Senin, 16 April 2012

I'm Hamid : memory of child time

 Suaraku tak cukup merdu untuk mengumandangkan adzan di kampungku, tapi tetap saja bapak menyuruhku untuk adzan di masjid setiap kali dzuhur dan waktu ashar tiba, kadang aku mengulur waktu untuk adzan agar  tidak memakai pengeras suara, sekali lagi suaraku tak cukup merdu untuk mengumandangkan adzan dikampungku bahkan tak jarang ada bagian adzan yang terlupa, bapak sangat ketat dalam masalah sholat sampai suatu ketika aku pernah dipukul ketika waktu subuh aku belum bangun, ma'af kan aku pak aku pernah bergumam " aku ingin seperti anak yang lain " yang bisa bebas bermain", terkadang aku mencoba pura-pura tidur agar tidak disuruh adzan tapi tetap saja bapak tahu, sekarang baru terasa kenangan itu, masa kecilku yang indah, terimakasih bapak telah membuatku berbeda dengan anak yang lainnya. bapak juga yang mengantarkan ku pada guru ngaji di kampungku, aku  masih ingat setiap sore sepulang dari MDA ( Madrasah Diniyah Awaliyah ) bersama kakak ku aku belajar ngaji waktu itu aku masih ngaji iqra lima, dan suatu ketika bapak datang ke tempat ngajiku dan mengabadikan momen itu lewat kamera dan sekarang foto itu masih ada di dalam amplop, amplop yang berisi foto aku, adikku, kakakku, bapak dan ibu. aku anggap itu sebagai foto kenangan dan foto perjuangan, karena kami adalah keluarga transmigran. sekali lagi terimakasih bapak telah membuatku berbeda dengan anak yang lainnya. 
ketika aku masih duduk di sekolah dasar, aku mendapat peringkat 20 sekali lagi bapak tidak marah dengan hasil raport ku yang buruk, bapak membebaskan aku untuk menonton tv waktu malam, tapi ketika menonton tv bapak selalu bilang "jangan lupa belajar" aku sering mendengar kata itu hampir setiap malam, namun anakmu ini terlalu bengal, ma'afkan aku bapak. cawu berikutnya aku mendapat peringkat 5 bapak bilang tingkatkan lagi belajarnya, hingga akhirnya aku menjadi lulusan terbaik di SD ku, terimakasih bapak telah mengajariku dengan cara yang berbeda.
setiap sore aku menyambangi temanku untuk pergi ke masjid dengan berpakaian ala melayu dipadu dengan kain songket, tapi aku dulu tak punya songket  sehingga aku hanya memakai sarung. kemudian bapak meminjamiku sandal, beliau bilang ini sandal melayu, aku semakin mantap saja menyambangi temanku, merekapun berdandan sama dengan ku, sehingga mirip parade budaya yang ada di tempatku. kami menuju masjid sambil menunggu imam dia adalah bapakku, aku bersholawat dengan lagu seadanya bersama temanku. terimaksih bapak kau telah mengajariku dengan cara yang berbeda.
         
       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar