beberapa tahun aku sering melihat angkutan truk yang berisi orang-orang desa yang akan bekerja di proyek perkebunan, aku juga sering diajak ke pasar oleh ibu menggunakan mobil bak terbuka yang jaraknya berkilo-kilo sepanjang jalan aku hanya melihat hutan yang masih lebat dan hijau, sesekali ada gerombolan monyet yang menyebrang ke jalan, pemandangan hijaunya hutan menjadi pemandangan yang indah saat itu.
            Pada tahun 1999 merupakan tahun pemekeran kabupaten, daerahku dahulu masuk kedalam wilayah kabupaten Kampar namun setelah pemekaran pada tahun tersebut kini menjadi kabupaten Pelalawan Riau. Saat itu banyak kampanye dari partai-partai aku hanya ikut-ikutan saja dengan temanku karena biasanya banyak pedagang pada waktu kampanye. Aku belum mengetahui tentang politik, dirumahku banyak sekali baju-baju partai lengkap dengan segala atributnya, ternyata ayah terjun ke dunia politik. Beliau menjadi anggota DPRD angkatan pertama di kabupaten baru. Ayah harus berangkat kerja pagi sekali karena jarak dari rumah ke kabupaten kota jaraknya dua jam kini ayah semakin sibuk dengan urusannya disamping masih menjabat sebagai kepala madrasah dan takmir masjid.
            Aku senang sekali jika ayah pulang dari kantor, beliau selalu membawa koran dan buku-buku yang bisa dibaca sekeluarga, kebanyakan buku yang dibeli ayah adalah buku-buku tentang melayu seperti bukunya Tenas Efendy budayawan melayu terkenal “Tunjuk ajar melayu”, tenun melayu riau dan masih banyak lagi yang lainnya. Aku semakin memahami budaya melayu. Aku juga diberi pakaian tradisional melayu oleh ayahku. Suatu ketika ada perwakilan dari KUA kecamatan datang ke rumah menemui ayah dan ibu yang intinya meminta kesediaan menjadi perwakilan kecamatan dalam pemilihan keluarga sakinah tingkat kabupaten. Ayah dan ibu menyanggupi permintaan tersebut hingga akhirnya menempati harapan satu dari sepuluh peserta yang mewakili setiap kecamatan. Aku masih ingat ibu datang sendirian ketika menerima penghargaan karena saat itu ayah sedang bertugas keluar kota. Aku bangga dengan mereka.
Berubah 180 derajat.
            sekarang sudah hampir seperempat abad keluargaku menjadi transmigran bersama warga lainnya, banyak perubahan besar yang terjadi mulai dari pembangunan masyarakat serta pola pikir masyarakat yang berubah ke arah hal yang positif. Sekarang hampir tidak ada rumah pemberian pemerintah ketika awal mengikuti program transmigrasi, listrik sudah masuk sampai ke pelosok desa, kondisi ini sangat berbeda dengan foto yang diperlihatkan ayah padaku. Semua itu merupakan jerih payah dan usaha dari para transmigran yang ingin memperbaiki kehidupan. Tidak ada yang singkat untuk mendapatkan sesuatu.
            Pendidikan merupakan kunci kesuksesan kehidupan, itulah yang disadari oleh warga di desaku mayoritas anak-anak di desa menamatkan pendidikan hingga bangku SMA ada yang melanjutkan ke universitas seperti aku, ada yang masuk pesantren di jawa. Ayah dan ibu merupakan orang yang sangat peduli dengan pendidikan anaknya meski pendidikan mereka tidak tinggi. Sekarang aku memiliki enam saudara dan aku anak nomer lima dua orang kakaku telah menamatkan sarjana dan aku serta ketiga orang kakaku sedang menempuh pendidikan di universitas, serta aku mempunyai adik yang tahun depan akan masuk ke perguruan tinggi negri. Karena sekali lagi ayah dan ibu percaya bahwa pendidikan akan menjanjikan kehidupan yang lebih baik.       
Menyelami luasnya budaya indonesia.
            aku adalah anak dari ayah dan ibu transmigran, aku lahir di bumi lancang kuning (Riau) aku adalah keturunan jawa yang hidup dengan kebudayaan melayu Riau, aku adalah perpaduan jawa dan melayu. Aku dulu sempat belajar tari melayu (zapin) dan kedua orang tuaku sangat mendukung dengan hal tersebut. Aku masih ingat apa yang beliau katakan dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Itulah yang ku pegang hingga saat ini.
            Sejak lulus dari SMP aku dikirim oleh ayah untuk belajar di kota Yogyakarta, aku sedikit kesulitan untuk berbicara bahasa jawa kromo, karena sangat berbeda dengan bahasa jawa yang kuucapkan setiap kali berada di rumah dan juga bahasa melayu yang selalu kupakai pada saat berbicara dengan ornag-orang melayu di daerahku. Ternyata tidak hanya aku hampir semua temanku yang berasal dari luar jawa merasa kesulitan. Tapi itu hanya butuh proses dan sekarang aku mulai sedikit paham tentang bahasa jawa kromo.
            Aku punya seorang sahabat ketika SMA di jogja, dia berasal dari provinsi yang sama denganku dan kedua orangtuanya juga seorang transmigran sukses. Terkadang kita saling bercerita bagaimana kisah awal keluarga ketika menjadi transmigran, aku selalu bercerita dengan semangat hasil dari cerita ayah dan ibu di meja makan dan ruang keluarga. Bagiku jogja adalah miniatur indonesia mini. Disini banyak sekali kutemukan orang dari berbagai latar belakang yang berbeda, aku punya banyak teman dari penjuru nusantara dan beberapa dari luar negeri. Inilah tempat yang luar biasa, disini aku bisa menyelami budaya indonesia lewat miniaturnya.
Kembali untuk mengabdi.
            aku teringat dengan sebuah penggalan lagu dari mantan bupati derahku, yang hingga saat ini mendekam di penjara karena kasus korupsi.
.....putera-puteri asli dari negeri
Yang kini jauh dirantau orang
Mari pulang, marilah kembali
Kita membangun negeri tercinta.
Aku sekarang kuliah di universitas Gadjah Mada mengambil jurusan Ilmu dan Industri Peternakan, aku memiliki alasan mengapa aku mengambil jurusan ini. Aku melihat begitu besar potensi peternakan di desa dan daerahku. Aku tidak melihat adanya peternakan di desa orang-orang hanya memelihara ayam dengan kandang dibelakang rumah. Aku ingin mengembangkan dan memberdayakan masyarakat desa dengan peternakan sapi. Dengan metode SISKA (sistem integrasi sapi dan kelapa sawit) dan teknolgi lainnya, ayah dan ibu adalah semangatku beliau pernah berpesan padaku : sejauh apapun kamu belajar suatu saat nanti kau harus kembali untuk mengabdi, kau harus kembali untuk membangun daerahmu.
Banyak sekali anak-anak di desaku yang belajar keluar daerah bahkan ada beberapa yang sekolah di luar negeri. Sebagai orang yang terlahir di daerah transmigran aku akan kembali untuk membangun daerahku bersama teman-teman yang sedang dalam proses belajar.
Hidup adalah pilihan dan hanya ada pilihan diambil atau ditinggalkan, jika saat itu ayah dan ibu tidak mengikuti program transmigrasi apakah aku bisa merasakan pendidikan hingga saat ini. Meski harus meninggalkan kehidupan di pulau jawa yang sudah lebih baik dalam hal prasarana yang membuat mobilitas lebih nyaman. Terkadang kita harus keluar dari zona nyaman untuk mencoba hal-hal baru yang menantang. Ayah dan ibuku telah memilih jalan hidupnya menjadi transmigran dan meninggalkan ,kehidupan di pulau jawa untuk memulai kehidupan baru dari nol, di negeri yang tak pernah terfikirkan. 

Selasa, 11 Desember 2012

when you have little you became creative !

         Rasanya, saya tidak menyesal mengikuti Indonesia Youth Leadership Conference 2012. meski harus meninggalkan beberapa jam kuliah serta waktu praktikum dan kegiatan asrama. this is the most waiting conference for new member Aiesec in Indonesia. termasuk saya yang telah menunggu tiga bulan untuk menjadi anggota Aiesec OE UGM, melalui proses dan tahapan yang panjang. tentunya proud to be an Aiesecer. 
          Bertemu dengan para pemuda luar biasa dari beberapa universitas besar di Indonesia dan pemuda yang memberi dampak positive bagi masayarakat, sesuai dengan tema IYLC 2012 tahun ini yaitu "Youth Impact". saya tidak akan menjelaskan jalannya conference secara detail. ada satu sesi yang membuat saya merasa tersetuntuh dan merasa berada pada zona high motivation yaitu sesi Alumni. saya lupa nama beliau karena tidak sempat mencatatnya di buku harian yang saya tahu beliau sangat luar biasa. beliau merupakan penggagas berdirinya Aiesec LC UB dan menjadi presiden pertama, beliau juga pernah bekerja untuk World Bank, mendapat beasiswa semasa menempuh pendidikannya dan beberapa prestasi lainnya. kondisi yang beliau alami sekarang sangat berbeda dengan kondisi beliau saat masih kecil. beliau harus bekerja sebagai penjual koran di jalanan, untuk mencapai impian memang harus berjuang.
          disaat-saat hujan beliau berteduh di emperan toko sambil membaca koran dan membolak-balik majalah, penjual koran memang seharusnya update informasi, menjadi penjual koran bisa menambah pengetahuan.bila kita kreatif menurut beliau. saya betul-betul memperhatikan detail cerita yang beliau sampaikan, bagaimana hingga akhirnya pendidikan menjadi eskalator menuju kehidupan yang lebih baik. kesuksesaan adalah milik mereka yang percaya dengan impian dan terus berusaha mewujudkannya. sekali lagi beliau bukan terlahir sebagai orang yang kaya, namun beliau mampu mentransformasikan kekurangan menjadi output yang luar biasa. when you have litle you became creative !
       

Senin, 03 Desember 2012

IYLC 2012

Hi lovely readers, i just wanna share what I've done in a week ago. I'm participating a conference which held by Aiesec Universitas Indonesia. took places in several buildings and entirely awesome, amazing and unforgetable. this is annualy program from Aiesec Indonesia and the participant only for new Aiesecer. actually i've been waiting for this great conference two weeks ago, meanwhile, I've to done all the tasks from my college before I went to this conference. here we are UGM delegates at the Indonesia Youth Leadership Conference 2012. "Youth Impact".

we just arrived at Gambir station and doing some narsism act. we are from Aiesec UGM  ready  to  participate the conference. 

These are UGM delegates (from left to right) : Tatya, Aam, Damar, Rury (our president), Ivo (the youngest delegate), Intan, Wilda, Me (smile over), Whinda and Haidar. at Bank of Indonesia.

break time after opening ceremony IYLC 2012. tasting some cakes and  slices of fruits.

Hi Aiesec...... We enjoying the break time

gather with Aiesec Undip

we've done the session : Indonesia Calling

can you recognize these person : at Carnival in Paris session (Jesunny Hotel)

still in carnival 

in front of Jogja Booth. at Smesco Building. prepare to Gala Diner and cultural exhebition.

The last session of Gala Diner. a few minute before we back to hotel.