Jumat, 10 Agustus 2012

Tentang sebuah benda bernama televisi


Tulisan ini merupakan cuplikan tentang kehidupanku di pedesaan yang saat itu belum teraliri listrik, jalan belum beraspal, sulit mencari signal handphone. aku hanya bisa tertawa mengenang masa-masa itu, masa dimana aku bebas menjadi diriku, masa dimana tak ada beban dalam pikiranku. aku menikmati kehidupanku berpetualang di lebatnya hutan Riau, menyusuri parit yang jernih, memancing di sungai berlari sejauh yang ku mau. aku begitu menikmati masa itu.
tentang sebuah benda bernama televisi sekali lagi ini mengingatkanku pada masa dimana aku hidup 12 tahun lalu. di desa tercintaku hanya beberapa orang saja yang memiliki TV sehingga jangan salah bila banyak sekali orang berjubel untuk menonton Tv, semacam menonton bioskop atau layar tancap boleh dibilang. sekali lagi aku ingin tertawa mengenang masa itu. pernah suatu ketika aku harus pulang dari rumah saudara temanku yang jaraknya sekitar 1 Km dari rumah transmigrasiku saat itu masih jam sembilan malam, tak ada penerangan dipinggir atau disudut jalan seperti yang terlihat saat ini. untuk melihat jalan saja rasanya sulit sekali, saat itu aku berjalan dengan menggunakan perasaanku. menembus gelapnya malam bergandengan tangan bersama adik dan kakak,,ya,, pada saat itu aku merasa bahagia dengan kondisiku. I love My life.
tentang tayangan favorit, saat itu aku suka sekali bermain perang-perangan, kerajaan. itu semua terinspirasi oleh film kolosal yang selalu tayang setiap minggu. saat itu aku hafal seluruh pemain, peran yang dibawakan para tokoh dari mulai protagonis, antagonis. dan tentunya jam tayang yang selalu kuingat. mungkin anda kenal dengan sosok Angling darma, mak lampir, nyi pelet. itulah yang sering kutonton pada saat itu, ahh terdengar sangat miris memang. memang saat itu aku belum memahami tayangan berkualitas.
perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, ia akan datang pada masanya. inilah kondisi kampungku saat ini. televisi bukan lagi barang mewah hampir disetiap rumah sudah tersedia, listrik sudah tersedia. aku berharap perubahan ini mengarah pada hal-hal yang positif untuk kemajuan dan kehidupan tanah kelahiranku menjadi lebih baik. I love my life

Hidup ini seperti thawaf

photo by : Gallusia crew magazine Judul tulisan  ini terinspirasi oleh buku tentang Pak Cacuk belajar tiada henti, dalam halaman pem...