Minggu, 20 Mei 2012

Refleksi



suatu senja : pantai pandansari Bantul  DI Yogyakarta

Seperti biasa layaknya pembimbing lainnya aku harus berusaha bangun lebih awal dari kebanyakan orang di Asramaku, tapi sadarkah bahwasaanya aku terkadang bosan dengan semua ini, jemuh dengan rutinitas bangun pagi yang ahh,,, sejujurnya aku ingin menikmati waktu lebih lama bersama selimut tebalku. Seminggu berlalu hingga sekarang sudah memasuki waktu tahun pertamaku bersama santri yang terkadang membuatku jatuh dan membuatku begitu bersemangat, itulah hidup yang harus ku jalani tak selamanya spirit itu mutlak ada pada diriku, Life is never flat kata orang-orang buatlah hidup ini indah, karena tuhan akan memberikan keindahan pada akhirnya apabila ikhlas dan sabar menjalani kehidupan ini.
Saya hanya berfikir mungkin ini balasan kepada saya , saya mempercayai karma maksudnya adalah apa yang kita lakukan pada zaman yang lalu akan mencerminkan kehidupan kita saat ini, kalau dulu saya membangkang terhadap perintah pembimbing saya sehingga saat ini ketika saya menjadi seorang pembimbingpun banyak anak yang membangkan perintah saya. Saya baru merasakan betapa sakitnya hati seorang guru apabila melihat anak didiknya berlaku kurang sopan, saya baru merasakan bahwa menjadi seorang pembimbing atau guru adalah hal yang sangat luar biasa, saya baru menyadari bahwa menjadi seorang guru atau pembimbing itu godaannya besar. Menjadi seperti mereka adalah hal yang sangat luar biasa butuh keistiqomahan tingkat dewa agar ia selalu menjadi panutan bagi para santri, butuh kesabaran yang sangat super untuk menjaga suasana hati agar tetap ikhlas dan terus berjuang, butuh tekad yang tinggi untuk bisa membagi waktu antara urusan pribadi dan urusan santri. Dan sekarang baru saya sadari bahwa begitu luar biasanya mereka.
Belajar bersabar, aku pernah bertanya pada seorang guru ketika itu aku masih kelas empat sekolah dasar. Pertanyaan yang lumrah tentang “sabar”. Ibu apakah sabar itu ada batasnya ? namanya ibu aisyah beliau menjawab : batasnya sabar adalah ketika kita sudah tidak mampu menahan emosi kita, sejujurnya jawaban itu yang saat ini nyaman dihatiku tentang apa itu sabar. Meski ada yang bilang bahwa sabar itu tidak ada batasnya, tapi sungguh aku lebih setuju pada jawaban ibu aisyah , terkesan lebih diplomatis.
Hingga saat ini aku menjadi seorang mahasiswa aku masih mencoba belajar bagaimana menjadi seorang yang memiliki kesabaran tinggi tapi aku yakin kemampuan kesabaran ku tidak akan sampai pada tingkatan dewa. Aku masih berusaha sabar menjadi seorang pembimbing di asrama, berinteraksi dengan generasi-generasi yang super untuk kemajuan bangsa dan agama mencoba berfikir positive tentang mereka, memfilter kata-kata yang kurang pas dari mereka dan ku anggap itu sebagai celotehan anak kecil dan ku anggap mereka khilaf. Karena sejujurnya ketika seseorang berusaha menjelakkan seseoarng atau mengacuhkan perintah kebaikan, nurani mereka menentang, hanya saja kita terlalu naif untuk mengakui itu semua.
Orang tuaku, guruku dan teman-teman seperjuanganku selalu mengajarkan kesabaran, sabar itu lebih baik bagimu. Karena didalam kesabaranmu ada rencana besar tuhan untukmu, bersabrlah dalam pengabdianmu, bersabarlah dalam pencarian ilmu, bersabarlah dalam menjalani kehidupan ini, bersabarlah karena sabar itu indah. Itulah kata-kata yang kudapatkan dari ayah ku ketika aku sharing kepada beliau tentang masalahku. You are my super dad.
Begitu banyak pahala yang ku sia-siakan karena ketidaksabaranku akan sesuatu. Ya Allah sabarkan aku dalam perjuangan ini, perjuangan untuk meraih ridho  di bumi cinta Mu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar