Selasa, 29 Mei 2012

Aku Seorang Mualaf

Seperti biasa setelah pulang dari kampus biasanya aku istirahat sejenak untuk menghilangkan penat, maklum jarak asrama dan kampus ku lumayan jauh. aku biasa membuka akun facebook atau email setelah kuliah maklumlah sekarang aku klebih sering online karena fasilitas dikamar asrama memang lengkap, salahsatunya hotspot. sekarang aku tak lagi harus pergi ke warnet dan mantengin komputer berjam-jam cukup dikamar sambil tidur-tiduran pun aku bisa, terimakasih ya Allah atas nikmat ini kadang hamba kurang bersyukur atas nikmat yang hamba dapatkan.
tapi inti dari cerita ini adalah bukan paragraf diatas, saya anggap itu sebagai prolog. berlebihan ? saya rasa tidak. ketika asyik berbincang dengan teman sekamar dan menunggu adzan magrib, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamar. ya,, ternyata seorang laki-laki tinggi putih sepertinya masih ada keturunan china, laki-laki itu datang ke kamar dengan salah seorang temanku. temanku bilang "ini dia kawan baru kita yang akan belajar bersama di pondok". waww sedikit kaget karena setelah kutanya laki-laki itu menjawab tiga puluh lima tahun. tapi ini memang tak bisa ditebak wajahnya mirip kebanyakan orang dibawah umur 22 tahun. ketika saya  rahasianya ? laki-laki itu menjawab : saya tidak "minum" dan merokok. ternyata dia seorang muallaf. sekali lagi "alhamdulillah ya Allah engkau telah memberikan hidayah kepada laki-laki ini" bahwa islam adalah agama yang benar. laki-laki itu menceritakan bagaimana kehidupannya sebelum masuk islam. dia telah mempunyai seorang istri (janda) ketika masih tinggal di USA,  dan laki-laki itu juga pandai meramu bumbu masakan.
sesuatu yang membuat hati saya bergetar, laki-laki itu ingin belajar dan mendalami Al-qur'an di pondok yang sekarang saya tempati semmentara. laki-laki itu begitu antusias untuk mempelajari islam dan aku menangkap ghirohnya sangat kuat sekali "masyaallah". laki-laki itu langsung mendata kebutuhan apa yang ia perlukan mulai dari buku-buku islam sampai perlengkapan yang akan digunakan selama menjadi santri di pondok yang saat ini kutempati sementara. 
tersadar, mungkin ini juga cara Allah mengingatkan kepada hambaNya melalaui seorang Muallaf, mengingatkan agar selalu belajar dan belajar. belajar tentang islam dengan baik, agar suatu saat nanti ilmu yang didapatkan akan dapat bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan orang lain. hal ini kembali membangkitkan semangatku untuk terus belajar islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar