Sabtu, 27 Oktober 2012

Milestone

hampir lima tahun aku merantau dari rumah untuk sebuah tujuan mulia, menghilangkan kebodohan. dan ini tidak akan ada akhirnya, kerinduan akan romansa masa lalu hanya menjadi semburat temaram di kehidupan yang ku jalani saat ini. selama hampir enam tahun meninggalkan kampung halaman begitu banyak skenario yang begitu membanggkan sekaligus memilukan, seperti itulah hidup. jauh nya jarak yang memisahkan aku dan keluarga membuatku harus merasa tegar dan selalu menguatkan diri pada setiap tekanan, tapi terkadang aku begitu rapuh untuk sebuah kerinduan. hingga aku harus berlama-lama di wartel pondok untuk menelpon ibu dan ayah sekedar untuk curhat, itulah kebanyakan bagi siswa baru yang hidup di asrama dan jauh dari orang tua. keluarga adalah alasan mengapa aku kuat menjalani perjuangan ini hingga sekarang aku duduk di bangku kuliah.
Ibu, ya terakhir kali ku mendengar suaranya hanya lewat telfon wartel 3 tahun lalu dan aku tidak percaya bahwa itu adalah suara terakhir. hingga di suatu jumat yang begitu muram bagiku aku mendapat kabar bahwa beliau sudah dipanggil Allah SWT. aku langsung terduduk lesu di depan gedung asrama berlantai lima yang kulihat semuanya basah dan buram, rasanya air mata ini sulit kubendung dan untuk hal ini aku tak bisa berpura-pura menguatkan diri, aku masih tertunduk dan menangis tak peduli banyak orang mengelilingiku. aku masih bisa mencium kedua tangan mu saat aku lulus madrasah tsanawiyah ketika perpisahan untuk pergi ke kota yang kudiami saat ini tepatnya lima tahun lalu, selebihnya kita hanya bicara lewat telfon wartel. dan aku tak bisa hadir dipemakamanmu hanya sekedar untuk melihat wajahmu yang terakhir dan mengiringimu sampai peristirahatan akhir. hanya foto mu yang sekarang terpampang di atas lemari dan pada wallpaper handphone, you are my everything.
Ayah, saat ini aku harus terbiasa mencurahkan masalahku pada beliau, beliau yang mengantar dan menemaniku dalam perjalanan panjang menuju pulau jawa, saat-saat melewati jalanan sumatera yang terasa begitu melelahkan menikmati masakan padang dihampir pemberhentian bus hingga momen menikmati sunrise diatas fery selat sunda, dan saat itu senyum ku merekah bahwa tanah harapan akan segera kuinjakkan, beliau sangat mendukung setiap keputusan yang kuambil tentunya apabila itu bertujuan ke hal yang positif. perjalanan ke jogja pun berhenti di subang keadaan beliau tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan ke jogja hingga akhirnya aku dijemput oleh kakakku. bangga memiliki ayah yang super seperti beliau, dan saat ini aku sudah sangat terbiasa untuk curhat dengan beliau, curhat tentang mimpi-mimpiku yang selalu beliau dukung.
segala sesuatu yang bernyawa di dunia ini suatu saat akan mati itulah ketetapan tuhan, ada yang harus pergi dan ditinggalkan meski terkadang perih, meski terkadang sakit tapi itulah hidup. dan aku menyadari semuanya bahwa tuhan telah memberikan kenikmatan yang luar biasa kepadaku, apalah arti duka bila kita percaya bahwa bahagia itu ada. ayah dan ibu serta keluarga adalah alasan mengapa aku kuat untuk perjuangan ini, bahwa mereka adalah pemberi semangat untuk menuju kesuksesan, yakin usaha sampai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar