Kamis, 31 Mei 2012

Peduli Tidak Harus Memberi


Judul diatas merupakan perkataan dosen saya yang saya tulis dalam note pribadi. dalam suatu mata kuliah community development beliau sangat bersemangat menjelaskan tentang materi perkuliahan yang kebetulan membahas masalah kemiskinan. 
berbicara masalah kemiskinan tentu bukan perkara mudah, sejak bangsa ini didirikan hingga saat ini kemiskinan merupakan masalah besar yang belum terselasaikan. kesmiskinan tidak hanya soal apakah seseorang bisa makan atau tidak tetapi lebih dari itu, sehingga banyak standar yang digunakan untuk mengukur kemiskinan, seperti misalnya BPS memiliki pandangan berbeda dengan FAO tentang standar  kemiskinan. tulisan saya ini menyoroti masalah kehidupan anak jalanan.
bisa dikatakan bahwa anak jalanan merupakan bagian dari orang yang dikategorikan miskin. lazim sekali ditemukan anak jalanan ataupu pengemis di Indonesia berbeda dengan negara-negara yang sudah memiliki kesejahteraan tinggi. bisa jadi indikator kemakmuran suatu negara adalah ketika sudah tidak ada lagi orang-orang yang menggantungkan hidupnya di jalan (pengemis,pemulung,dll).
peduli tidak harus memberi itulah perkataan dosen yang masih saya ingat dalam mata kuliah community development, setiap hari entah itu berangkat atau pulang ke kampus saya selalu menjumpai para gepeng (gelandangan dan pengemis) mulai dari anak-anak kecil sampai orang tua. cara mereka berbeda-beda dalam melakukan aksinya, saya pernah menjumpai seorang pemuda yang masih produktif mengetuk pintu mobil ketika dipemberhentian traffic light, pemuda itu berlagak seperti orang yang sedang kelaparan dengan mengeluarkan air ludahnya tetapi setelah tidak dikasih ada umpatan yang keluar dari mulutnya sama halnya dengan pengamen yang sering kujumpai ketika bus yang kunaiki berhenti di halte. belum lagi anak-anak yang harus bekerja ditengah teriknya matahari dengan membawa kain bekas di traffic light mengusap kendaraan orang-orang yang sedang berhenti lalu dengan muka yang memelas ia menengadahkan tangan seraya meminta kepada setiap pengguna jalan, sedangkan saat ini banyak dijumpai larangan memberi uang kepada pengemis dijalan (sekali lagi : peduli tidak harus memberi). ahh.. miris sekali melihat pemandangan ini They should enjoy their education
pada akhir perkuliahan dosen saya memberikan solusi tentang bagaimana seharusnya menangani anak jalanan. saat ini larangan mengenai pemberian uang kepada anjal belum tegas dan belum sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat maupun aparat saya pernah menjumpai di traffic light disana ada anjal sedang meminta-minta sedang disisi lain ada polisi yang sedang mengatur lalu lintas, lalu mengapa polisi itu tidak bertindak tegas terhadap anjal, dalam hal ini pemerintah sebagai center kekuasaan dan pembuat kebijakan harus tepat dan bertanggung jawab atas kebijakan yang telah dibuat. saat ini banyak organisasi yang fokus pada anak jalanan tetapi seolah-olah mereka hanya menjadi sinterklas dan tidak menjadikan mereka lebih berdaya. dalam teori pemberdayaan harusnya dalam menangani anjal menggunakan pendekatan yang berbasis pada partisipasi bukan kita yang melakukan segalanya untuk mereka tetapi mereka yang kita ajari untuk menjadi lebih berdaya. dengan menanamkan nilai-nilai kehidupan serta membekali dengan keahlian sehingga mereka menjadi lebih berdaya dan dapat menatap masa depan dengan baik.

Minggu, 27 Mei 2012

Gadjah Mada University Yogyakarta

Foto : Abdoel Collections

Balairung Building : the central office of  University, the Building designed by Soekarno (Founding Father) 

Grha Sabha Pramana : Main Auditorium of Gadjah Mada University

"sepeda kampus" : the program to create educopolis university and it used by citizen of Gadjah Mada as vehicle to connect each faculty inside.

Food Court : you can fill your stomach with varian food which is serve in this place, es buah, batagor, nasi padang, sate jamur, bakwan kawi, sup buah,, etc

"Masjid Kampus UGM" : let's pray first

The New University Library

My Faculty : Animal Science and Industry

Jumat, 18 Mei 2012

Belajar sambil Minum Susu

Long weekend juga akhirnya, berasa gimana gitu ? hehehe bisa sedikit lebih refresh meski nggak semua karena liburan ini aku ada project,,hiks,,hiks..temen satu kelompokku bilang perjuangan adalah komitmen, semoga saja project kita selesai sebelum hari senin paling tidak jika belum selesai sudah 60% lah..:).

tapi sebelum ngerjain project buat lomba enaknya minum susu dulu biar lebih mantap.. apalagi yang diminum susu kambing, susu kambing memiliki kandungan gizi lebih baik dari susu sapi. hari ini aku diajak liputan bersama majalah Gallusia fakultas Peternakan UGM langsung ke farm nya (fantastis banget kan, bisa melihat proses pembuatan susu secara langsung hehehehe...*berlebihan sedikit bolehlah). berangkat dari fakultas jam setengah sembilan langsung menuju ke jalan kaliurang KM 19,5 (lumayan capek juga duduk di atas motor sampe panas ni si jok aku dudukin..hihihi) setelah bermenit-menit akhirnya nyampe juga di tempat yang kita tuju..(akhirnya..) setelah melewati jalan kaliurang yang saat itu lagi panas + berlika-liku nya jalan pedesaan ( perjalannya lumayan enak..:)))
Suka Farm Peternakan Kambing Etawa tempat yang kita tuju akhirnya berada didepan mata. tidak bau prengus seperti kebanyakan kandang kambing, tempatnya juga lumayan bersih, memang untuk kambing perah perlakuannya harus beda dengan kambing-kambing yang bukan perah biar gak stres dan produksinya juga lancar. parah banget masa gue anak peternakan baru bisa ngelus kepala kambing etawa disini (parah..!!!) kambing-kambing etawa disini manutan gak kaya kambing etawa di kandang Fakultas..hehehe. yang lebih hebatnya lagi meski farm ini masih dalam skala kecil teatapi sudah banyak orang belajar dan berkunjung ke farm, tau nggak siapa ?
Farah Quinn bro... Chef yang biasa muncul dengan berpenampilan "segerr" di Tv (yang Holic nonton TV pastinya tau lah.. ) dan pernah diprotes oleh KPI karena pakaiannya yang kurang sopan pada salah satu acara (kok malah ngomongin mba Farah Quinn heheh...kebanayakan liat infotement kali ya)..gak nyangka banget pas aku lihat ternyata ada foto+ttd nya terpampang di Suka Farm, nggak cuma mba FQ aja yang pernah datang dari Tv Nasional seperti Trans 7 juga ada, di Farm ini juga menyediakan Field trip. di Suka Farm setiap kali ada yang berkunjung kita nulisisn kesan kita diatas "tampah" (boso jowone) terus dipampang deh diruang pamer (sudut-sudut strategis) kan lumayan bisa dibaca orang bahwa gue Hamid dan Gallusia Magazine pernah kesini dan minum susu kambing disini..hehehehe
bersama majalah Gallusia aku berbincang bareng langsung dengan pemilik Farm (belajar langsung sama ahlinya) selama proses diskusi aku hanya terdiam (lagi gak semangat bertanya) + pembahasannya udah tinggi (gila.. kaya diperkuliahan aja) udah bahas masalah jenis-jenis pakan (secara..gue belum dapat ilmunya di kampus) tapi gue bilang dalam hati (you are amazing..!!!). ntar kalau ada waktu aku share deh hasil diskusi + aku juga sempet ngrekam perbincangan..edisi kali ini bersifat curhatan aja ya..hehe :D 
nih aku kasih lihat foto-foto farm nya, biar gak penasaran.. Enjoy the Images
Ini dia... kandang kambing nya..:)

pertama kali lihat ginian : aneh,,, (harap maklum)

nah kalau yang ini,, tampah kenangan ada foto mba FQ, turis asing juga banyak, mahasiswa PKL juga ada :)

menunggu kehadiranmu (the owner of farm) with : Mb' Naim, Asri, Dp, Dane. Mas Reza, Bagas, Bre + temen seperjuangan Gall's 2012 @ Laras, Wulan

kondisi kandang yang tertata rapih.. ada koridornya juga lho.. keren toh :p

nih kambing yang buat di peres eh perah susunya kalau yang warna putih itu hasil persilangan..

OMG..ni Domba Gede Banget

Hi... ini kepala Domba (gambar sebelumnya) Josss.. "Black Is Strong" hehehe

Ruang Pengolahan Susu : udah kaya di Lab. aja bagi yang bekerja di dalam harus mandi dulu biar lebih steril

Ini dia yang di tunggu-tunggu (horeee..) susu kambing, selain susu kambing ada Froyo juga loh (Frozen Yoghurt) nih tak kasih daftar harga. Froyo Rp.5000. Susu kambing aneka rasa Rp.10.000. Murni Rp.12.500 (330 ml) yang berkualitas emang beda harganya :)



Hidup ini seperti thawaf

photo by : Gallusia crew magazine Judul tulisan  ini terinspirasi oleh buku tentang Pak Cacuk belajar tiada henti, dalam halaman pem...