Kamis, 20 September 2012

Semacam Curhatan tentang krapyak #1

Saalah satu sudut pondok pesantren krapyak


 (Waktu itu kelas satu MA ) Perkenalkan namaku Abdul Hamid asli Pelalawan. Seisi kelas bertanya-tanya dimana Pelalawan ? ustadzku bertanya lembut padaku dimana Pelalawan ? aku menjawab dengan polos Riau. Pelalawan adalah nama sebuah kabupaten di Provinsi Riau, pemekaran dari kabupaten Kampar pada tahun 1999. Tentang kabupatenku aku hampir tahu semuanya karena memang dirumah bapak punya buku tentang sejarah pembentukan kabupatenku, salah satu penggagas terbentuknya kabupaten pelalawan adalah Tennas Effendy beliau adalah budayawan Melayu Riau. Aku sangat mengangumi karya beliau yang menurutku luar biasa pantaslah ia dijuluki sebagai budayawan Melayu Riau. Judul buku yang paling ku ingat adalah Tunjuk ajar melayu yang berisi nasehat yang sangat luar biasa. Aku juga salah satu pengangum Bupatiku pernah suatu ketika beliau mampir di Masjid depan rumahku, menurutku beliau orang yang begitu kharismatik dan aku juga pernah membaca beberapa bukunya yang ku ingat adalah Merangkai Kampung membangun Negeri, dahulu beliau adalah ketua OSIS dan melanjutkan studinya di FH UGM, anak beliau juga ngampus di FH UGM. Tapi tahukah saat ini aku sangat tidak mengaguminya lagi. Saat ini sang Bupati lagi mendekam di penjara karena perbuatannya yang sangat ku benci dan mungkin perbuatan yang sangat dibenci penghuni alam ini. KORUPSI. Kembali ke kelas, tahukah mengapa aku selalu menyebutkan nama kabupaten ketika ditanya asal, bukankah menyebutkan provinsi lebih simpel. Mungkin agak terdengar sedikit konyol. Aku ingin ketika aku menyebutkan nama asalku mereka akan tahu semua tanpa harus bertanya berulang-ulang dan tanpa salah dalam mengucapkan asalku. Tapi ternyata persepsiku salah. Ketika temanku yang asli dari jawa, ketika dia berkenalan dan menyebutkan nama kabupatennya hampir semua tahu. Itulah kehidupan awalku di kota pelajar Yogyakarta.
Meski aku keturunan jawa aku masih butuh adaptasi untuk mengucapkan bahasa yang di dominasi O, aku selalu memakai bahasa Indonesia dalam keseharianku hingga setelah beberapa tahun selanjutnya logatku semacam kurang cocok dengan bahasa melayu. Hal yang pertama ku lihat adalah aneh karena aku baru pertama kali hidup di pesantren dengan hampir lima belas orang per kamar, aku juga merasa aneh ketika melihat proses pembelajaran di kelas yang masih menggunakan kapur, aneh ketika melihat orang makan dalam satu nampan hampir lima sampai enam orang dengan alasan kebersamaan, aku masih asing dengan kehidupan pesantren. Malam pertama aku di asrama aku selalu terbangun setiap tengah malam aku tidak begitu menikmati tidur di kamar, tapi seiring berjalannya waktu aku bisa beradaptasi dengan apa yang ada disini.
Belajar di pesantren adalah suatu keharusan dalam keluarga dan akupun menyanggupinya, masih ingat kata-kata bapak jika kamu mondok di jawa kamu akan kenal dengan orang seluruh Indonesia, jika kamu mondok di Riau kamu hanya kenal satu provinsi. Ternyata benar aku bisa kenal teman-teman dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara. Bila dilihat komposisi santri di pondokku mayoritas luar jogja.
Harus hidup dengan ratusan  orang dari latar belakang dan watak yang berbeda, semacam sedikit menantang, di kamarku terdiri dari berbagai daerah aku masih ingat sahabat sekamarku dimulai dari lemari deket pintu dia berasal dari bekasi utara, kediri, kebumen, lampung, pontianak, Banten. Moment yang paling tak terlupakan adalah ketika kami tidur bareng, ada temen dari jakarta yang hobinya curhat. Layaknya skenario film kehidupanku pertama di asrama seneng, sedih, ah rasanya sulit ku gambarkan. Krapyak adalah tanah harapan untuk meraih mimpi-mimpi, banyak orang besar yang lahir dari pesantren yang didirikan oleh KH. Muhammad Moenawir. Aku sendiri di Ali Maksum, terlalu panjang bila harus kuceritakan sejarah pondok ini.
Nama asrama ku adalah nama pangeran yang  sangat terkenal, Diponegoro. Aku mulai mencintai kehidupan baruku disini dengan rutinitas baruku antri makan setiap pagi, nyuci baju sendiri, antri mandi, setrika baju, tanpa Hp. Rasanya disini aku belajar kemandirian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar