Senin, 30 Januari 2012

The Show Must Go On

orang-orang biasa memanggil ku dengan sebutan yang simpel dul atau nama akhir hamid, aku merupakan anak ke lima dari enam bersaudara yang terlahir disebuah desa kecil di Riau, berdasarkan akta kelahiran saya dilahirkan pada hari minggu jam sembilan pagi 11 April 1993 . kemudian bapak dan ibuku memberi nama anaknya dengan nama abdul hamid yang artinya "hamba yang terpuji", mereka ingin anaknya menjadi anak yang dapat berguna bagi bangsa, agama dan negara, terlebih untuk membangun desa, desa Rawang Sari tempat dimana bapak dan ibu tinggal 24 tahun lalu hingga saat ini. bapak dan ibu selalu menceritakan perjuangan mereka ketika awal-awal mengikuti program pemerintah transmigrasi dengan usaha yang keras alhamdulillah kami masih bisa bertahan di tempat kami sekarang, beliau menceritakan itu kepada saya, kakak dan adik saya , tak lain adalah untuk memotivasi anak-anaknya agar tidak menjadi pribadi yang lemah. 
saya tidak pernah mengenyam pendidikan TK karena memang di desa saya tak ada TK, baru beberapa tahun kemaren dibangun sebuah TK di depan rumah, saya masih ingat ketika harus sekolah dasar ke desa sebelah, biasanya kami berangkat berdua dengan kakak perempuan saya, kami enam bersaudara, tiga laki-laki dan tiga perempuan, masih ingat sekali ketika pagi-pagi saya meminta uang jajan kepada ibu saya seribu rupiah masih dibagi dengan kakak perempuan saya.kemudian barulah pada kelas empat uang jajan saya naik menjadi seribu rupiah, saya begitu menikmati masa-masa kecil saya dengan cinta dan perhatian kedua orangtua, ketika SD saya paling takut adalah pelajaran kesenian, karena setiap kali pelajaran pasti menyanyi, sedangkan saya pada saat itu tak ada lagu yang dihafal, pernah suatu ketika bersama sahabat saya dipanggil di depan kelas untuk menyanyi, tetapi kami hanya diam hingga membuat guru itu marah dan memukul betisku dengan penggaris hingga memerah, aku lulus di SD ku dengan predikat terbaik. selain SD dipagi hari, bapak dan ibu memperhatikan pendidikan agama terhadap anak-anaknya aku masih harus sekolah MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) di sore hari dan mengaji qur'an setelah sholat magrib, begitulah keseharianku selama SD, dan ketika aku lulus SD aku juga lulus MDA dengan predikat terbaik.

 Tradisi Yang Selalu di Jaga

bapak dan ibu adalah orang yang sangat memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya, aku masih ingat dengan kata-kata bapak di sore/siang hari, sudahkah anda sholat ? bapak juga yang selalu menyuruhku untuk adzan setiap kali waktu sholat tiba, terkadang aku iri dengan teman-temanku mengapa mereka begitu bebas untuk bermain, tapi aku sadar bapak dan ibu selalu memberikan hal terbaik bagi anaknya, ketika lulus SD saya ingin melanjutkan studi bersama teman saya di Pondok Modern Gontor, tetapi mungkin karena ekonomi yang kurang sehat aku di sekolahkan di MTs, dimana Bapak sebagai kepela sekolah, di MTs aku menjadi salah satu siswa yang aktif dan berprestasi, aku selalu masuk deretan terbaik disekolah hingga aku mendapat beasiswa gratis spp, dulu aku pernah bermimpi untuk mengangkat trophi juara kemudian Allah mengabulkan do'a ku, aku menjadi juara pidato bahasa inggris tiga kecamatan dua kali serta menjuari lomba Morse enam kecamatan, saat itu aku senang sekali bisa mengangkat trophi juara, aku juga pernah ikut MTQ kabupaten dua kali, meski hanya sebagai peserta, tapi saya senang sekali, kebiasaanku setiap kali mendapatkan hadiah uang lomba aku selalu memberikannya kepada ibu. ketika lulus MTs aku juga menjadi salah satu siswa terbaik di MTs Yapimu Genduang, aku ingin melanjutkan sekolah di SMA tapi bapak dan ibu kurang setuju, bapak bilang, tradisi keluarga harus tetap dijaga, kakak-kakak mu juga disekolahkan di pondok pesantren, kini giliranmu, saat itu aku hanya ikut saja perintah bapak dan ibu, aku tahu ini adalah jalan terbaik, aku bangga pada ibu dan bapak karena beliau selalu memperhatikan pendidikan agama, mereka memberikan kebebasan kepadaku untuk menentukan jalan hidupku, tapi hal yang harus di ingat dimanapun kamu berada kamu harus ngaji atau tinggal di pesantren.

Hidup bukan untuk di sesali

inilah dunia baruku hidup di pondok pesantren, memang ini tidak asing bagiku karena memang dulu bapak pernah tinggal di pesantren cukup lama, sehingga beliau sering menceritakan kehidupannya dulu di pesantren. aku mencoba bertahan hidup jauh dari orang tua, ku jalani hari-hariku bersama teman-teman dan ustad-ustad yang selalu memberi semangat dan motivasi, saat ku tulis ini aku telah lulus MA dan masih tetap tinggal di pondok, Pondok Pesantren krapyak Yogyakarta Yayasan Ali Maksum dan diberi kesempatan untuk membimbing adik-adik kelasku, memang kehidupan di pondok sangat berbeda dengan kehidupanku sebelumnya, tak ada waktu untuk bersenang-senang keseharianku selalu di sibukkan dengan belajar dan kegiatan ekstrakurikuler, alhmdulillah aku menjadi salah satu siswa berprestasi disini, aku selalu ranking dikelas, serta menjuarai beberapa perlombaan seperti lomba pidato bahasa inggris tingkat pon-pes se DIY, lomba debat bahasa inggris, lomba baca puisi, ekonomi islam, dll. dan sering di utus oleh sekolah maupun pondok dalam berbagai acara, saya menikmati itu semua.
ada kalanya kita berada di atas dan kadang kita berada pada posisi titik terendah, ketika ituaku  menangis di depan asramaku aku masih ingat, hari itu adalah hari jum'at, aku mendapat kabar bahwa ibu telah berpulang ke rahmatullah, aku merasa saat itu aku berada pada titik terendah, seketika pandanganku kosong, semangatku hilang, aku hanya menangis, saat itu aku tak bisa pulang untuk menemui jasadmu yang terbujur kaku, tetapi disini aku selalu mendoakanmu di setiap waktu dan dalam sholatku, tetapi aku berpikir untuk apa larut dalam kesedihan, aku harus bangkit karena hidup bukan untuk di sesali dan di tangisi.
setelah tiga tahun di pondok, aku juga termasuk siswa berprestasi, aku diterima di universitas gadjah mada yogyakarta, dan saat ini aku menjadi pembimbing di almater ku dulu, mendidik para calon pemimpin bangsa aku ingin mereka menjadi orang yang hebat dan aku ingin melihat mereka selalu tersenyum.

The Show Must Go On

Allah Swt selalu bersama hamba-hambanya yang sabar dan selalu berusaha, masih banyak hal-hal yang belum aku lakukan untuk membangun bangsa dan agama. masalah bukan untuk di hindari tetapi untuk di selesaikan, because the show must go on, keep spirit !!! kita bisa 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar