Sabtu, 15 Desember 2012

History of Life


Menjadi transmigran
Oleh :
Abdul Hamid

Aku terlahir dari orang tua yang keduanya berdarah jawa, aku hidup bertahun-tahun dengan menggunakan bahasa jawa, sebelum aku mengenal bahasa indonesia ketika pertama kali masuk sekolah dasar,  aku hidup ditengah-tengah kumpulan orang-orang jawa di daerah Riau. Aku pun terlahir di bumi lancang kuning 19 tahun lalu itulah mengapa beberapa orang menyebutku pujakusuma alias putra jawa kelahiran sumatra. Menjadi transmigran adalah judul tulisanku yang bercerita tentang keluargaku yang berusaha untuk memiliki kehidupan yang lebih baik diluar pulau jawa.
Berawal dari zaman orde baru.
            Transmigrasi adalah program yang dicetuskan oleh pemerintah di zaman orde baru dengan presidennya soeharto. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mengurangi tingkat kepadatan penduduk yang berada di pulau jawa. Transmigrasi juga memberi kesempatan lapangan pekerjaan bagi yang mengikuti program ini. Saat ayah dan ibuku ikut transmigrasi aku belum lahir waktu itu tahun 1988. Aku hanya mendapatkan cerita perjuangan dan semangat beliau ketika kumpul di runag keluarga dan di meja makan, beliau selalu menceritakan perjuangan ketika pertama kali mengikuti program transmigrasi. sungguh semangat beliau memang sangat luar biasa.
            Inilah tanah harapan yang akan menjadi penopang kehidupan keluargaku dan menjadi tanah impian bagi anak-anak ku kelak itulah ketika pertamakali ayah menginjakkan kaki di daerah transmigrasi dimana pada saat itu belum ada listrik, jalanan selalu berlumpur saat hujan, banyak semak disana-sini dan hanya ada rumah kayu dengan tiga kamar, jarak antar rumah pun sedikit berjauhan, ancaman binatang buas. Pertamakali datang ke Riau ia sendiri sedangkan ibu masih tinggal di Subang (jawa barat), selama itu pula ayah selalu pulang pergi Riau - Subang aku tidak tahu bagaimana kondisi transportasi saat itu, mungkin akan menelan waktu seminggu untuk perjalanan ke Subang.
            Setelah tahun ketiga ayah mengajak ibu dan kakakku untuk pindah ke Riau, memang sebuah keputusan berat untuk meninggalkan kampung halam yang telah mendarah daging untuk waktu yang entah sampai kapan, saat itu tahun 1991 aku belum lahir. Ibu adalah anak tertua dari sebelas bersaudara yang ada dikeluarganya, beliau hanya sekolah sampai kelas lima sekolah dasar namun beliau adalah seorang pembelajar, beliau selalu menyempatkan membaca buku disela-sela mengasuh kakak-kakakku atau di waktu senggang, mengikuti kegiatan ibu-ibu di kampung. Beliau adalah wanita yang kuat dan darah pejuangnya mengalir dalam dirinya, itulah mengapa ayah meminangnya menjadi istri.
            Untuk merintis sesuatu memang sulit, namun jika tekad sudah bulat apapun rintangannya akan selalu diatasi dengan baik. Memulai kehidupan baru di daerah yang asing bagi ayah dan ibu memang harus dilalui dengan penuh kesabaran, saat masih tinggal di jawa rumah selalu diterangi oleh lampu namun kondisi yang dihadapi saat itu rumah hanya diterangi dengan damar (lampu minyak) kadang-kadang petromak. Belum lagi ancaman binatang buas, maklumlah area transmigrasi dikelilingi oleh hutan.  Setiap keluarga mendapatkan lahan untuk digarap, saat itu ayah banyak menanam jenis sayur di area sekitar rumah sebelum akhirnya berubah menjadi perkebunan sawit.
Merangkai kampung membangun impian.
            Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk karakter dan moral manusia, pendidikan pula yang akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik. Itulah yang disadari bersama oleh para transmigran sehingga dibangunlah madrasah dan masjid. Ayah termasuk sebagai penggagas. Dengan modal ilmu kepesantrenan dan ijasah SLTA serta pengalaman ketika masih hidup di Subang ayah diangkat menjadi kepala madrasah dan dewan pembina masjid untuk periode hampir 10 tahun. Dan hingga saat ini masjid di desa semakin besar dan madrasah menjadi luas dan memiliki ratusan murid.
            Semua anak yang ada di desa diwajibkan untuk belajar di madrasah, tak terkecuali aku. Aku belajar banyak disini dimulai dari hanya sekedar ikut-ikutan belajar istilah saat itu jadi anak bawang hingga aku menyelesaikan madrasah. di pagi hari aku pergi ke sekolah negeri di desa tetangga dan selanjutnya aku melanjutkan belajar di madrasah.
            Lain lagi dengan ibu yang aktif di pengajian ibu-ibu setiap minggu, tempatnya bergiliran dari rumah satu ke rumah lainnya. Biasanya ketika ibu mendapat giliran ia selalu membuatkan hidangan nasi kuning untuk ibu-ibu pengajian. Sedangkan untuk anak-anak perempuan ada pengajian juga yang diadakan pada malam minggu, ketika kakak perempuanku mendapat giliran ibu selalu membuatkan bubur kacang hijau, sementara untuk kegiatan ayah yaitu membaca surat yasin setiap malam jum’at khusus bagi laki-laki. Aku selalu dipaksa ayah untuk mengikuti kegiatan di kampung. Inilah salah satu kegiatan di desaku yang menguatkan hubungan antar warga desa.
            Sinergi antara penduduk desa dan kesadaran bersama masyrakat merupakan kunci sukses dari sebuah pembangunan. Itulah yang disadari bersama oleh penduduk transmigran di desaku. Suasana desaku semakin ramai dan ramai dengan kegiatan yang bersifat keagamaan maupun sosial. Inilah perubahan nyata yang dilakukan oleh ayah bersama warga transmigran lain untuk kehidupan yang lebih baik dan untuk kehidupan generasi penerus yang lebih baik.
Masalah itu pasti ada
             aku sekolah di sekolah dasar negri di desa tetangga yang  mayoritas adalah penduduk asli, mereka menggunakan bahasa melayu untuk kegiatan sehari-hari. Sejak kecil aku bermain bersama teman-teman satu desaku yang semuanya adalah para transmigran yang terlahir disini. Saat itu aku sudah lancar dengan menggunakan bahasa indonesia meski terkadang ada kata jawa yang masih terbawa. Di sekolah aku selalu berkumpul dengan teman-teman dari desaku. Aku belum berani untuk bergabung dengan teman-teman yang belum pernah aku kenal atau sekedar mengajak berkenalan, saat itu aku belum berani.
            Masalah itu pasti ada tinggal bagaimana kita menyikapinya. Sebagai keluarga transmigran yang  notabenya adalah pendatang di sekolah aku sering mendapat perlakuan yang kurang menyengkan dari beberapa teman penduduk asli. Biasanya mereka menyebutku dengan istilah “dasar budak jawa” (dasar anak jawa) meski aku terlahir disini.  mereka mengumpatku dengan bahasa mereka yang  pada saat itu aku belum tahu artinya. Tapi lama kelamaan aku bisa bergabung dengan mereka bisa memahami bahasa yang mereka ucapkan, terkadang aku juga menggunakan bahasa melayu ketika berbicara dengan mereka dan akupun pernah belajar tari melayu yang luar biasa. Itu semua terjadi karena aku selalu belajar dan memahami apa yang mereka inginkan.
            Ditingkat kehidupan antar desa peran tokoh masyarakat sangat ampuh dalam menyelesaikan permasalahan, sehingga masalah sepele tidak menjadi besar dan tidak sampai menimbulkan peperangan apalagi sampai menghilangkan nyawa seseorang. Peran tokoh masyarakat dan perangkat desa menjadi center dalam mengatasi masalah yang ada di masyarakat, jangan sampai ada keberpihakan pada anggota kelompok tertentu yang mengakibatkan perpecahan. Seperti yang terjadi saat ini dibeberapa daerah di indonesia. Karena peran tokoh desa dan masyarakat kini sudah tidak ada sekat antara penduduk desa asli dengan para transmigran semuanya bersatu dan saling menguatkan.
            Masalah ekonomi merupakan masalah yang hampir dialami oleh seluruh warga transmigran, termasuk ayah dan ibu. Ketika aku masih berumur tiga tahun ayah menjadi penjual  kain kemudian  setelah beberapa tahun aku sering melihat angkutan truk yang berisi orang-orang desa yang akan bekerja di proyek perkebunan, aku juga sering diajak ke pasar oleh ibu menggunakan mobil bak terbuka yang jaraknya berkilo-kilo sepanjang jalan aku hanya melihat hutan yang masih lebat dan hijau, sesekali ada gerombolan monyet yang menyebrang ke jalan, pemandangan hijaunya hutan menjadi pemandangan yang indah saat itu.
            Pada tahun 1999 merupakan tahun pemekeran kabupaten, daerahku dahulu masuk kedalam wilayah kabupaten Kampar namun setelah pemekaran pada tahun tersebut kini menjadi kabupaten Pelalawan Riau. Saat itu banyak kampanye dari partai-partai aku hanya ikut-ikutan saja dengan temanku karena biasanya banyak pedagang pada waktu kampanye. Aku belum mengetahui tentang politik, dirumahku banyak sekali baju-baju partai lengkap dengan segala atributnya, ternyata ayah terjun ke dunia politik. Beliau menjadi anggota DPRD angkatan pertama di kabupaten baru. Ayah harus berangkat kerja pagi sekali karena jarak dari rumah ke kabupaten kota jaraknya dua jam kini ayah semakin sibuk dengan urusannya disamping masih menjabat sebagai kepala madrasah dan takmir masjid.
            Aku senang sekali jika ayah pulang dari kantor, beliau selalu membawa koran dan buku-buku yang bisa dibaca sekeluarga, kebanyakan buku yang dibeli ayah adalah buku-buku tentang melayu seperti bukunya Tenas Efendy budayawan melayu terkenal “Tunjuk ajar melayu”, tenun melayu riau dan masih banyak lagi yang lainnya. Aku semakin memahami budaya melayu. Aku juga diberi pakaian tradisional melayu oleh ayahku. Suatu ketika ada perwakilan dari KUA kecamatan datang ke rumah menemui ayah dan ibu yang intinya meminta kesediaan menjadi perwakilan kecamatan dalam pemilihan keluarga sakinah tingkat kabupaten. Ayah dan ibu menyanggupi permintaan tersebut hingga akhirnya menempati harapan satu dari sepuluh peserta yang mewakili setiap kecamatan. Aku masih ingat ibu datang sendirian ketika menerima penghargaan karena saat itu ayah sedang bertugas keluar kota. Aku bangga dengan mereka.
Berubah 180 derajat.
            sekarang sudah hampir seperempat abad keluargaku menjadi transmigran bersama warga lainnya, banyak perubahan besar yang terjadi mulai dari pembangunan masyarakat serta pola pikir masyarakat yang berubah ke arah hal yang positif. Sekarang hampir tidak ada rumah pemberian pemerintah ketika awal mengikuti program transmigrasi, listrik sudah masuk sampai ke pelosok desa, kondisi ini sangat berbeda dengan foto yang diperlihatkan ayah padaku. Semua itu merupakan jerih payah dan usaha dari para transmigran yang ingin memperbaiki kehidupan. Tidak ada yang singkat untuk mendapatkan sesuatu.
            Pendidikan merupakan kunci kesuksesan kehidupan, itulah yang disadari oleh warga di desaku mayoritas anak-anak di desa menamatkan pendidikan hingga bangku SMA ada yang melanjutkan ke universitas seperti aku, ada yang masuk pesantren di jawa. Ayah dan ibu merupakan orang yang sangat peduli dengan pendidikan anaknya meski pendidikan mereka tidak tinggi. Sekarang aku memiliki enam saudara dan aku anak nomer lima dua orang kakaku telah menamatkan sarjana dan aku serta ketiga orang kakaku sedang menempuh pendidikan di universitas, serta aku mempunyai adik yang tahun depan akan masuk ke perguruan tinggi negri. Karena sekali lagi ayah dan ibu percaya bahwa pendidikan akan menjanjikan kehidupan yang lebih baik.       
Menyelami luasnya budaya indonesia.
            aku adalah anak dari ayah dan ibu transmigran, aku lahir di bumi lancang kuning (Riau) aku adalah keturunan jawa yang hidup dengan kebudayaan melayu Riau, aku adalah perpaduan jawa dan melayu. Aku dulu sempat belajar tari melayu (zapin) dan kedua orang tuaku sangat mendukung dengan hal tersebut. Aku masih ingat apa yang beliau katakan dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Itulah yang ku pegang hingga saat ini.
            Sejak lulus dari SMP aku dikirim oleh ayah untuk belajar di kota Yogyakarta, aku sedikit kesulitan untuk berbicara bahasa jawa kromo, karena sangat berbeda dengan bahasa jawa yang kuucapkan setiap kali berada di rumah dan juga bahasa melayu yang selalu kupakai pada saat berbicara dengan ornag-orang melayu di daerahku. Ternyata tidak hanya aku hampir semua temanku yang berasal dari luar jawa merasa kesulitan. Tapi itu hanya butuh proses dan sekarang aku mulai sedikit paham tentang bahasa jawa kromo.
            Aku punya seorang sahabat ketika SMA di jogja, dia berasal dari provinsi yang sama denganku dan kedua orangtuanya juga seorang transmigran sukses. Terkadang kita saling bercerita bagaimana kisah awal keluarga ketika menjadi transmigran, aku selalu bercerita dengan semangat hasil dari cerita ayah dan ibu di meja makan dan ruang keluarga. Bagiku jogja adalah miniatur indonesia mini. Disini banyak sekali kutemukan orang dari berbagai latar belakang yang berbeda, aku punya banyak teman dari penjuru nusantara dan beberapa dari luar negeri. Inilah tempat yang luar biasa, disini aku bisa menyelami budaya indonesia lewat miniaturnya.
Kembali untuk mengabdi.
            aku teringat dengan sebuah penggalan lagu dari mantan bupati derahku, yang hingga saat ini mendekam di penjara karena kasus korupsi.
.....putera-puteri asli dari negeri
Yang kini jauh dirantau orang
Mari pulang, marilah kembali
Kita membangun negeri tercinta.
Aku sekarang kuliah di universitas Gadjah Mada mengambil jurusan Ilmu dan Industri Peternakan, aku memiliki alasan mengapa aku mengambil jurusan ini. Aku melihat begitu besar potensi peternakan di desa dan daerahku. Aku tidak melihat adanya peternakan di desa orang-orang hanya memelihara ayam dengan kandang dibelakang rumah. Aku ingin mengembangkan dan memberdayakan masyarakat desa dengan peternakan sapi. Dengan metode SISKA (sistem integrasi sapi dan kelapa sawit) dan teknolgi lainnya, ayah dan ibu adalah semangatku beliau pernah berpesan padaku : sejauh apapun kamu belajar suatu saat nanti kau harus kembali untuk mengabdi, kau harus kembali untuk membangun daerahmu.
Banyak sekali anak-anak di desaku yang belajar keluar daerah bahkan ada beberapa yang sekolah di luar negeri. Sebagai orang yang terlahir di daerah transmigran aku akan kembali untuk membangun daerahku bersama teman-teman yang sedang dalam proses belajar.
Hidup adalah pilihan dan hanya ada pilihan diambil atau ditinggalkan, jika saat itu ayah dan ibu tidak mengikuti program transmigrasi apakah aku bisa merasakan pendidikan hingga saat ini. Meski harus meninggalkan kehidupan di pulau jawa yang sudah lebih baik dalam hal prasarana yang membuat mobilitas lebih nyaman. Terkadang kita harus keluar dari zona nyaman untuk mencoba hal-hal baru yang menantang. Ayah dan ibuku telah memilih jalan hidupnya menjadi transmigran dan meninggalkan ,kehidupan di pulau jawa untuk memulai kehidupan baru dari nol, di negeri yang tak pernah terfikirkan. 

1 komentar:

  1. Nice, kurasa kita telah memiliki kehidupan sendiri2 saat ini

    BalasHapus